Mendidik Anak Cerdas & Berbakat
Sebagai orang tua masa kini, kita seringkali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci untuk kesuksesan hidup di masa depan.
Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya.
Kalau IQ ataupun prestasi akademik tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seorang anak di masa depan, lalu apa?
Kemudian, apa yang harus dilakukan orang tua supaya anak-anak mempunyai persiapan cukup untuk masa depannya?
Jawabannya adalah: Prestasi dalam Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence), dan BUKAN HANYA prestasi akademik.
Kemungkinan anak untuk meraih sukses menjadi sangat besar jika anak dilatih untuk meningkatkan kecerdasannya yang majemuk itu.
9 Jenis Kecerdasan
Dr. Howard Gardner, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan 8 jenis kecerdasan yang meliputi (saya memasukkan kecerdasan Spiritual walaupun masih diperdebatkan kriterianya):
Cerdas Bahasa – cerdas dalam mengolah kata
Cerdas Gambar – memiliki imajinasi tinggi
Cerdas Musik – cerdas musik, peka terhadap suara dan irama
Cerdas Tubuh – trampil dalam mengolah tubuh dan gerak
Cerdas Matematika dan Logika – cerdas dalam sains dan berhitung
Cerdas Sosial – kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain
Cerdas Diri – menyadari kekuatan dan kelemahan diri
Cerdas Alam – peka terhadap alam sekitar
Cerdas Spiritual – menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta
Membangun seluruh kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah tenda yang mempunyai beberapa tongkat sebagai penyangganya. Semakin sama tinggi tongkat-tongkat penyangganya, semakin kokoh pulalah tenda itu berdiri.
Untuk menjadi sungguh-sungguh cerdas berarti memiliki skor yang tinggi pada seluruh kecerdasan majemuk tersebut. Walaupun sangat jarang seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang, biasanya orang yang benar-benar sukses memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol.
Albert Einstein, terkenal jenius di bidang sains, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika. Demikian pula Leonardo Da Vinci yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam bidang olah tubuh, seni, arsitektur, matematika dan fisika.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup bagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru PERAN ORANG TUA dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung JAUH LEBIH PENTING dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak.
Jadi, untuk menjamin masa depan anak yang berhasil, kita tidak bisa menggantungkan pada sukses sekolah semata. Ayah-Ibu HARUS berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak.
Oleh: Dr. Andyda Meliala
Sumber : info.balitacerdas.com
Tampilkan postingan dengan label Smart Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smart Parenting. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 Februari 2013
Rabu, 05 Oktober 2011
Dewasa
"Aneh si Radit, dia bercerita kalau dirumah sering dimarahi Mamanya, sampai sampai dia tidak mau jadi dewasa, soalnya dia takut punya istri", cerita anakku sebelum tidurnya malam ini.
"Mamanya sering marah kok jadinya tidak mau punya istri ? Agak nggak nyambung deh..", jawabku sedikit memancing.
"Anehnya itu, padahal aku aja pingin cepat jadi dewasa, dewasa itu enak, bisa apa- apa saja yang diinginkan", katanya bersemangat.
"Lhoh, bukannya jadi dewasa gak enak say, mesti kerja cari uang, dari pagi sampai malam, nggak bisa bermain sepuasnya..", tanyaku heran.
"Buktinya Gayus itu, bisa kemana saja, keluar negri dan beli2 apa saja, berarti dewasa itu enak Ma..".
"Duh..itu kan hanya video klip sayang.. Gayus sudah dipenjara karena korupsi !", jawabku.
"Oh..jadi foto2 yang dipantai, jadi petinju, pake popok bayi, jadi polisi dan tukang jual duren itu bukan Gayus ya Ma ? ", wajahnya penuh selidik.
Ku lihat sedikit kecewa.
"Bukan sayang..itu photoshop aja..".
"Kalau begitu aku mau belajar photoshop, biar bisa jadi apa aja! ".
Pagi ini sambil sarapan aku jelaskan siapakah Gayus Tambunan, Gayus yang Plesiran, Gayus kecil yang minum pake dot, Gayus yang jualan duren, Gayus yang Polisi berpangkat, Gayus yang petinju dan Gayus ada di video klip.
Kulihat celotehku yang panjang tak digubris sedikitpun, "Mama hari ini cari program photoshop ya, aku mau fotoku dirubah sesuai cita - citaku".
"Mamanya sering marah kok jadinya tidak mau punya istri ? Agak nggak nyambung deh..", jawabku sedikit memancing.
"Anehnya itu, padahal aku aja pingin cepat jadi dewasa, dewasa itu enak, bisa apa- apa saja yang diinginkan", katanya bersemangat.
"Lhoh, bukannya jadi dewasa gak enak say, mesti kerja cari uang, dari pagi sampai malam, nggak bisa bermain sepuasnya..", tanyaku heran.
"Buktinya Gayus itu, bisa kemana saja, keluar negri dan beli2 apa saja, berarti dewasa itu enak Ma..".
"Duh..itu kan hanya video klip sayang.. Gayus sudah dipenjara karena korupsi !", jawabku.
"Oh..jadi foto2 yang dipantai, jadi petinju, pake popok bayi, jadi polisi dan tukang jual duren itu bukan Gayus ya Ma ? ", wajahnya penuh selidik.
Ku lihat sedikit kecewa.
"Bukan sayang..itu photoshop aja..".
"Kalau begitu aku mau belajar photoshop, biar bisa jadi apa aja! ".
Pagi ini sambil sarapan aku jelaskan siapakah Gayus Tambunan, Gayus yang Plesiran, Gayus kecil yang minum pake dot, Gayus yang jualan duren, Gayus yang Polisi berpangkat, Gayus yang petinju dan Gayus ada di video klip.
Kulihat celotehku yang panjang tak digubris sedikitpun, "Mama hari ini cari program photoshop ya, aku mau fotoku dirubah sesuai cita - citaku".
Sabtu, 18 Juni 2011
Naik!
Nggak mungkinlah nggak naik... Itu menenangkan kami.
Semalam itu waktu terasa berjalan lambat, kadang senyum getir menghiasi setiap 10 menit sekali, lucu membayangkan jika benar tak naik kelas, tapi...apa mungkin???
Ibu-ibu itu sudah semringah dengan dandanan mereka, mungkin hanya wajahku ŷanğ menegang. Anakku sudah larut dalam persiapannya tampil bermain alat musik.
Tampil di atas pentas lebih menegangkan baginya, namun berbaur dengan sesama grupnya membuatnya terlihat melegakan buatku.
Kasihan..jika seandainya benar tak naik kelas...
Bismillah, Insya Alloh naik!
ªku melangkah ke lantai 3, kelas anakku. Rupanya ibu-ibu sudah berderet manis didepan kelas, Bu Ery belum datang.
ªku mengobrol dengan beberapa, tak banyak memang ŷanğ ku kenal, maklumlah, jarang ke sekolah.
Begitu Bu Ery masuk ke kelas, kami duduk tertib menunggu giliran. Kurang lebih masing-masing ortu diberi waktu 10 - 15 menit. ªku harus memanfaatkan momen berharga itu.
Tiba giliranku, اَلْحَمْدُلِلّهِ.. anakku dinyatakan naik, tanpa syarat. he he..
Ada beberapa point ŷanğ memang harus jadi catatanku, hafalan Al Qur'annya belum memenuhi target,
Matematika naik drastis dari angka smester 1 adalah 58 ( dibawah KKM ) menjadi 71 ( dari KKM 67 ).
Melegakan bagiku... hutangnya adalah beberapa surat juz Amma ŷanğ masih belum lancar dihafalkan.
Bu Ery berbaik hati membebankannya di kelas 6, standar kenaikan memang diambil dari nilai PAI ( penddkn agama ) ŷanğ harus di atas KKM, anakku jatuh di nilai Al Qur'an Hadis.
Bergegas ku hampiri anakku, βϋκαη main senangnya mendengar dia naik kelas. Wajahnya bersemangat dan kecemasannya hilang seketika. Kucium jidatnya, "Anak mama pasti pinter..!"
Dia kembali berbaur dengan teman-temannya, main bola.
Semalam itu waktu terasa berjalan lambat, kadang senyum getir menghiasi setiap 10 menit sekali, lucu membayangkan jika benar tak naik kelas, tapi...apa mungkin???
Ibu-ibu itu sudah semringah dengan dandanan mereka, mungkin hanya wajahku ŷanğ menegang. Anakku sudah larut dalam persiapannya tampil bermain alat musik.
Tampil di atas pentas lebih menegangkan baginya, namun berbaur dengan sesama grupnya membuatnya terlihat melegakan buatku.
Kasihan..jika seandainya benar tak naik kelas...
Bismillah, Insya Alloh naik!
ªku melangkah ke lantai 3, kelas anakku. Rupanya ibu-ibu sudah berderet manis didepan kelas, Bu Ery belum datang.
ªku mengobrol dengan beberapa, tak banyak memang ŷanğ ku kenal, maklumlah, jarang ke sekolah.
Begitu Bu Ery masuk ke kelas, kami duduk tertib menunggu giliran. Kurang lebih masing-masing ortu diberi waktu 10 - 15 menit. ªku harus memanfaatkan momen berharga itu.
Tiba giliranku, اَلْحَمْدُلِلّهِ.. anakku dinyatakan naik, tanpa syarat. he he..
Ada beberapa point ŷanğ memang harus jadi catatanku, hafalan Al Qur'annya belum memenuhi target,
Matematika naik drastis dari angka smester 1 adalah 58 ( dibawah KKM ) menjadi 71 ( dari KKM 67 ).
Melegakan bagiku... hutangnya adalah beberapa surat juz Amma ŷanğ masih belum lancar dihafalkan.
Bu Ery berbaik hati membebankannya di kelas 6, standar kenaikan memang diambil dari nilai PAI ( penddkn agama ) ŷanğ harus di atas KKM, anakku jatuh di nilai Al Qur'an Hadis.
Bergegas ku hampiri anakku, βϋκαη main senangnya mendengar dia naik kelas. Wajahnya bersemangat dan kecemasannya hilang seketika. Kucium jidatnya, "Anak mama pasti pinter..!"
Dia kembali berbaur dengan teman-temannya, main bola.
