Sabtu, 28 Mei 2011
BUKU KE-2
Akhirnya lahirlah antologi kumcer ke 2 , Happy Yummy.. Lumayan cepat proses terbitnya dibanding naskah ŷanğ kutunggu lainnya.
Ini adalah proyek keroyokan dengan beberapa teman dan tetep digawangi mbak cantik Riawany Elita.
Bahagia campur haru rasanya, apalagi sudah ada pemesannya, plus tanda tangan pula...
Hwaa... seru ternyata..!! ^.^
Sudah terpublish.
Rasanya bahagia bercampur deg-degan. ªku takut membayangkan tanggapan teman2ku apalagi guru2ku...
Bagaimana mereka menilaiku??
ªku ingin meyakinkan mereka, ªku akan berusaha lebih baik lagi.. ªku tak akan mengecewakan mereka, orang2 ŷanğ berjasa dalam hidupku..
Bapak/Ibu, saudara2ku, Suami, Anak, Guru2 dan teman2ku...
ªku sedang terbangun dari mimpi panjangku, keluar dari istana mungilku, sekedar merasakan nikmatnya angin ŷanğ menyapaku..
Trimakasih Ayah... Karena kesabaranmu, ªku mendapatkan kesempatan ŷanğ panjang menunda setrikaan, cucian,mengepel dan menjadi pelanggan delivery order..
Duuh... Kalau saja Ayah sedikit galak, Mama nggak akan sempat menghasilkan sebuah karya..
Trimakasih buat anakku, kau adalah sumber inspirasi Mama..keunikanmu, menjadi sebuah tulisan-tulisan indah, membuat semangat Mama bertambah, ingin menjadi ibu terbaik buatmu.
Pernah terlontar, dirimu ingin mempunyai Mama ŷanğ bukan hanya seorang ibu rumah tangga.. Kepolosanmu membangunkan Mama..
Trimakasih buat semua supporterku.. Kalian membuatku tersadar, bahwa namaku masih jelas dalam ingatan kalian.. ªku akan berusaha memperjelasnya.."Hay.. Ini ªku.."
Sebuah tuntutan kecil ŷanğ harus ªku penuhi..
Segarnya angin di luar istana mungilku, membawaku ke ingatan masa lalu...
Ayah.. Ijinkan Mama menuliskannya..
Kelak bisa menjadi sebuah cerita indah untuk anak kita..
Trimakasih... ªku akan menggenggam bahagia saat ini..dihati..
Happy Yummy
Penulis: Riawani Elyta, dkk, Kategori: Kumpulan Cerpen
ISBN: 978-602-9079-75-3
Terbit: Mei 2011
Tebal: 153 halaman
Harga: Rp. 35.400,00
Deskripsi:
“Martabak Kinoy”, plang nama berwarna warni mencolok itu tergantung dibawah lampu neon. Nama yang barusan hendak ia tinggalkan, namun mendadak menyergapnya dalam gegap yang gemuruh, hingga tak kuasa lamunannya mengangkasa selama beberapa detik sampai akhirnya keributan sesaat itu terjadi. Bodoh. Bathinnya merutuk. Hanya dalam hitungan detik, namun keliaran itu nyaris saja memadamkan eksistensi jiwa-raganya yang memang telah separuh mati.
********
Martabak Kinoy, bersama empat belas cerpen lainnya yang termuat didalam antology ini membuktikan pada kita semua, bahwa eksistensi makanan telah mengalami lompatan besar dari semula yang hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasar, kini telah menjelma menjadi sumber inspirasi yang tak akan pernah kering untuk digali. Kita akan menemukan kehadiran berbagai ragam kuliner khas tanah air dalam bentuk fiksi yang dibalut dalam nuansa optimisme, cinta, bahkan konflik kehidupan didalam setiap lembarnya.
Jumat, 20 Mei 2011
Cita - Cita
"Aku besok mau jadi KoKi aja dah Ma.." Duuh masih tetep sama cita2nya.
Ada rasa was2 ketakutan kalau memang itu yang diinginkannya, apa kata orang nanti, anakku yang mamanya selalu juara, ayahnya seorang QS proyek proyek besar dan hampir menjadi PM, dua duanya sarjana Teknik, mempunyai anak satu2nya yang hanya bercita2 menjadi seorang KoKi..
Dalam hati aku hanya berharap itu hanya bentuk ungkapannya mengatasi sekian banyaknya cita2 yang menumpuk di list otaknya..setahuku, Pemadam Kebakaran, Arsitek, Profesor, Arkeolog Dinosaurus dan tulang, Astronout, punya rumah buku, drumer dan Penemu bermacam2 mobil modern, mesin modern dan baru semalam kudengar adalah chip kunci hotel untuk kamarnya sendiri, dia sudah membikinnya dari kertas, paswordnya masih kuingat 4580, cardnya dari parking card Novotel Lampung.
Pagi ini sambil sarapan nasi dan telor dadarnya dia merubah mimpinya semalam kembali ke cita2nya pertama kali seorang "KoKi".
Masih sambil makan diambilnya pilok biru, dia gambar denah warung makannya kelak, aku hanya menambahkan sedikit masukan, warungnya harus berada diatas kolam pancing.
Teringat rumah bukunya, drum barunya, dia menambahkan entertaint live music di rumah makan impiannya, berikut sudut mungil perpustakaannya.
"Ada sepuluh pegawainya, kasir, tukang catat menu, tukang saji, 2 koki dan yang membantu. Mama , Ayah dan Caca gantian juga menjadi kokinya, kan Mama dan Ayah juga hoby masak ? ", matanya berbinar sambil mengenakan sepatu sekolahnya.
"Aku bosnya, Ayah bagian membayari pegawainya, Mama kasirnya..".
"Ayo cepetan, ntar lagi dijemput lho sayang.. ", nanti disusun sekalian menu yang mau dijual ya, pulang sekolah aja..", jawabku ikut merapikan rambutnya.
"Pistolnya yang berantakan kapan mau diberesin say ?, keburu ilang lagi mur dan bautnya lho ..", celetukku mengingatkan.
"Iya ya, belum mbongkar staplesnya juga, kok bisa isinya keluar sendiri begitu ? ".
"Tuh dijemput.. Do'a dan hati2 ya..".
"Iya Mama, Assalammu'alaikum.."
"Waalaikum salam..".
Nafasku panjang sembari bersyukur.. Apapun yang menjadi cita citamu kelak Mama hanya bisa mendo'akanmu yang terbaik...
Ada rasa was2 ketakutan kalau memang itu yang diinginkannya, apa kata orang nanti, anakku yang mamanya selalu juara, ayahnya seorang QS proyek proyek besar dan hampir menjadi PM, dua duanya sarjana Teknik, mempunyai anak satu2nya yang hanya bercita2 menjadi seorang KoKi..
Dalam hati aku hanya berharap itu hanya bentuk ungkapannya mengatasi sekian banyaknya cita2 yang menumpuk di list otaknya..setahuku, Pemadam Kebakaran, Arsitek, Profesor, Arkeolog Dinosaurus dan tulang, Astronout, punya rumah buku, drumer dan Penemu bermacam2 mobil modern, mesin modern dan baru semalam kudengar adalah chip kunci hotel untuk kamarnya sendiri, dia sudah membikinnya dari kertas, paswordnya masih kuingat 4580, cardnya dari parking card Novotel Lampung.
Pagi ini sambil sarapan nasi dan telor dadarnya dia merubah mimpinya semalam kembali ke cita2nya pertama kali seorang "KoKi".
Masih sambil makan diambilnya pilok biru, dia gambar denah warung makannya kelak, aku hanya menambahkan sedikit masukan, warungnya harus berada diatas kolam pancing.
Teringat rumah bukunya, drum barunya, dia menambahkan entertaint live music di rumah makan impiannya, berikut sudut mungil perpustakaannya.
"Ada sepuluh pegawainya, kasir, tukang catat menu, tukang saji, 2 koki dan yang membantu. Mama , Ayah dan Caca gantian juga menjadi kokinya, kan Mama dan Ayah juga hoby masak ? ", matanya berbinar sambil mengenakan sepatu sekolahnya.
"Aku bosnya, Ayah bagian membayari pegawainya, Mama kasirnya..".
"Ayo cepetan, ntar lagi dijemput lho sayang.. ", nanti disusun sekalian menu yang mau dijual ya, pulang sekolah aja..", jawabku ikut merapikan rambutnya.