Jumat, 17 Juni 2011
Menjelang Bagi Rapor
Dari kemarin-kemarin anakku sudah banyak berdo'a agar naik kelas, bahkan di depan Ka'bah kudengar do'a itu disepanjang thowafnya.
"Nanti kalau aku tidak naik kelas, Mama jangan marah ya?" katanya suatu ketika.
"Ya nggaklah...Yang Mama takutkan adalah kalau anak mama jadi malu..."
Tiba-tiba ada telepon dari sekolahnya, padahal hari sudah menjelang asar.
"Ibu....saya Bu Ery, wali kelas ananda, ini baru saja rapat guru membahas kenaikan kelas. Nilai PAI ananda dibawah KKM, Bu...terutama Al Qur'an Hadist. Kami memberikan kesempatan agar nilai ananda bisa diperbaiki, mengingat nilai PAI harus berada di atas nilai KKM agar ananda bisa naik ke kelas 6."
Agak lemeees.....mengingat malam sebelum ulangan mata pelajaran itu...
"Materinya Al Buruj, terjemahan dan keterangannya ( ada di buku catatan ), hukum mim sukun dan khulafaur rosyidin." aku membacakan kisi-kisi yang sudah diberikan, "Hafalan sama Mama yuuuk...pasti sudah hafalan dikelas kan?."
"Itu bukan dihafalkan, Mama...... difahami, lagian materinya nggak ada di buku catatan.."
"Kok bisa nggak ada di catatan?...di juz amma kan lengkap say..tinggal dihafalkan disitu sudah cukup, sama saja..." kataku sambil melihat buku catatannya. Yang ada memang nggak sampai sehalaman, keterangan dan hikmah diturunkan surat Al Buruj, surat ke 85 itu.
"Lho, kok belum diajarin sudah masuk ulangang? apa sudah ditulis, terus nggak mencatat kali ??" tebakanku membuatnya sedikit marah.
"Mama jangan menuduh dong...! memang segitu aja yang diajarkan..."
"Ya sudah..., hafalan juz amma saja.." sambil kusodorkan terbuka surat Al Buruj.
"Nggak dihafal, Mamaaaaa....susah sih ngomong sama Mama, di fa ha mi... bukan di ha fal...!" jawabnya sudah dengan nada tinggi.
"Namanya besok ulangan, ya harus dihafal dong...! bagaimana kalau soalnya 'Apa arti ayat ke 12 dan bagaimana bunyinya?.''
"Tau dah...Mama nggak ngerti!" jawabnya sewot, "Pokoknya aku maunya memahami saja, lagian dicatatanku nggak ada! cuma selembar doang, apa susahnya menghafal!"
Aku sudah mulai capek berdebat, ku-ambil juz ammma dan mulai kutanya ayat per ayat. Tentu saja anakku belum hafal. Pasti dikelas belum hafalan surat ini, jika tidak dia akan lancar menghafalnya.
Terakhir hafalan surat pendeknya adalah As Syams lengkap arti dan penjelasannya.
Atau jangan-jangan waktu menghafal surat ini bertepatan cuti sepuluh harinya kemarin.
Agak susah memaksanya kali ini, yang ada difikirannya adalah 'dipahami' bukan 'dihafalkan', ditambah 'dicatatan' buka 'di juz amma'.
"Oh anakku...!" pekikku jengkel. Namun tetap kupaksakan walaupun hari itu penuh pertengkaran kecil.
"Mama pinter, yang keluar tadi ayat ke 12 dan artinya" katanya sepulang ujian.
Kubiarkan dia menyelesaikan ceritanya. Senyum kecil kusembunyikan agar tak menambah rasa bersalahnya.
"Jelas aku nggak bisa, Ma...aku nggak hafal..." lanjutnya cuek.
Aku terdiam, mau menyalahkan apalagi marah juga terlambat!
Mendengar Bu Ery mau menutup telepon, aku memintanya menyampaikan sendiri berita dan remidialnya, lengkap dengan anjuran menghafal Al Buruj...
Manggut-manggut kulihat saat mendengar telepon dari gurunya, senyumnya terlihat tegang.
"Mamaaa....jangan marah kalau aku nggak naik kelas ya?.." katanya sambil memelukku.
"Memang nggak naik kelas kata Bu Ery tadi?" tanyaku pura-pura nggak tahu.
"Ya jelaslah...kalau PAI dibawah KKM, itu tandanya nggak naik kelas!, Bu Ery nggak bisa bohong..." dia terdiam sesaat, tiba-tiba.."Ha ha ha....aneh kalau aku nggak naik, kan lucu.....ya Ma???"
"Ya iyalah...lucu banget! jelas!" aku juga tak bisa menyembunyikan tertawaku.
"Ha ha ha.....anaaaaaaak!!!! heeeuuuuuuuh sebal!" jengkel plus kasian melihatnya, yang justru tanpa beban menerima berita itu. yang terpikir olehku adalah 'apa dia nggak merasa malu nantinya?'.
"Masih mending Ma...nggak naik ke kelas 6, memang sulit" katanya santai, keningnya masih mengkerut, tegang, "kalau kelas 2, terus nggak naik,itu yang keterlaluan, mudah gitu...., masih saja nggak naik."
"Siapa yang pernah nggak naik kelas 2?"
"Fikri, saudaranya Farel,makanya sekarang sekelas dengan Farel, harusnya sudah kelas 6."
"Ayo,sekarang belajar!, masih diberi kesempatan besok buat remidi kan? berarti bguru masih belum yakin kalau Ihsan nggak naik kelas."
"Tapi...dibaca saja ya?" masih berusaha negosiasi rupanya.
"Masih ngeyel....di ha pa lin!."
"Di pa ha mi, Mama......"
"Okay....Mama tanyain ke Bu Ery lagi ya?" aku gantian mengancamnya.
"Ya wes!" suaranya benar-benar meninggi. Dengan tersenyum paksa, "Aku baca berulang-ulang kalau begitu!."
"Okay...Mamananti tanyain satu satu ya...?, bayangin kalau nggak naik bener, lucu lho....." aku menggoda, memancingnya tersenyum.
"Ada syaratnya..." pintanya juga mengancam.
"Apa?...boleh, asal nggak aneh-aneh."
"Gampang, Mama pasti setuju"
"Terserah, asal cepetan belajar, keburu mengantuk!" jawabku mulai nggak sabar.
"Kalau aku berhasil naik kelas, Mama dan Ayah harus membelikan 10 piring batagor!"
"Nanti kalau aku tidak naik kelas, Mama jangan marah ya?" katanya suatu ketika.
"Ya nggaklah...Yang Mama takutkan adalah kalau anak mama jadi malu..."
Tiba-tiba ada telepon dari sekolahnya, padahal hari sudah menjelang asar.
"Ibu....saya Bu Ery, wali kelas ananda, ini baru saja rapat guru membahas kenaikan kelas. Nilai PAI ananda dibawah KKM, Bu...terutama Al Qur'an Hadist. Kami memberikan kesempatan agar nilai ananda bisa diperbaiki, mengingat nilai PAI harus berada di atas nilai KKM agar ananda bisa naik ke kelas 6."
Agak lemeees.....mengingat malam sebelum ulangan mata pelajaran itu...
"Materinya Al Buruj, terjemahan dan keterangannya ( ada di buku catatan ), hukum mim sukun dan khulafaur rosyidin." aku membacakan kisi-kisi yang sudah diberikan, "Hafalan sama Mama yuuuk...pasti sudah hafalan dikelas kan?."
"Itu bukan dihafalkan, Mama...... difahami, lagian materinya nggak ada di buku catatan.."
"Kok bisa nggak ada di catatan?...di juz amma kan lengkap say..tinggal dihafalkan disitu sudah cukup, sama saja..." kataku sambil melihat buku catatannya. Yang ada memang nggak sampai sehalaman, keterangan dan hikmah diturunkan surat Al Buruj, surat ke 85 itu.
"Lho, kok belum diajarin sudah masuk ulangang? apa sudah ditulis, terus nggak mencatat kali ??" tebakanku membuatnya sedikit marah.
"Mama jangan menuduh dong...! memang segitu aja yang diajarkan..."
"Ya sudah..., hafalan juz amma saja.." sambil kusodorkan terbuka surat Al Buruj.
"Nggak dihafal, Mamaaaaa....susah sih ngomong sama Mama, di fa ha mi... bukan di ha fal...!" jawabnya sudah dengan nada tinggi.
"Namanya besok ulangan, ya harus dihafal dong...! bagaimana kalau soalnya 'Apa arti ayat ke 12 dan bagaimana bunyinya?.''
"Tau dah...Mama nggak ngerti!" jawabnya sewot, "Pokoknya aku maunya memahami saja, lagian dicatatanku nggak ada! cuma selembar doang, apa susahnya menghafal!"
Aku sudah mulai capek berdebat, ku-ambil juz ammma dan mulai kutanya ayat per ayat. Tentu saja anakku belum hafal. Pasti dikelas belum hafalan surat ini, jika tidak dia akan lancar menghafalnya.
Terakhir hafalan surat pendeknya adalah As Syams lengkap arti dan penjelasannya.
Atau jangan-jangan waktu menghafal surat ini bertepatan cuti sepuluh harinya kemarin.
Agak susah memaksanya kali ini, yang ada difikirannya adalah 'dipahami' bukan 'dihafalkan', ditambah 'dicatatan' buka 'di juz amma'.
"Oh anakku...!" pekikku jengkel. Namun tetap kupaksakan walaupun hari itu penuh pertengkaran kecil.
"Mama pinter, yang keluar tadi ayat ke 12 dan artinya" katanya sepulang ujian.
Kubiarkan dia menyelesaikan ceritanya. Senyum kecil kusembunyikan agar tak menambah rasa bersalahnya.
"Jelas aku nggak bisa, Ma...aku nggak hafal..." lanjutnya cuek.
Aku terdiam, mau menyalahkan apalagi marah juga terlambat!
Mendengar Bu Ery mau menutup telepon, aku memintanya menyampaikan sendiri berita dan remidialnya, lengkap dengan anjuran menghafal Al Buruj...
Manggut-manggut kulihat saat mendengar telepon dari gurunya, senyumnya terlihat tegang.