"Pistolnya yang berantakan kapan mau diberesin say ?, keburu ilang lagi mur dan bautnya lho ..", celetukku mengingatkan.
"Iya ya, belum mbongkar staplesnya juga, kok bisa isinya keluar sendiri begitu ? ".
"Tuh dijemput.. Do'a dan hati2 ya..".
"Iya Mama, Assalammu'alaikum.."
"Waalaikum salam..".
Nafasku panjang sembari bersyukur.. Apapun yang menjadi cita citamu kelak Mama hanya bisa mendo'akanmu yang terbaik...
Rabu, 18 Mei 2011
MENINGGALKAN KERINDUAN
WISATA HATI --------> part 14
Jam 09.00 seluruh rombongan di bis 1 sudah harus berkumpul di lobby, hiikks..ªku terakhir bertemu dengan sahabatku semalam, karena pagi tadi, tak kutemui lagi dia di restoran, hanya anak dan suaminya ŷanğ ada.
Kami berbeda jam terbang, pesawatku jam 18.45, sedangkan rombongan bis ke-2 pulang dini hari jam 02.00 WSA. Ada beberapa orang rombongan bis 2 ŷanğ ikut pulang bersama rombongan kami.
Seperti biasa, parkir bis didepan hotel tak boleh terlalu lama, kami diburu waktu menaiki bis dan membereskan barang bawaan, tak banyak ŷanğ kami bawa, hanya jaket dan koper tak penuh, mengantisipasi oleh-oleh ŷanğ membengkak, karena kami masih akan tour keliling kota Jeddah. Kabarnya banyak mall-mall ŷanğ terkenal murah meriah..^.^..
Jarak Makkah ke Jeddah hanya sekitar 100 km, kurang lebih 1 jam perjalanan. Bis masih akan menuju Kudai, tempat pengambilan air zam-zam. Peraturan pemerintah sekarang, jama'ah harus ikut ditunjukkan, agar penghitungan jumlah air ŷanğ dibawa sesuai, menghindari praktek jual beli air langka ini.
Kudai, antri dengan bis ŷanğ bertujuan sama dengan kami. Untuk pengambilan jumlah sedikit, sudah disediakan tempatnya sendiri, semuanya gratis.
Setelah dicek oleh salah seorang petugas, air zam-zam ŷanğ sudah dikemas pun di masukkan ke dalam bagasi bis. Muthowif menempelkan stiker agar tak tertukar dengan travel lain. Masing-masing jamaah mendapat 10 liter air zam-zam.
Perjalanan menuju Jeddah pun dilanjutkan. Jeddah terbagi menjadi dua, Jeddah lama dan baru. Jeddah baru sebenarnya adalah perluasan jeddah lama, mereka menimbun laut dan merubahnya menjadi tempat hunian ŷanğ indah, hampir menyamai kota Dubai, katanya....^.^.. lha ªku sendiri aja belum pernah ke Dubai...
Memasuki jeddah awalnya tak jauh berbeda dengan suasana kota Madinah, namun mendekati pantai, terlihat nyata perbedaannya. Kota baru itu sedang menggeliat menuju kemegahan.
Istana raja Fath terletak di dalam laut, ada air mancur tertinggi didunia , namanya air mancur Namira, namun kami tak mendapati keduannya. Kami hanya melewati empat buah periuk raksasa, hadiah dari salah satu negara tetangga. Periuk itu tergantung di sebuah taman.
Di salah satu sisi jalan juga terdapat monumen mesin penyulingan air raksasa, jeddah memang mempunyai tempat penyulingan terbesar di dunia, dari sinilah suplly kebutuhan air di kota Makkah, Madinah dan sekitarnya.
Ada juga masjid Qishash, terlihat dikejauhan. Tempat berlangsungnya hukum bunuh di Arab Saudi.
Setelah masjid menyeramkan itu, kami tiba di sebuah masjid tepat dipinggir pantai laut merah. Masjid itu agak menjorok ke laut, jika air pasang, bangunan itu terlihat seolah-olah sedang terapung di laut merah. Itulah sebabnya banyak ŷanğ menyebutnya masjid terapung.
Sebenarnya nama masjid itu sendiri adalah masjid Rahmah.
Pemandangan pinggir pantai selalu saja indah, semilir angin sore itu membuat kami mengantuk, serasa ingin duduk berlama-lama di masjid.
Kami pasang aksi foto dari segala sisi, lumayan lhoh...bagus-bagus hasilnya.
Sekitar satu jam disitu, kami bergegas menuju bandara, proses masuk bandara ŷanğ ribet dan ketat juga menjengkelkan sudah menanti. Kurang lebih seperti saat kedatangan kami 8 hari ŷanğ lalu.
Beruntung, terdapat seorang petugas tazkia ŷanğ kemarin baru mengantar kafilah gelombang berikutnya ŷanğ mengantar bagasi kami, dia bisa masuk karena masih memegang visa umroh.
Ada seorang muthowif lagi ŷanğ berusaha masuk menyamar sebagai jama'ah, mengantisipasi keruwetan proses pemeriksaan.
Hmmm.. ribet juga ternyata, kalau ªku mahir dialek Arab pasti nggak begitu susah-susah amat!
Minimal ªku tahu permasalahannya dimana.
Kami antri lumayan lama, barang bagasi aman langsung diurus dua orang dalam tazkia. Hampir sejam kami terbengkalai di sana, namun waktu seakan cepat berlalu dikarenakan kami sudah mengenal akrab satu sama lain, suasana menjadi sedikit haru.
Seminggu lebih kami bertetangga, berangkat ke masjid sama-sama, mengalami beberapa peristiwa menyedihkan, mengejutkan, dan menggembirakan. Mereka adalah keluarga baruku ŷanğ menyenangkan.
Baru kusadari, ternyata serombonganku rata-rata berusia lanjut, ada beberapa ŷanğ sebaya, namun mereka berangkat bersama keluarga besarnya. Makanya kami jarang bercanda bersama.
Rata-rata teman ŷanğ akrab denganku berada di bis 2. Mereka kebanyakan pasangan seumuran denganku ŷanğ berangkat dengan keluarga kecilnya.
Bersama mbah-mbah baru anakku, rame juga lho... anakku jadi banyak ŷanğ memanggilnya 'cucuku'...
Pesawat ŷanğ kami tumpangi adalah GA 981, kali ini giliran ibu ŷanğ terpisah jauh tempat duduknya, suamiku menggantikan posisi Beliau.
Perjalanan menjadi lebih singkat dari saat berangkat, karena kami rata-rata sudah kelelahan, kami tertidur pulas sampai Jakarta..(Eh...tepatnya ªku kali ya..ŷanğ pulas..^.^)
Landing sekitar jam 9 pagi, kami dijemput kakak iparku seorang diri, kalau ŷanğ lainnya ikut, bakalan nggak muat lagi, bawaan kami 3 troly!
Alhamdulillah...akhirnya cita-cita kami ke luar negri, kesampaian..menjadi tamu Allah, merasakan nikmatnya perjamuan di tanah haram dan kebersamaan selama semingguan bersama keluarga dalam suka dan duka, memberikan hikmah tersendiri buat kami.
.
Semoga Allah mengabulkan setiap do'a ŷanğ keluar dari hati, memberikan rahmad_Nya dan senantiasa melindungi kami...
Semoga kami menjadi lebih baik dari sebelumnya...
Semoga ibadah kami makbul dan kami diijinkan menginjak tanah haram kembali...Insya Allah dalam perjamuan haji....
Aamiin. .
Jam 09.00 seluruh rombongan di bis 1 sudah harus berkumpul di lobby, hiikks..ªku terakhir bertemu dengan sahabatku semalam, karena pagi tadi, tak kutemui lagi dia di restoran, hanya anak dan suaminya ŷanğ ada.
Kami berbeda jam terbang, pesawatku jam 18.45, sedangkan rombongan bis ke-2 pulang dini hari jam 02.00 WSA. Ada beberapa orang rombongan bis 2 ŷanğ ikut pulang bersama rombongan kami.
Seperti biasa, parkir bis didepan hotel tak boleh terlalu lama, kami diburu waktu menaiki bis dan membereskan barang bawaan, tak banyak ŷanğ kami bawa, hanya jaket dan koper tak penuh, mengantisipasi oleh-oleh ŷanğ membengkak, karena kami masih akan tour keliling kota Jeddah. Kabarnya banyak mall-mall ŷanğ terkenal murah meriah..^.^..