"Mamaaa....jangan marah kalau aku nggak naik kelas ya?.." katanya sambil memelukku.
"Memang nggak naik kelas kata Bu Ery tadi?" tanyaku pura-pura nggak tahu.
"Ya jelaslah...kalau PAI dibawah KKM, itu tandanya nggak naik kelas!, Bu Ery nggak bisa bohong..." dia terdiam sesaat, tiba-tiba.."Ha ha ha....aneh kalau aku nggak naik, kan lucu.....ya Ma???"
"Ya iyalah...lucu banget! jelas!" aku juga tak bisa menyembunyikan tertawaku.
"Ha ha ha.....anaaaaaaak!!!! heeeuuuuuuuh sebal!" jengkel plus kasian melihatnya, yang justru tanpa beban menerima berita itu. yang terpikir olehku adalah 'apa dia nggak merasa malu nantinya?'.
"Masih mending Ma...nggak naik ke kelas 6, memang sulit" katanya santai, keningnya masih mengkerut, tegang, "kalau kelas 2, terus nggak naik,itu yang keterlaluan, mudah gitu...., masih saja nggak naik."
"Siapa yang pernah nggak naik kelas 2?"
"Fikri, saudaranya Farel,makanya sekarang sekelas dengan Farel, harusnya sudah kelas 6."
"Ayo,sekarang belajar!, masih diberi kesempatan besok buat remidi kan? berarti bguru masih belum yakin kalau Ihsan nggak naik kelas."
"Tapi...dibaca saja ya?" masih berusaha negosiasi rupanya.
"Masih ngeyel....di ha pa lin!."
"Di pa ha mi, Mama......"
"Okay....Mama tanyain ke Bu Ery lagi ya?" aku gantian mengancamnya.
"Ya wes!" suaranya benar-benar meninggi. Dengan tersenyum paksa, "Aku baca berulang-ulang kalau begitu!."
"Okay...Mamananti tanyain satu satu ya...?, bayangin kalau nggak naik bener, lucu lho....." aku menggoda, memancingnya tersenyum.
"Ada syaratnya..." pintanya juga mengancam.
"Apa?...boleh, asal nggak aneh-aneh."
"Gampang, Mama pasti setuju"
"Terserah, asal cepetan belajar, keburu mengantuk!" jawabku mulai nggak sabar.
"Kalau aku berhasil naik kelas, Mama dan Ayah harus membelikan 10 piring batagor!"
Jumat, 20 Mei 2011
Cita - Cita
"Aku besok mau jadi KoKi aja dah Ma.." Duuh masih tetep sama cita2nya.
Ada rasa was2 ketakutan kalau memang itu yang diinginkannya, apa kata orang nanti, anakku yang mamanya selalu juara, ayahnya seorang QS proyek proyek besar dan hampir menjadi PM, dua duanya sarjana Teknik, mempunyai anak satu2nya yang hanya bercita2 menjadi seorang KoKi..
Dalam hati aku hanya berharap itu hanya bentuk ungkapannya mengatasi sekian banyaknya cita2 yang menumpuk di list otaknya..setahuku, Pemadam Kebakaran, Arsitek, Profesor, Arkeolog Dinosaurus dan tulang, Astronout, punya rumah buku, drumer dan Penemu bermacam2 mobil modern, mesin modern dan baru semalam kudengar adalah chip kunci hotel untuk kamarnya sendiri, dia sudah membikinnya dari kertas, paswordnya masih kuingat 4580, cardnya dari parking card Novotel Lampung.
Pagi ini sambil sarapan nasi dan telor dadarnya dia merubah mimpinya semalam kembali ke cita2nya pertama kali seorang "KoKi".
Masih sambil makan diambilnya pilok biru, dia gambar denah warung makannya kelak, aku hanya menambahkan sedikit masukan, warungnya harus berada diatas kolam pancing.
Teringat rumah bukunya, drum barunya, dia menambahkan entertaint live music di rumah makan impiannya, berikut sudut mungil perpustakaannya.
"Ada sepuluh pegawainya, kasir, tukang catat menu, tukang saji, 2 koki dan yang membantu. Mama , Ayah dan Caca gantian juga menjadi kokinya, kan Mama dan Ayah juga hoby masak ? ", matanya berbinar sambil mengenakan sepatu sekolahnya.
"Aku bosnya, Ayah bagian membayari pegawainya, Mama kasirnya..".
"Ayo cepetan, ntar lagi dijemput lho sayang.. ", nanti disusun sekalian menu yang mau dijual ya, pulang sekolah aja..", jawabku ikut merapikan rambutnya.
"Pistolnya yang berantakan kapan mau diberesin say ?, keburu ilang lagi mur dan bautnya lho ..", celetukku mengingatkan.
"Iya ya, belum mbongkar staplesnya juga, kok bisa isinya keluar sendiri begitu ? ".
"Tuh dijemput.. Do'a dan hati2 ya..".
"Iya Mama, Assalammu'alaikum.."
"Waalaikum salam..".
Nafasku panjang sembari bersyukur.. Apapun yang menjadi cita citamu kelak Mama hanya bisa mendo'akanmu yang terbaik...
Ada rasa was2 ketakutan kalau memang itu yang diinginkannya, apa kata orang nanti, anakku yang mamanya selalu juara, ayahnya seorang QS proyek proyek besar dan hampir menjadi PM, dua duanya sarjana Teknik, mempunyai anak satu2nya yang hanya bercita2 menjadi seorang KoKi..
Dalam hati aku hanya berharap itu hanya bentuk ungkapannya mengatasi sekian banyaknya cita2 yang menumpuk di list otaknya..setahuku, Pemadam Kebakaran, Arsitek, Profesor, Arkeolog Dinosaurus dan tulang, Astronout, punya rumah buku, drumer dan Penemu bermacam2 mobil modern, mesin modern dan baru semalam kudengar adalah chip kunci hotel untuk kamarnya sendiri, dia sudah membikinnya dari kertas, paswordnya masih kuingat 4580, cardnya dari parking card Novotel Lampung.
Pagi ini sambil sarapan nasi dan telor dadarnya dia merubah mimpinya semalam kembali ke cita2nya pertama kali seorang "KoKi".
Masih sambil makan diambilnya pilok biru, dia gambar denah warung makannya kelak, aku hanya menambahkan sedikit masukan, warungnya harus berada diatas kolam pancing.
Teringat rumah bukunya, drum barunya, dia menambahkan entertaint live music di rumah makan impiannya, berikut sudut mungil perpustakaannya.
"Ada sepuluh pegawainya, kasir, tukang catat menu, tukang saji, 2 koki dan yang membantu. Mama , Ayah dan Caca gantian juga menjadi kokinya, kan Mama dan Ayah juga hoby masak ? ", matanya berbinar sambil mengenakan sepatu sekolahnya.
"Aku bosnya, Ayah bagian membayari pegawainya, Mama kasirnya..".
"Ayo cepetan, ntar lagi dijemput lho sayang.. ", nanti disusun sekalian menu yang mau dijual ya, pulang sekolah aja..", jawabku ikut merapikan rambutnya.
"Pistolnya yang berantakan kapan mau diberesin say ?, keburu ilang lagi mur dan bautnya lho ..", celetukku mengingatkan.
"Iya ya, belum mbongkar staplesnya juga, kok bisa isinya keluar sendiri begitu ? ".
"Tuh dijemput.. Do'a dan hati2 ya..".
"Iya Mama, Assalammu'alaikum.."
"Waalaikum salam..".
Nafasku panjang sembari bersyukur.. Apapun yang menjadi cita citamu kelak Mama hanya bisa mendo'akanmu yang terbaik...
Kamis, 24 Maret 2011
Mimisan ( epistaksis )
Tumben, padahal sudah hampir dua tahunan kebiasaan mimisan itu tidak muncul lagi. Kalau dulu lumayan sering dia mengalami hal itu.
Duuh, kasihan juga melihat darahnya lumayan banyak..
Sebelum berangkat sekolah dia mengeluh pusing, suhu tubuhnya juga hangat, tidak sehat. Kebiasaannya main komputer seminggu terakhir ini meningkat, pe er dan belajarnya yang lumayan malas jadi tambah malas.
Geregetan dan jengkel melihatnya, tapi dari pada melihatnya main bola sampai mandi keringat, ªku lebih sreg melihatnya duduk main game.
Tapi, dengan kebiasaannya itu dia seperti tak bersemangat, pemarah dan sering mengeluh pusing.
Semalam..
"Ma, pusing!, nggak usah belajar ya?"
"Nggak belajar gimana?, main game aja nggak pusing, kenapa belajar pusing?" ªku menyodorkan buku pelajaran, "Ayo, belajar dulu...!, stop komputernya..besok lagi...!"
Dengan uring-uringan dia menutup akun fbnya, belajar secepat kilat dan segera beralih ke tv langganannya.
"Udah malam... Tidur, istirahat!, kasihan matanya capek!"
"Mama kejam!, lihat tv saja nggak boleh!, jangan maksa-maksa gitu sih!"
"Kan sudah jamnya tidur...!" jawabku mengakhiri perdebatan.
Pagi tadi...
"Kok masih pusing ya Ma?", sebenarnya ada pe er sih.. Tapi teman-teman banyak yang belum mengerjakan kok" katanya sehabis mandi.
Kupegang jidatnya, panas sekitar 37,5 derajat.
"Minum obat lagi ya?, nanti jangan main dulu, pake baca-baca saja.." pesanku sebelum berangkat.
Tuduhanku pusing masih seputar pe ernya.
Pulangnya, langsung melempar tasnya dan menghambur ke sofa, tiduran.
"Kenapa? masih pusing?"
"ÎƔâä sih.." jawabnya lemas. Semenit kemudian, dia terlihat segar dan.."Main komputer ya?"
"Jangan dulu...!, makan dan minum obat, terus tidur...!", ªku mengambilkan makan siang dan sepiring martabak pesanannya pagi tadi.
"Habis makan ªku nggak mau tidur!" tangannya meraih martabak, satu persatu dilahapnya. Hampir separoh sudah masuk mengisi perutnya.
"Sudah tidak pusing lagi" katanya, terlihat sehat, kulihat matanya masih sayu.