Jarak Makkah ke Jeddah hanya sekitar 100 km, kurang lebih 1 jam perjalanan. Bis masih akan menuju Kudai, tempat pengambilan air zam-zam. Peraturan pemerintah sekarang, jama'ah harus ikut ditunjukkan, agar penghitungan jumlah air ŷanğ dibawa sesuai, menghindari praktek jual beli air langka ini.
Kudai, antri dengan bis ŷanğ bertujuan sama dengan kami. Untuk pengambilan jumlah sedikit, sudah disediakan tempatnya sendiri, semuanya gratis.
Setelah dicek oleh salah seorang petugas, air zam-zam ŷanğ sudah dikemas pun di masukkan ke dalam bagasi bis. Muthowif menempelkan stiker agar tak tertukar dengan travel lain. Masing-masing jamaah mendapat 10 liter air zam-zam.
Perjalanan menuju Jeddah pun dilanjutkan. Jeddah terbagi menjadi dua, Jeddah lama dan baru. Jeddah baru sebenarnya adalah perluasan jeddah lama, mereka menimbun laut dan merubahnya menjadi tempat hunian ŷanğ indah, hampir menyamai kota Dubai, katanya....^.^.. lha ªku sendiri aja belum pernah ke Dubai...
Memasuki jeddah awalnya tak jauh berbeda dengan suasana kota Madinah, namun mendekati pantai, terlihat nyata perbedaannya. Kota baru itu sedang menggeliat menuju kemegahan.
Istana raja Fath terletak di dalam laut, ada air mancur tertinggi didunia , namanya air mancur Namira, namun kami tak mendapati keduannya. Kami hanya melewati empat buah periuk raksasa, hadiah dari salah satu negara tetangga. Periuk itu tergantung di sebuah taman.
Di salah satu sisi jalan juga terdapat monumen mesin penyulingan air raksasa, jeddah memang mempunyai tempat penyulingan terbesar di dunia, dari sinilah suplly kebutuhan air di kota Makkah, Madinah dan sekitarnya.
Ada juga masjid Qishash, terlihat dikejauhan. Tempat berlangsungnya hukum bunuh di Arab Saudi.
Setelah masjid menyeramkan itu, kami tiba di sebuah masjid tepat dipinggir pantai laut merah. Masjid itu agak menjorok ke laut, jika air pasang, bangunan itu terlihat seolah-olah sedang terapung di laut merah. Itulah sebabnya banyak ŷanğ menyebutnya masjid terapung.
Sebenarnya nama masjid itu sendiri adalah masjid Rahmah.
Pemandangan pinggir pantai selalu saja indah, semilir angin sore itu membuat kami mengantuk, serasa ingin duduk berlama-lama di masjid.
Kami pasang aksi foto dari segala sisi, lumayan lhoh...bagus-bagus hasilnya.
Sekitar satu jam disitu, kami bergegas menuju bandara, proses masuk bandara ŷanğ ribet dan ketat juga menjengkelkan sudah menanti. Kurang lebih seperti saat kedatangan kami 8 hari ŷanğ lalu.
Beruntung, terdapat seorang petugas tazkia ŷanğ kemarin baru mengantar kafilah gelombang berikutnya ŷanğ mengantar bagasi kami, dia bisa masuk karena masih memegang visa umroh.
Ada seorang muthowif lagi ŷanğ berusaha masuk menyamar sebagai jama'ah, mengantisipasi keruwetan proses pemeriksaan.
Hmmm.. ribet juga ternyata, kalau ªku mahir dialek Arab pasti nggak begitu susah-susah amat!
Minimal ªku tahu permasalahannya dimana.
Kami antri lumayan lama, barang bagasi aman langsung diurus dua orang dalam tazkia. Hampir sejam kami terbengkalai di sana, namun waktu seakan cepat berlalu dikarenakan kami sudah mengenal akrab satu sama lain, suasana menjadi sedikit haru.
Seminggu lebih kami bertetangga, berangkat ke masjid sama-sama, mengalami beberapa peristiwa menyedihkan, mengejutkan, dan menggembirakan. Mereka adalah keluarga baruku ŷanğ menyenangkan.
Baru kusadari, ternyata serombonganku rata-rata berusia lanjut, ada beberapa ŷanğ sebaya, namun mereka berangkat bersama keluarga besarnya. Makanya kami jarang bercanda bersama.
Rata-rata teman ŷanğ akrab denganku berada di bis 2. Mereka kebanyakan pasangan seumuran denganku ŷanğ berangkat dengan keluarga kecilnya.
Bersama mbah-mbah baru anakku, rame juga lho... anakku jadi banyak ŷanğ memanggilnya 'cucuku'...
Pesawat ŷanğ kami tumpangi adalah GA 981, kali ini giliran ibu ŷanğ terpisah jauh tempat duduknya, suamiku menggantikan posisi Beliau.
Perjalanan menjadi lebih singkat dari saat berangkat, karena kami rata-rata sudah kelelahan, kami tertidur pulas sampai Jakarta..(Eh...tepatnya ªku kali ya..ŷanğ pulas..^.^)
Landing sekitar jam 9 pagi, kami dijemput kakak iparku seorang diri, kalau ŷanğ lainnya ikut, bakalan nggak muat lagi, bawaan kami 3 troly!
Alhamdulillah...akhirnya cita-cita kami ke luar negri, kesampaian..menjadi tamu Allah, merasakan nikmatnya perjamuan di tanah haram dan kebersamaan selama semingguan bersama keluarga dalam suka dan duka, memberikan hikmah tersendiri buat kami.
.
Semoga Allah mengabulkan setiap do'a ŷanğ keluar dari hati, memberikan rahmad_Nya dan senantiasa melindungi kami...
Semoga kami menjadi lebih baik dari sebelumnya...
Semoga ibadah kami makbul dan kami diijinkan menginjak tanah haram kembali...Insya Allah dalam perjamuan haji....
Aamiin. .
Rabu, 11 Mei 2011
THOWAF WADA'
WISATA HATI --------> part 13
Sebenarnya kami berdua ingin sendirian mengucapkan perpisahan pagi itu, selesai subuh. Namun karena diburu waktu mengemas bagasi, akhirnya kami ikut rombongan bis 1 ŷanğ dijadwalkan usai sarapan.
Semuanya ikut, rombongan kecil kami serempak memakai baju putih-putih.
Sepanjang thowaf air mataku tak berhenti mengalir, ªku sering menyembunyikannya dari anakku ŷanğ sesekali melihat ke arahku. "Mama menangis?" katanya curiga, "Besok-besok kan kita bisa ke sini lagi, Ma.." ªku dengan segera meng-amininya.
Thowaf wada' sama seperti halnya melakukan thowaf sunnah, dilakukan sebagai ibadah ŷanğ terakhir kali dilakukan di masjidil harom, maka dinamakan thowaf perpisahan.
Usai thowaf kami berdo'a di hadapan pintu Ka'bah, sepuasnya. Tak kuhiraukan rombongan ŷanğ sudah bergerak kembali ke hotel. ªku benar-benar masih ingin berlama-lama di situ.
Kuulangi lagi do'a-do'ªku sepanjang thowafku, saat usai dhuha, asar ataupun sesudah malam datang.. Kakiku masih mampu mengitari bangunan suci itu dua tiga kali lagi, namun hari ini ªku harus menyudahinya..
ªku tak rela...maka ªku meminta Allah mengundangku kembali..
Kupandangi Ka'bah ŷanğ tampak wibawa dengan jubah sutra hitamnya, berhiaskan sulaman benang emas. Pintunya kokoh menyambut ribuan do'a ŷanğ terfokus pada_Nya, dalam medan maghnet al multazam, diantara pintu dan batu surga.
ªku beruntung telah menggapainya.
Kuingat perjuangan kami saat itu..
Alloh... ªku bersyukur sudah menerima kado terindahmu..
Alloh... hanya karena seijin_Mu, kami sudah menikmati perjamuan istimewa dari_Mu...
Pusaran orang-orang itu hendak menyeretku kembali, ªku mengikutinya sambil menghampiri maqom Ibrahim, mengintip jejak tapak kaki itu untuk terakhir kalinya.
Kerumunan manusia berdesakan memenuhi hijr Ismail, ªku hanya bisa memandanginya dari jauh.