"Cepet banget...kasihan matanya kecapekan habis sekolah, main komputer terus-terusan.., harus istirahat!"
"Tadi ªku bohong, bilang pusing agar tidak les bahasa Inggris, padahal nggak pusing" ungkapnya mengaku. Kecurigaanku memang mengarah kesitu.
"Tidur...! Matanya nggak sehat tuh..kelihatan.., nanti malam jadwal les juga kan?, nggak usah masuk dulu"
"Aih... Nanti janjian mau main bayblade di tempat les, masuk les pokoknya..!"
"Naah, kalau begitu tidur dulu.." jawabku menemukan solusi.
Anakku segera menuju kamarnya, biasanya kalau siang ªku harus menemaninya sampai benar-benar terlelap, kalau tidak acara tidur siang akan gagal.
Baru saja kuhidupkan AC, dia berteriak, "Ma, mimisan!".
Darah segar mengalir dari dua jarinya yang mencoba menahan lubang hidungnya.
"Tekan sebelah sini!, jangan ditutup lubang hidungnya ya..! ªku mengarahkan salah satu jarinya.
"Pakai duduk sayang... Mama ambil tisu dulu.." bergegas kuraih tisu, ku ambil beberapa lembar, kugantikan posisi tangannya yang penuh darah, sebelah jariku menekan bagian tengah hidung perlahan, menghentikan pendarahannya.
Lubang hidungnya yang tak berdarah kubiarkan sebagai jalan nafasnya, Masih dalam posisi duduk.
Beberapa detik darah masih mengalir, namun sebentar kemudian pendarahan berhenti.
Kubersihkan bercak-bercak darah disekitar hidungnya. Lumayan banyak.
Kuambil air minum dingin, "Minum dulu yang banyak ya..! sambil kukompres air dingin di bagian tengah hidungnya.
Setelah benar-benar sembuh, kuanjurkan segera tidur. Tak lama kemudian dia terlelap, ªku pun juga.
Sore harinya, badannya masih hangat. Panadol, parasetamol, obat yang biasanya tersedia tinggal setetes saja.
Perutku juga kembung, teringat siang tadi belum makan, segera kutuduhkan maagku kambuh, ªku segera menelan obat maag, setelah makan sedikit tentunya.
Sambil ke apotik, kebetulan menyatu dengan klinik, ªku daftar ke dokter umum. Ternyata dokternya laki-laki, bajuku blus tanpa kancing depan, kuurungkan niat periksa.
ªku mendaftar hanya untuk periksa anakku saja. Cukup kuminta cek tensi darah, Alhamdulillah normal 125/90.
Daftar keluhanku untuk anak adalah; mimisan, panas, dahak yang tidak keluar, gendut badannya, pola mainnya dan mata.
"Selain panas semalam sampai sekarang, dahak dan mimisan, sebelumnya pernah sakit apa?"
"Nggak ada, ya biasanya pusing sebentar, pilek, sudah..." jawabku bingung. Memang anakku jarang sakit, "gendutnya ini lho, Dok, sehat nggak sih?"
Dokter itu malah tertawa, "Memang kalau gendut kenapa Bu?"
"ÎƔâä sih... Tapi Dokter melihatnya sehat nggak sih?" ªku masih belum yakin benar.
"Sehat... bagus malah, dia juga aktif kok, nggak masalah!"
Jawaban yang melegakan, aneh juga ªku panik seperti itu, tapi... Memang ªku merasa agak panikan akhir-akhir ini..
Tak ada penjelasan tentang pendarahan di hidungnya, 'hanya capek saja'
ªku mencarinya sendiri, mimisan / epistaksis adalah gejala yang biasa terjadi pada anak-anak, biasanya terjadi akibat kelainan lokal di rongga hidung ataupun tempat lainnya. Itu bisa disebabkan trauma seperti mengorek hidung terlalu keras, jatuh, terpukul, kemasukan benda asing ataupun iritasi gas yang merangsang.
Selain itu bisa juga akibat tumor jinak atapun ganas, perubahan iklim dan tekanan yang mendadak, juga penyebab lain yang belum diketahui pasti.
Penyakit yang juga disertai mimisan diantaranya jantung, kelainan pembuluh darah (seperti tekanan darah tinggi), kelainan darah (seperti turunnya kadar trombosit), gangguan pembekuan darah, leukimia dan juga infeksi seluruh tubuh (seperti demam berdarah, gangguan hormonal dan kelainan bawaan).
Penanganan mimisan prinsipnya adalah segera menghentikan pendarahan yang terjadi. Jika masih terus menerus tidak mau berhenti harus segera dirujuk ke dokter.
Komplikasi yang terjadi sesudahnya adalah syok dan anemia.
Secara umum mimisan 90 % akan berhenti dengan sendirinya setelah beberapa menit, asalkan segera ditangani maka komplikasi lebih lanjut jarang terjadi.
Semoga hanya akibat perubahan cuaca dan kelelahan saja...
Duuh, kasihan juga melihat darahnya lumayan banyak..
Sebelum berangkat sekolah dia mengeluh pusing, suhu tubuhnya juga hangat, tidak sehat. Kebiasaannya main komputer seminggu terakhir ini meningkat, pe er dan belajarnya yang lumayan malas jadi tambah malas.
Geregetan dan jengkel melihatnya, tapi dari pada melihatnya main bola sampai mandi keringat, ªku lebih sreg melihatnya duduk main game.
Tapi, dengan kebiasaannya itu dia seperti tak bersemangat, pemarah dan sering mengeluh pusing.
Semalam..
"Ma, pusing!, nggak usah belajar ya?"
"Nggak belajar gimana?, main game aja nggak pusing, kenapa belajar pusing?" ªku menyodorkan buku pelajaran, "Ayo, belajar dulu...!, stop komputernya..besok lagi...!"
Dengan uring-uringan dia menutup akun fbnya, belajar secepat kilat dan segera beralih ke tv langganannya.
"Udah malam... Tidur, istirahat!, kasihan matanya capek!"
"Mama kejam!, lihat tv saja nggak boleh!, jangan maksa-maksa gitu sih!"
"Kan sudah jamnya tidur...!" jawabku mengakhiri perdebatan.
Pagi tadi...
"Kok masih pusing ya Ma?", sebenarnya ada pe er sih.. Tapi teman-teman banyak yang belum mengerjakan kok" katanya sehabis mandi.
Kupegang jidatnya, panas sekitar 37,5 derajat.
"Minum obat lagi ya?, nanti jangan main dulu, pake baca-baca saja.." pesanku sebelum berangkat.
Tuduhanku pusing masih seputar pe ernya.
Pulangnya, langsung melempar tasnya dan menghambur ke sofa, tiduran.
"Kenapa? masih pusing?"
"ÎƔâä sih.." jawabnya lemas. Semenit kemudian, dia terlihat segar dan.."Main komputer ya?"
"Jangan dulu...!, makan dan minum obat, terus tidur...!", ªku mengambilkan makan siang dan sepiring martabak pesanannya pagi tadi.
"Habis makan ªku nggak mau tidur!" tangannya meraih martabak, satu persatu dilahapnya. Hampir separoh sudah masuk mengisi perutnya.
"Sudah tidak pusing lagi" katanya, terlihat sehat, kulihat matanya masih sayu.
"Cepet banget...kasihan matanya kecapekan habis sekolah, main komputer terus-terusan.., harus istirahat!"
"Tadi ªku bohong, bilang pusing agar tidak les bahasa Inggris, padahal nggak pusing" ungkapnya mengaku. Kecurigaanku memang mengarah kesitu.
"Tidur...! Matanya nggak sehat tuh..kelihatan.., nanti malam jadwal les juga kan?, nggak usah masuk dulu"
"Aih... Nanti janjian mau main bayblade di tempat les, masuk les pokoknya..!"
"Naah, kalau begitu tidur dulu.." jawabku menemukan solusi.
Anakku segera menuju kamarnya, biasanya kalau siang ªku harus menemaninya sampai benar-benar terlelap, kalau tidak acara tidur siang akan gagal.
Baru saja kuhidupkan AC, dia berteriak, "Ma, mimisan!".
Darah segar mengalir dari dua jarinya yang mencoba menahan lubang hidungnya.
"Tekan sebelah sini!, jangan ditutup lubang hidungnya ya..! ªku mengarahkan salah satu jarinya.
"Pakai duduk sayang... Mama ambil tisu dulu.." bergegas kuraih tisu, ku ambil beberapa lembar, kugantikan posisi tangannya yang penuh darah, sebelah jariku menekan bagian tengah hidung perlahan, menghentikan pendarahannya.
Lubang hidungnya yang tak berdarah kubiarkan sebagai jalan nafasnya, Masih dalam posisi duduk.
Beberapa detik darah masih mengalir, namun sebentar kemudian pendarahan berhenti.
Kubersihkan bercak-bercak darah disekitar hidungnya. Lumayan banyak.
Kuambil air minum dingin, "Minum dulu yang banyak ya..! sambil kukompres air dingin di bagian tengah hidungnya.
Setelah benar-benar sembuh, kuanjurkan segera tidur. Tak lama kemudian dia terlelap, ªku pun juga.
Sore harinya, badannya masih hangat. Panadol, parasetamol, obat yang biasanya tersedia tinggal setetes saja.
Perutku juga kembung, teringat siang tadi belum makan, segera kutuduhkan maagku kambuh, ªku segera menelan obat maag, setelah makan sedikit tentunya.
Sambil ke apotik, kebetulan menyatu dengan klinik, ªku daftar ke dokter umum. Ternyata dokternya laki-laki, bajuku blus tanpa kancing depan, kuurungkan niat periksa.
ªku mendaftar hanya untuk periksa anakku saja. Cukup kuminta cek tensi darah, Alhamdulillah normal 125/90.
Daftar keluhanku untuk anak adalah; mimisan, panas, dahak yang tidak keluar, gendut badannya, pola mainnya dan mata.
"Selain panas semalam sampai sekarang, dahak dan mimisan, sebelumnya pernah sakit apa?"
"Nggak ada, ya biasanya pusing sebentar, pilek, sudah..." jawabku bingung. Memang anakku jarang sakit, "gendutnya ini lho, Dok, sehat nggak sih?"