Kulihat semua rombongan kecilku memuaskan diri meminum air zam-zam, anak dan suamiku malah mengguyurkannya ke rambut mereka.
Kami juga mengambil foto sepuasnya. Namun sayang tak satupun foto ŷanğ memuat gambar kami bertiga, ªku, suami dan anakku. Duuh .. Memang harus diulangi lagi ini.. ^.^
Sambil menuju hotel, kupuaskan memandangi Ka'bah, platarannya, tangga masjid, suasana dalam masjid ŷanğ penuh orang-orang membaca Al Qur'an, bercakap-cakap ataupun sekedar mengagumi Ka'bah dari tempat duduknya.
Di luar masjid, beberapa foto juga masih kami ambil, anakku masih berlari-larian lepas di plataran ŷanğ luas itu. Semua berlapis marmer, megah...
Subhanallah...
Allah...dengarlah ªku, ªku ingin kembali lagi...
Sebenarnya kami berdua ingin sendirian mengucapkan perpisahan pagi itu, selesai subuh. Namun karena diburu waktu mengemas bagasi, akhirnya kami ikut rombongan bis 1 ŷanğ dijadwalkan usai sarapan.
Semuanya ikut, rombongan kecil kami serempak memakai baju putih-putih.
Sepanjang thowaf air mataku tak berhenti mengalir, ªku sering menyembunyikannya dari anakku ŷanğ sesekali melihat ke arahku. "Mama menangis?" katanya curiga, "Besok-besok kan kita bisa ke sini lagi, Ma.." ªku dengan segera meng-amininya.
Thowaf wada' sama seperti halnya melakukan thowaf sunnah, dilakukan sebagai ibadah ŷanğ terakhir kali dilakukan di masjidil harom, maka dinamakan thowaf perpisahan.
Usai thowaf kami berdo'a di hadapan pintu Ka'bah, sepuasnya. Tak kuhiraukan rombongan ŷanğ sudah bergerak kembali ke hotel. ªku benar-benar masih ingin berlama-lama di situ.
Kuulangi lagi do'a-do'ªku sepanjang thowafku, saat usai dhuha, asar ataupun sesudah malam datang.. Kakiku masih mampu mengitari bangunan suci itu dua tiga kali lagi, namun hari ini ªku harus menyudahinya..
ªku tak rela...maka ªku meminta Allah mengundangku kembali..
Kupandangi Ka'bah ŷanğ tampak wibawa dengan jubah sutra hitamnya, berhiaskan sulaman benang emas. Pintunya kokoh menyambut ribuan do'a ŷanğ terfokus pada_Nya, dalam medan maghnet al multazam, diantara pintu dan batu surga.
ªku beruntung telah menggapainya.
Kuingat perjuangan kami saat itu..
Alloh... ªku bersyukur sudah menerima kado terindahmu..
Alloh... hanya karena seijin_Mu, kami sudah menikmati perjamuan istimewa dari_Mu...
Pusaran orang-orang itu hendak menyeretku kembali, ªku mengikutinya sambil menghampiri maqom Ibrahim, mengintip jejak tapak kaki itu untuk terakhir kalinya.
Kerumunan manusia berdesakan memenuhi hijr Ismail, ªku hanya bisa memandanginya dari jauh.
Kulihat semua rombongan kecilku memuaskan diri meminum air zam-zam, anak dan suamiku malah mengguyurkannya ke rambut mereka.
Kami juga mengambil foto sepuasnya. Namun sayang tak satupun foto ŷanğ memuat gambar kami bertiga, ªku, suami dan anakku. Duuh .. Memang harus diulangi lagi ini.. ^.^
Sambil menuju hotel, kupuaskan memandangi Ka'bah, platarannya, tangga masjid, suasana dalam masjid ŷanğ penuh orang-orang membaca Al Qur'an, bercakap-cakap ataupun sekedar mengagumi Ka'bah dari tempat duduknya.
Di luar masjid, beberapa foto juga masih kami ambil, anakku masih berlari-larian lepas di plataran ŷanğ luas itu. Semua berlapis marmer, megah...
Subhanallah...
Allah...dengarlah ªku, ªku ingin kembali lagi...
Langganan:
Postingan (Atom)