Dokter itu malah tertawa, "Memang kalau gendut kenapa Bu?"
"ÎƔâä sih... Tapi Dokter melihatnya sehat nggak sih?" ªku masih belum yakin benar.
"Sehat... bagus malah, dia juga aktif kok, nggak masalah!"
Jawaban yang melegakan, aneh juga ªku panik seperti itu, tapi... Memang ªku merasa agak panikan akhir-akhir ini..
Tak ada penjelasan tentang pendarahan di hidungnya, 'hanya capek saja'
ªku mencarinya sendiri, mimisan / epistaksis adalah gejala yang biasa terjadi pada anak-anak, biasanya terjadi akibat kelainan lokal di rongga hidung ataupun tempat lainnya. Itu bisa disebabkan trauma seperti mengorek hidung terlalu keras, jatuh, terpukul, kemasukan benda asing ataupun iritasi gas yang merangsang.
Selain itu bisa juga akibat tumor jinak atapun ganas, perubahan iklim dan tekanan yang mendadak, juga penyebab lain yang belum diketahui pasti.
Penyakit yang juga disertai mimisan diantaranya jantung, kelainan pembuluh darah (seperti tekanan darah tinggi), kelainan darah (seperti turunnya kadar trombosit), gangguan pembekuan darah, leukimia dan juga infeksi seluruh tubuh (seperti demam berdarah, gangguan hormonal dan kelainan bawaan).
Penanganan mimisan prinsipnya adalah segera menghentikan pendarahan yang terjadi. Jika masih terus menerus tidak mau berhenti harus segera dirujuk ke dokter.
Komplikasi yang terjadi sesudahnya adalah syok dan anemia.
Secara umum mimisan 90 % akan berhenti dengan sendirinya setelah beberapa menit, asalkan segera ditangani maka komplikasi lebih lanjut jarang terjadi.
Semoga hanya akibat perubahan cuaca dan kelelahan saja...
Label:
Note-ku,
Sharing,
Smart Parenting,
Umroh
Sabtu, 12 Februari 2011
Mau Pinter Matematika ?? Les Musik Ajah...
Mencari cari cara mengatasi problem Anti Matematik anakku, menuntunku pada satu buku Bunda Lucy tentang Painting Your Children's Future.
Penggagas Smart Talent ini memberiku penyemangat untuk tetap optimis menjadi ibu terbaik buat jagoan sainsku.
Antara Sains dan Matematik biasanya selalu beriringan. Namun anakku justru memesan SMPnya adalah jurusan Sains tapi tak ada pelajaran Matematiknya. Betapa beratnya dia menghafalkan perkalian deret sepuluh pertamanya, apalagi jika berhadapan dengan problem solving.
Jika besok ada ulangan Matematik, semalaman sudah meriang duluan. he he
Sebenarnya ada cara mudahnya menghafal hitungan sulit itu, saat dia beraktifitas (biasanya menendang bola , berlarian teratur , meloncat kursi )dia akan dengan cepat menjawab pertanyaan2ku. Harusnya sudah kutangkap sinyal kearah petunjuk buku itu, gerakannya selalu beraturan,identik dengan musik yang menggunakan irama, tempo, pembangkit semangat dan mood seseorang.
Musik adalah bahasa universal dan otak kanan mengendalikan persepsi dan penciptaan musik.Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains.
Seorang ahli syaraf Dr. Mark Tramko dari Harvard Medical School membuktikan adanya tumpang tindih pada sel otak yang memproses music, bahasa, logika matematika dan abstract reasoning. Music menciptakan mood atau suasana yang menyenangkan untuk mendukung siswa belajar.
Anakku cepat menghafal sebuah lagu dan gemar mengetukkan kaki dan tangannya mengikuti irama lagu, artinya kecerdasan musiknya berkembang, dengan begitu kemampuan matematikanya bisa diasah dengan bantuan kecerdasan musiknya.
Besok akan mulai kucoba teori menyenangkan ini. Tak mengapa mengiringinya belajar dengan mendengarkan musik kesukaannya, asalkan teori itu membuktikan benar, aku akan merekomendasikannya untuk kalian.
Btw....untukku yang tak pernah bisa menghafal lagu satupun, bisa nggak ya dibuat teori terbalik ??
Perlu dicoba juga...
Penggagas Smart Talent ini memberiku penyemangat untuk tetap optimis menjadi ibu terbaik buat jagoan sainsku.
Antara Sains dan Matematik biasanya selalu beriringan. Namun anakku justru memesan SMPnya adalah jurusan Sains tapi tak ada pelajaran Matematiknya. Betapa beratnya dia menghafalkan perkalian deret sepuluh pertamanya, apalagi jika berhadapan dengan problem solving.
Jika besok ada ulangan Matematik, semalaman sudah meriang duluan. he he
Sebenarnya ada cara mudahnya menghafal hitungan sulit itu, saat dia beraktifitas (biasanya menendang bola , berlarian teratur , meloncat kursi )dia akan dengan cepat menjawab pertanyaan2ku. Harusnya sudah kutangkap sinyal kearah petunjuk buku itu, gerakannya selalu beraturan,identik dengan musik yang menggunakan irama, tempo, pembangkit semangat dan mood seseorang.
Musik adalah bahasa universal dan otak kanan mengendalikan persepsi dan penciptaan musik.Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains.
Seorang ahli syaraf Dr. Mark Tramko dari Harvard Medical School membuktikan adanya tumpang tindih pada sel otak yang memproses music, bahasa, logika matematika dan abstract reasoning. Music menciptakan mood atau suasana yang menyenangkan untuk mendukung siswa belajar.
Anakku cepat menghafal sebuah lagu dan gemar mengetukkan kaki dan tangannya mengikuti irama lagu, artinya kecerdasan musiknya berkembang, dengan begitu kemampuan matematikanya bisa diasah dengan bantuan kecerdasan musiknya.
Besok akan mulai kucoba teori menyenangkan ini. Tak mengapa mengiringinya belajar dengan mendengarkan musik kesukaannya, asalkan teori itu membuktikan benar, aku akan merekomendasikannya untuk kalian.
Btw....untukku yang tak pernah bisa menghafal lagu satupun, bisa nggak ya dibuat teori terbalik ??
Perlu dicoba juga...
Selasa, 14 Desember 2010
HURUF F
Besok (hari ini_red) ulangan terakhir. IPS dan Bahasa Inggris penutupnya. Dua pelajaran dengan rekor remidial terlengkap, 3 x berturut turut.Maksimal istilahnya dan sampai saat itu perolehan nilainya butuh sekali lagi remedial, menurutku.
Tapi anakku belum bosan juga ,padahal aku sudah bosan, gurunyapun sudah bosan, kepala sekolah bosan, Mendikbud bosan, Presiden bosan dan yang mendengarpun bosan.Dia cekikikan riang dengan istilahku, baru kucuplik dari si Ikal jelek semalam.
Lumayan banyak yang mesti dihapal, silsilah kerajaan yang sebenarnya dia gemari dari sesi berceritanya, kalau sang guru memahami titik kuatnya menghapal.Peninggalan sejarah yang nota bene gampang kudengar dari celoteh membosankannya sepanjang perjalanan liburan lebaran kemarin, membuatku mual karena mataku harus mengikuti setiap gerakannya membawakan teatrikal sejarah berdirinya candi2 yang bakal dia kunjungi, padahal aku divonis sylindris.Perjalanan itu terpangkas seratus kilometer akhirnya, berkat dia.
Sedari pulang sekolah ada saja kesibukannya mengalihkanku agar tak segera memulai membuka buku, dengan halus mempersilahkanku istirahat siang, mungkin mendengar aku mengeluh sakit pinggang, cucianku lumayan banyak pagi tadi.
"Mama nggak tidur siang ? Nanti aja belajarnya ya ?", wajahnya memelas.
Karena aku paham dia overload minggu kemarin, maka aku hanya mengatakan, "Jangan sampai ikut2an bosan lho ya ".
Aku terlelap setengah jam, heran , padahal biasanya susah aku terpejam disiang bolong, aku mencoba tidur kali ini dikamarnya, dingin dan tak berisik lalu lalangnya ke kamar mandi, main air.
"Mama, coba tutup matanya, aku membereskan lemari mainan..",dituntunnya aku dengan mata tertutup.
"Waduuh, berantakan begini siapa yang membereskan nanti?", kerjaan baru buatku , seisi lemari diruang tamu berserakan, sudah mau Asyar.
"Ini sampai beres sudah membuang waktunya belajar Say, padahal belum dibuka semua kan ?", gerutuku menjaga emosi.
"Ya udah, Aku belajar, Mama yang mberesin, nanti aku bantuin membakar sampahnya", solusinya tepat, menurutku juga, untuk saat ini.
Selesai Magrib kami selesai dengan tugasnya masing masing, kulihat dia serius dengan tanggung jawabnya, minimal ganjaran remidinya membuatnya lancar menemukan dimana kalimat dan kata2 yang mesti dihapalnya, pikirku.
"Boleh liat TV ? ", pintanya mengakhiri tugas dilembar terakhir.
"Boleh, tapi harus menjawab pertanyaan Mama dulu ", aku mencari ditengah2 buku. IPS dulu, karena Bahasa Inggris kemungkinan besar dia lebih bisa mengasainya.
Aku mulai bertanya;"Prasasti peninggalan sejarah jaman kerajaan Tarumanegara menggunakan huruf ... ".
" F " , jawabnya percaya diri.
Wajahku serius menahan tawa ; " Harusnya huruf "T" sayang....bukannya Tarumanegara ? bukan Farumanegara ??".
Tapi anakku belum bosan juga ,padahal aku sudah bosan, gurunyapun sudah bosan, kepala sekolah bosan, Mendikbud bosan, Presiden bosan dan yang mendengarpun bosan.Dia cekikikan riang dengan istilahku, baru kucuplik dari si Ikal jelek semalam.
Lumayan banyak yang mesti dihapal, silsilah kerajaan yang sebenarnya dia gemari dari sesi berceritanya, kalau sang guru memahami titik kuatnya menghapal.Peninggalan sejarah yang nota bene gampang kudengar dari celoteh membosankannya sepanjang perjalanan liburan lebaran kemarin, membuatku mual karena mataku harus mengikuti setiap gerakannya membawakan teatrikal sejarah berdirinya candi2 yang bakal dia kunjungi, padahal aku divonis sylindris.Perjalanan itu terpangkas seratus kilometer akhirnya, berkat dia.
Sedari pulang sekolah ada saja kesibukannya mengalihkanku agar tak segera memulai membuka buku, dengan halus mempersilahkanku istirahat siang, mungkin mendengar aku mengeluh sakit pinggang, cucianku lumayan banyak pagi tadi.
"Mama nggak tidur siang ? Nanti aja belajarnya ya ?", wajahnya memelas.
Karena aku paham dia overload minggu kemarin, maka aku hanya mengatakan, "Jangan sampai ikut2an bosan lho ya ".
Aku terlelap setengah jam, heran , padahal biasanya susah aku terpejam disiang bolong, aku mencoba tidur kali ini dikamarnya, dingin dan tak berisik lalu lalangnya ke kamar mandi, main air.
"Mama, coba tutup matanya, aku membereskan lemari mainan..",dituntunnya aku dengan mata tertutup.
"Waduuh, berantakan begini siapa yang membereskan nanti?", kerjaan baru buatku , seisi lemari diruang tamu berserakan, sudah mau Asyar.
![]() |
| Berserakan |
"Ini sampai beres sudah membuang waktunya belajar Say, padahal belum dibuka semua kan ?", gerutuku menjaga emosi.
"Ya udah, Aku belajar, Mama yang mberesin, nanti aku bantuin membakar sampahnya", solusinya tepat, menurutku juga, untuk saat ini.
![]() |
| Asyik bermain api |
Selesai Magrib kami selesai dengan tugasnya masing masing, kulihat dia serius dengan tanggung jawabnya, minimal ganjaran remidinya membuatnya lancar menemukan dimana kalimat dan kata2 yang mesti dihapalnya, pikirku.
"Boleh liat TV ? ", pintanya mengakhiri tugas dilembar terakhir.
"Boleh, tapi harus menjawab pertanyaan Mama dulu ", aku mencari ditengah2 buku. IPS dulu, karena Bahasa Inggris kemungkinan besar dia lebih bisa mengasainya.
Aku mulai bertanya;"Prasasti peninggalan sejarah jaman kerajaan Tarumanegara menggunakan huruf ... ".
" F " , jawabnya percaya diri.
Wajahku serius menahan tawa ; " Harusnya huruf "T" sayang....bukannya Tarumanegara ? bukan Farumanegara ??".
Kamis, 02 Desember 2010
Namanya Keong !
Pagi pagi jadi kelabakan buka Internet, sungkem mbah gogel. Nuwun sewu mbah.... pingin ngertos lirik lagune si Keong Racun yang lagi heboh... ??
Dasar kau keong racun
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy
*
Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan
Sebelum tidur, anakku pamer atraksi joged lucu, senam irama katanya. Lagu yang dipilih kelompoknya adalah Keong Racun, katanya biar semangat. Namanya juga senam, kalau lagunya qosidahan ya gak seru...
Salah satu kelompok yang lain mengambil lagu qosidah, berikut sedikit bocoran gerakannya yang jauh dari teori senam. Dia sedikit meledek kelompok temannya itu.
Dua tangannya dikepal, maju mundur bersamaan, dengan hentakan kakinya juga mengikuti irama musik Keong racun, gerakan kakinya ke kanan dan kekiri.
Ada selingan " Jib ajib ajib ajib ajib ", gaya goyang goyang kepala dengan telunjuk mengacung didepan wajah.
Saat Reff, mulutnya digerakkan bersamaan dengan gerakan jari2 tangan, seperti gerakan pelawak Tukul Arwana.
Sampai keluar air mataku tertawa melihatnya. Kok bisa temannya itu merangkai gerakan unik senam sangat pas dengan irama musiknya yang konyol. Kalau nggak salah Kevin namanya. Mamanya pasti jago senam...
Tak ada iringan musik dan lagunya, lha memang aku sendiri tak hapal lagunya, untungnya dia juga tak begitu sering mendengarnya, namun pelan tapi pasti dia akan cepat menghapalnya, tunggu saja hari ini...
Dia sedang latihan terakhirnya, besok sudah dipraktekkan sebagai ujian praktek Olah Raga.
Setengah jam beraksi, cukup memberikan angin segar penghantar tidurnya.
" Doa dulu, apa masih ada yang mau dicritain ? kok masih belum mengantuk kayaknya ? ", ku betulkan selimut panjangnya.
" Ada sih...kenapa kalo pacaran kok ada tidurnya ? ", tanyanya polos.
Aku agak kaget mendengar pertanyaannya, lupa2 ingat aku langsung menuduh lirik lagu si Keong, kalau gak salah memang ada kata2 itu...
"Pasti dari lagu Keong racun kan ?? ", dia tersenyum mengiyakan.
" Namanya juga Keong, bikin lagunya pasti asal deh...", Kuusap dan cium kepalanya.
"Mmuah...mimpiin Mama ya..."
Dasar kau keong racun
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy
*
Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan
Sebelum tidur, anakku pamer atraksi joged lucu, senam irama katanya. Lagu yang dipilih kelompoknya adalah Keong Racun, katanya biar semangat. Namanya juga senam, kalau lagunya qosidahan ya gak seru...
Salah satu kelompok yang lain mengambil lagu qosidah, berikut sedikit bocoran gerakannya yang jauh dari teori senam. Dia sedikit meledek kelompok temannya itu.
Dua tangannya dikepal, maju mundur bersamaan, dengan hentakan kakinya juga mengikuti irama musik Keong racun, gerakan kakinya ke kanan dan kekiri.
Ada selingan " Jib ajib ajib ajib ajib ", gaya goyang goyang kepala dengan telunjuk mengacung didepan wajah.
Saat Reff, mulutnya digerakkan bersamaan dengan gerakan jari2 tangan, seperti gerakan pelawak Tukul Arwana.
Sampai keluar air mataku tertawa melihatnya. Kok bisa temannya itu merangkai gerakan unik senam sangat pas dengan irama musiknya yang konyol. Kalau nggak salah Kevin namanya. Mamanya pasti jago senam...
Tak ada iringan musik dan lagunya, lha memang aku sendiri tak hapal lagunya, untungnya dia juga tak begitu sering mendengarnya, namun pelan tapi pasti dia akan cepat menghapalnya, tunggu saja hari ini...
Dia sedang latihan terakhirnya, besok sudah dipraktekkan sebagai ujian praktek Olah Raga.
Setengah jam beraksi, cukup memberikan angin segar penghantar tidurnya.
" Doa dulu, apa masih ada yang mau dicritain ? kok masih belum mengantuk kayaknya ? ", ku betulkan selimut panjangnya.
" Ada sih...kenapa kalo pacaran kok ada tidurnya ? ", tanyanya polos.
Aku agak kaget mendengar pertanyaannya, lupa2 ingat aku langsung menuduh lirik lagu si Keong, kalau gak salah memang ada kata2 itu...
"Pasti dari lagu Keong racun kan ?? ", dia tersenyum mengiyakan.
" Namanya juga Keong, bikin lagunya pasti asal deh...", Kuusap dan cium kepalanya.
"Mmuah...mimpiin Mama ya..."
Rabu, 01 Desember 2010
Aji Pamungkas
Terkejut mendengar pengakuannya malam ini, " Mama , aku dapat julukan baru dikelas ' Si Raja Ngawur ! ', hebat kan ?? "
"Kok bisa ? ", tanyaku kalem.
" Ya iya lah, setiap ada kuis dan pertanyaan, aku paling cepat menjawab, gak usah mikir lagi, ngawur aja !, eh.. banyak yang bener, padahal jelas2 aku ngarang !..", semangat menjawabnya sampai terlihat matanya yang bulat bersinar kegirangan.
" Kalau jawabnya benar, berarti nggak ngawur sayang....itu tandanya Anak Mama pinter, gak usah mikir lama aja sudah bener njawabnya...", jawabku menepis aji mumpungnya untuk tak perlu lagi belajar.
" Mama nggak percaya,buktinya aku dapat gelar itu kan ??", mulai terlihat tanda2nya kesal sambil melirik remote TV yang sedari tadi dia genggam.
"Nih, mau nggak Mama ajarin jurusnya Mama...buat anak yang jadi Raja Ngawur.., Hebat lho, gak perlu lama2 juga mikir kok, cukup Konsentration..mau ?? ", sembari ku gelar LKnya yang tertulis angka 36.
Penasaran juga kelihatannya, terlihat dari caranya memandangku, " asik...memang mama dulu juga jadi Raja Ngawur ?? ".
"May be....tapi Mama pakai jurus ini, jadi banyak yang benar jawaban Mama....".
" Kalau ada soal yang banyaak banget, pusing kan ?
nah...Baca do'a dulu trus ikutin caranya Mama...
1. Pilih yang kelihatannya paling gampang dulu, jadi sebelum pusingnya datang, lumayan kita udah mengerjakan beberapa soal yang gampang...
" Itu juga ilmunya Bu Guru ,Ma...pasti kalau mau ulangan Bu Guru bilang kayak gitu...", sanggahnya.
Itu berarti jurusku sudah mulus didengarnya...
2. Matematika biasanya banyak angka, makanya jangan salah nulisnya...kalo nulis soalnya aja salah, apalagi jawabannya, rugi dunk...kita udah capek ngitung, ternyata salah gara2 nulis soalnya...
Itu yang sering mama liat dari LKnya Ihsan...salah nulis.
" Memang !...bukannya aku nggak pinter Ma, tapi memang Bu Guru yang gak bisa baca tulisanku, gimana sih ya, harusnya Guru itu pinter semuanya, termasuk mbaca tulisan muridnya..".
"Menurut Mama bener juga sih...gara2 tulisannya kayaknya,mulai besok harus bagus dan lebih diteliti lagi ya".
Itu memberinya harapan, bahwa sebenarnya dia bisa !!.
3. Kalau soalnya pilihan, cari yang jawabannya masuk di akal!
Silang dulu yang gak masuk logika, misalnya 124 x 25 = ...., (aku mengambil kertas kosong, memberinya contoh soal, agar dia lebih mengerti..)
ada jawabannya ; a = ....5 b = ......0
c = .....0 d = ......6
liat angka paling belakang dari soal, ada 4 dan ada 5
Perkaliannya pasti hasilnya 20, angka belakangnya 0
Berarti cari yg jawabannya berangka belakang 0
Jawaban Ihsan kalo gak b atau c
Yang a dan d di coret dulu, sebab pasti salahnya.
Paling bagus sih ya harus dihitung.....biar ngawurnya bener....
Tapi kita sudah berhasil mengurangi jwbn yang jelas salah kan ???
Begitu juga pelajaran yang lainnya, cari jawaban yang kalau sudah tau itu salah, jangan dipilih !,mending memilih yang kita tidak tau, mungkin itu memang jawabannya, soalnya aja bingung, berarti jawabannya pasti susah...cocok deh.
4. Jangan beritahu Bu Guru kalau tadi itu ngawur... nanti dikira Ihsan gak belajar, ketahuan lho kalau waktunya belajar dipakai liat TV..
"Itu tadi namanya Aji Pamungkas...", gelitikku , sambil mengedipkan mata.
"Coba Mama pingin liat, Aji pamungkas Ihsan sakti nggak ya..?? , ini kan salah semua, coba dibenerin 10 soal saja, ingat , jangan lama2 mikirnya, pakai ilmu yang mama kasih tadi..Ok.."
Serius kulihat mimik mukanya, aku menghela napas lega, bukan karena dia benar2 serius ke soal sih, itu juga karena kartun kesukaannya sepuluh menit lagi dimulai....
Itu juga batasan waktunya untuk 10 soal ujiannya.
"Kok bisa ? ", tanyaku kalem.
" Ya iya lah, setiap ada kuis dan pertanyaan, aku paling cepat menjawab, gak usah mikir lagi, ngawur aja !, eh.. banyak yang bener, padahal jelas2 aku ngarang !..", semangat menjawabnya sampai terlihat matanya yang bulat bersinar kegirangan.
" Kalau jawabnya benar, berarti nggak ngawur sayang....itu tandanya Anak Mama pinter, gak usah mikir lama aja sudah bener njawabnya...", jawabku menepis aji mumpungnya untuk tak perlu lagi belajar.
" Mama nggak percaya,buktinya aku dapat gelar itu kan ??", mulai terlihat tanda2nya kesal sambil melirik remote TV yang sedari tadi dia genggam.
"Nih, mau nggak Mama ajarin jurusnya Mama...buat anak yang jadi Raja Ngawur.., Hebat lho, gak perlu lama2 juga mikir kok, cukup Konsentration..mau ?? ", sembari ku gelar LKnya yang tertulis angka 36.
Penasaran juga kelihatannya, terlihat dari caranya memandangku, " asik...memang mama dulu juga jadi Raja Ngawur ?? ".
"May be....tapi Mama pakai jurus ini, jadi banyak yang benar jawaban Mama....".
" Kalau ada soal yang banyaak banget, pusing kan ?
nah...Baca do'a dulu trus ikutin caranya Mama...
1. Pilih yang kelihatannya paling gampang dulu, jadi sebelum pusingnya datang, lumayan kita udah mengerjakan beberapa soal yang gampang...
" Itu juga ilmunya Bu Guru ,Ma...pasti kalau mau ulangan Bu Guru bilang kayak gitu...", sanggahnya.
Itu berarti jurusku sudah mulus didengarnya...
2. Matematika biasanya banyak angka, makanya jangan salah nulisnya...kalo nulis soalnya aja salah, apalagi jawabannya, rugi dunk...kita udah capek ngitung, ternyata salah gara2 nulis soalnya...
Itu yang sering mama liat dari LKnya Ihsan...salah nulis.
" Memang !...bukannya aku nggak pinter Ma, tapi memang Bu Guru yang gak bisa baca tulisanku, gimana sih ya, harusnya Guru itu pinter semuanya, termasuk mbaca tulisan muridnya..".
"Menurut Mama bener juga sih...gara2 tulisannya kayaknya,mulai besok harus bagus dan lebih diteliti lagi ya".
Itu memberinya harapan, bahwa sebenarnya dia bisa !!.
3. Kalau soalnya pilihan, cari yang jawabannya masuk di akal!
Silang dulu yang gak masuk logika, misalnya 124 x 25 = ...., (aku mengambil kertas kosong, memberinya contoh soal, agar dia lebih mengerti..)
ada jawabannya ; a = ....5 b = ......0
c = .....0 d = ......6
liat angka paling belakang dari soal, ada 4 dan ada 5
Perkaliannya pasti hasilnya 20, angka belakangnya 0
Berarti cari yg jawabannya berangka belakang 0
Jawaban Ihsan kalo gak b atau c
Yang a dan d di coret dulu, sebab pasti salahnya.
Paling bagus sih ya harus dihitung.....biar ngawurnya bener....
Tapi kita sudah berhasil mengurangi jwbn yang jelas salah kan ???
Begitu juga pelajaran yang lainnya, cari jawaban yang kalau sudah tau itu salah, jangan dipilih !,mending memilih yang kita tidak tau, mungkin itu memang jawabannya, soalnya aja bingung, berarti jawabannya pasti susah...cocok deh.
4. Jangan beritahu Bu Guru kalau tadi itu ngawur... nanti dikira Ihsan gak belajar, ketahuan lho kalau waktunya belajar dipakai liat TV..
"Itu tadi namanya Aji Pamungkas...", gelitikku , sambil mengedipkan mata.
"Coba Mama pingin liat, Aji pamungkas Ihsan sakti nggak ya..?? , ini kan salah semua, coba dibenerin 10 soal saja, ingat , jangan lama2 mikirnya, pakai ilmu yang mama kasih tadi..Ok.."
![]() |
| Sedang serius |
Itu juga batasan waktunya untuk 10 soal ujiannya.
![]() |
| Masih sempat bercanda |
Rabu, 24 November 2010
Kena Kau !!
Was was dengan tragedi angka minim kemarin, sudah ku buat agenda istimewa untuknya.
Aku tau dia tak mampu berfikir dalam tekanan" harus bisa !...", yang ada adalah" enjoy aja". tapi karena sebentar lagi harus ulangan, aku harus ambil tindakan malam nanti, karena besok masih ada Matematika, ditambah lagi Bahasa Arab yang lumayan tinggi levelnya, untuk ukuran dia yang dua tahun kemarin tak menerima pelajaran itu.
Sudah kusiapkan Es Cream coklat kesukaannya, Cumi goreng tepung dan Air Kelapa Muda, hm...pasti sepulang sekolah dia akan ceria, saat itu aku akan memanfaatkan untuk mengajaknya bermain rumus Matematika. Tak susah sebenarnya belajar Matematika, malah menurutku itu menyenangkan, kenapa anakku tak mewarisi kegemaranku ini ya ?? ah, belum kali...
Jam 15.00, tiiiiit....jagoanku muncul dengan wajah kuyu sekali, waduuuuh..pusing lagi kayaknya.
"Pusing Ma...", sambil manja dia memintaku melepaskan atribut sekolahnya.
"Kenapa ?...sudah makan cateringnya belum ? ", tanyaku
"Sudah tuh...".
" Makan dulu yuk, ada kesukaannya Ihsan ...'. Buru buru ku suguhkan sebelum dia meraih remote TV.
" Mungkin pelajarannya sulit kali ya ?", pancingku pelan.
"Enggak ok Ma, biasa aja..., habis magrib nanti gak usah belajar ya Ma, kan sudah tidak remidi Matematika lagi, katanya maksimal tiga kali kok...aku masih pusing...", itulah gaya merengeknya yang sudah aku hapal bener...
" Yang penting makan dan istirahat dulu, biar pusingnya hilang sayang..apa kata nanti deh...", aku membuatnya tak membantah dulu.
Benar juga, setengah jam kemudian dia sudah sibuk dengan kertas HVS, Penggaris dan Pencil . Tengkurap setengah telanjang didepan TV, ku hitung sudah 6 lembar coretannya bergambar mobil ferari ala dia...seperti biasa, selembar gambarnya sudah memuat satu episode cerita. he he... mesti disimak detail gambarnya jika aku mendengar ceritanya.
Terlewat satu garis saja, sebuah cerita tak bisa kita cerna...
" Nanti keburu ngantuk lho...belum belajarnya..."
"Sebentar lagi Mama...kan belajarnya abis maghrib...".
Adzan Maghrib baru saja usai, setelah sholat dan mengaji, dia sudah terduduk lunglai di sofa, memeluk bantal seperti biasa, " Hayoo, bener kan, sudah mengantuk...belajar dulu..", pintaku bernada perintah.
Aku tak perlu menunggunya menjawab, berlomba dengan kantuknya, kuraih kertas dan mengajaknya mulai belajar, memainkan rumus, sebisa mungkin kubuat menyenangkan.
Tak sampai sepuluh menit, melihat matanya yang memerah, lemas, aku tak sampai hati juga. Akhirnya " Tidurlah dulu, besok selepas Subuh belajarnya ya...di ingat, ada Pe Er nggak ??'
"Ennnngggggggak..." jawabnya sambil tetap terpejam.
"Isya dulu, trus tidur.."
Dalam keadaan terpaksa yang ada nanti malah pemberntakan, lebih baik kubiarkan dulu tertidur, toh esok hari masih banyak waktu selepas Subuh, fresh juga pikirannya.
Jam 04.00 dia sudah terbangun, memelukku erat tanpa setahuku, " Mama , ayo sholat...", Seperti lima tahun lebih dewasa dari usianya, sifat kelaki-lakiannya yang aku suka.
Tanpa menunggu, dia bergegas menepati janjinya, meraih buku pelajaran dan mulai serius menantang pertanyaan dari aku, " Mau soal yang mana ? "...
Aku melihatnya sebentar, kupilihkan 2 nomer awal dan akhir dari sepuluh soal latihan semesteran. " Mama sambil goreng telor ya ?, bisa kan mengerjakan sendiri ? "...
" Lihat aja, sudah selesai.."
"Lho, cepet banget...benar lagi !! gitu kok bisa remidi sih ?? padahal anak Mama jago lho...", Jawabku memberinya harapan.
"Sekarang Bahasa Arab yang gak bisa, bantuin ya Ma...", alangkah senangnya aku, jika dia memilih meminta bantuanku, berarti dia benar2 tak punya pilihan lain. Sifatnya yang terlalu percaya diri "Bisa" seringkali menimbulkan perdebatan, karena dia tak mau mendengarkan masukan selain dari hasil pemikirannya sendiri. Hanya seorang 'Guru" yang bisa didengarnya..dan aku ibunya, bukan sebagai 'guru'nya.
Jam 06.20, tiiiiiit..antar jemputnya sudah didepan pintu, Alhamdulillah...sudah kutebus penyesalanku kemarin atas angka minim itu, hari ini pasti dia lebih baik...semoga, minimal aku sudah melihatnya membawa bekal ....
"Sudah ya Ma, Assalammu'alaikum...", diciumnya erat tanganku, sedikit pelukan dan ciuman tentunya.
Dengan nafas lega dan Do'a kulepas dia " Waalaikum salam...do'a dulu sayang....", aku bantu menutup pintu mobil.
"Mama...", tiba2 pintunya terbuka kembali.
"Ada apa say..uang sakunya udah kan ? "
" Nanti remidi IPS lagi...!! ha ha...", Wajahnya semringah kegirangan,tawanya masih kudengar nyaring, bersama antar jemput yang membawanya tiap pagi dan sore...
Sementara aku tersenyum kecut didepan pagar, terkesima sejenak dengan kemenangannya.
Aku tau dia tak mampu berfikir dalam tekanan" harus bisa !...", yang ada adalah" enjoy aja". tapi karena sebentar lagi harus ulangan, aku harus ambil tindakan malam nanti, karena besok masih ada Matematika, ditambah lagi Bahasa Arab yang lumayan tinggi levelnya, untuk ukuran dia yang dua tahun kemarin tak menerima pelajaran itu.
Sudah kusiapkan Es Cream coklat kesukaannya, Cumi goreng tepung dan Air Kelapa Muda, hm...pasti sepulang sekolah dia akan ceria, saat itu aku akan memanfaatkan untuk mengajaknya bermain rumus Matematika. Tak susah sebenarnya belajar Matematika, malah menurutku itu menyenangkan, kenapa anakku tak mewarisi kegemaranku ini ya ?? ah, belum kali...
Jam 15.00, tiiiiit....jagoanku muncul dengan wajah kuyu sekali, waduuuuh..pusing lagi kayaknya.
"Pusing Ma...", sambil manja dia memintaku melepaskan atribut sekolahnya.
"Kenapa ?...sudah makan cateringnya belum ? ", tanyaku
"Sudah tuh...".
" Makan dulu yuk, ada kesukaannya Ihsan ...'. Buru buru ku suguhkan sebelum dia meraih remote TV.
" Mungkin pelajarannya sulit kali ya ?", pancingku pelan.
"Enggak ok Ma, biasa aja..., habis magrib nanti gak usah belajar ya Ma, kan sudah tidak remidi Matematika lagi, katanya maksimal tiga kali kok...aku masih pusing...", itulah gaya merengeknya yang sudah aku hapal bener...
" Yang penting makan dan istirahat dulu, biar pusingnya hilang sayang..apa kata nanti deh...", aku membuatnya tak membantah dulu.
Benar juga, setengah jam kemudian dia sudah sibuk dengan kertas HVS, Penggaris dan Pencil . Tengkurap setengah telanjang didepan TV, ku hitung sudah 6 lembar coretannya bergambar mobil ferari ala dia...seperti biasa, selembar gambarnya sudah memuat satu episode cerita. he he... mesti disimak detail gambarnya jika aku mendengar ceritanya.
Terlewat satu garis saja, sebuah cerita tak bisa kita cerna...
" Nanti keburu ngantuk lho...belum belajarnya..."
"Sebentar lagi Mama...kan belajarnya abis maghrib...".
Adzan Maghrib baru saja usai, setelah sholat dan mengaji, dia sudah terduduk lunglai di sofa, memeluk bantal seperti biasa, " Hayoo, bener kan, sudah mengantuk...belajar dulu..", pintaku bernada perintah.
Aku tak perlu menunggunya menjawab, berlomba dengan kantuknya, kuraih kertas dan mengajaknya mulai belajar, memainkan rumus, sebisa mungkin kubuat menyenangkan.
Tak sampai sepuluh menit, melihat matanya yang memerah, lemas, aku tak sampai hati juga. Akhirnya " Tidurlah dulu, besok selepas Subuh belajarnya ya...di ingat, ada Pe Er nggak ??'
"Ennnngggggggak..." jawabnya sambil tetap terpejam.
"Isya dulu, trus tidur.."
Dalam keadaan terpaksa yang ada nanti malah pemberntakan, lebih baik kubiarkan dulu tertidur, toh esok hari masih banyak waktu selepas Subuh, fresh juga pikirannya.
Jam 04.00 dia sudah terbangun, memelukku erat tanpa setahuku, " Mama , ayo sholat...", Seperti lima tahun lebih dewasa dari usianya, sifat kelaki-lakiannya yang aku suka.
Tanpa menunggu, dia bergegas menepati janjinya, meraih buku pelajaran dan mulai serius menantang pertanyaan dari aku, " Mau soal yang mana ? "...
Aku melihatnya sebentar, kupilihkan 2 nomer awal dan akhir dari sepuluh soal latihan semesteran. " Mama sambil goreng telor ya ?, bisa kan mengerjakan sendiri ? "...
" Lihat aja, sudah selesai.."
"Lho, cepet banget...benar lagi !! gitu kok bisa remidi sih ?? padahal anak Mama jago lho...", Jawabku memberinya harapan.
"Sekarang Bahasa Arab yang gak bisa, bantuin ya Ma...", alangkah senangnya aku, jika dia memilih meminta bantuanku, berarti dia benar2 tak punya pilihan lain. Sifatnya yang terlalu percaya diri "Bisa" seringkali menimbulkan perdebatan, karena dia tak mau mendengarkan masukan selain dari hasil pemikirannya sendiri. Hanya seorang 'Guru" yang bisa didengarnya..dan aku ibunya, bukan sebagai 'guru'nya.
Jam 06.20, tiiiiiit..antar jemputnya sudah didepan pintu, Alhamdulillah...sudah kutebus penyesalanku kemarin atas angka minim itu, hari ini pasti dia lebih baik...semoga, minimal aku sudah melihatnya membawa bekal ....
"Sudah ya Ma, Assalammu'alaikum...", diciumnya erat tanganku, sedikit pelukan dan ciuman tentunya.
Dengan nafas lega dan Do'a kulepas dia " Waalaikum salam...do'a dulu sayang....", aku bantu menutup pintu mobil.
"Mama...", tiba2 pintunya terbuka kembali.
"Ada apa say..uang sakunya udah kan ? "
" Nanti remidi IPS lagi...!! ha ha...", Wajahnya semringah kegirangan,tawanya masih kudengar nyaring, bersama antar jemput yang membawanya tiap pagi dan sore...
Sementara aku tersenyum kecut didepan pagar, terkesima sejenak dengan kemenangannya.
Selasa, 23 November 2010
CERDIK
Wajahnya yang kuyu, memerah dan tenang berjalan cukup memberiku sinyal ada yang tak beres dengannya. Benar juga, suaranya lirih mengeluh," Pusing Ma..".
Spontan kuraih dia dalam pelukku, kasian banget, pasti kecapekan setelah seharian kemarin menghabiskan hari Minggunya dengan sang Ayah.
Setelah melahap sepotong burger dan teh hangat, kuberi obat penurun panas. Aku ingat, pagi tadi hanya setengah roti dan segelas susu yang mengisi sarapan paginya, pantas dia mengeluh pusing, energinya tak mencukupi nutrisi otaknya menghadapi Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
Jangan jangan hari ini remidial matematikanya yang ketiga, atau remidial Bahasa Inggrisnya yang kedua.
Nilai 33 untuk Matematika dan 20 Bahasa Inggrisnya membuatnya dituntut menyelesaikan perbaikan nilai untuk kali ke tiga, setelah seminggu yang lalu remidi ke duanya hanya naik sekitar sepuluh poin, 46 dan 30.
Setengah jam kemudian dengan Tom & Jerry, aku menemaninya menunggu reaksi penurun panas yang telah ku berikan tadi, Alhamdulillah...sudah mulai keluar celotehnya...
" Ma, lucu tadi si Adit, masa Bahasa Indonesia bisa dapat nilai 15, padahal itu pelajajaran paling gampang...", katanya mulai ber api2..
" Kenapa ? Remidi Bahasa Indonesia ?" Jawabku bersemangat juga..
" Enggak sih... hanya LK saja, disuruh menjelaskan tentang 'Surat', pertanyaannya begini ;" Disebut apakah yang mengirimkan surat ?", Adit menjawabnya " Tukang Pos..
" Siapakah yang mengirim surat ?, di jawab ' Kantor Pos..
"Apa saja isi surat ? di jawab " Pernikahan, ulang tahun dan pengajian...
" He he... payah si Adit...", Mukanya berseri mentertawakan sang teman yang konyol itu...
Setahuku pelajaran itu adalah pelajaran yang dia favoritkan, karena paling gampang.
Kulihat dia menunggu reaksiku, wajahnya masih terlihat menunggu, aku sedikit curiga, maka tanpa jeda aku buru2 bertanya : " Lha Ihsan dapat berapa ? "
Dengan muka lucunya, masih dengan senyum cerianya dia lantang menjawab, '' 20...hebat kan ?? masih lebih bagus dari Adit.....
Spontan kuraih dia dalam pelukku, kasian banget, pasti kecapekan setelah seharian kemarin menghabiskan hari Minggunya dengan sang Ayah.
Setelah melahap sepotong burger dan teh hangat, kuberi obat penurun panas. Aku ingat, pagi tadi hanya setengah roti dan segelas susu yang mengisi sarapan paginya, pantas dia mengeluh pusing, energinya tak mencukupi nutrisi otaknya menghadapi Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
Jangan jangan hari ini remidial matematikanya yang ketiga, atau remidial Bahasa Inggrisnya yang kedua.
Nilai 33 untuk Matematika dan 20 Bahasa Inggrisnya membuatnya dituntut menyelesaikan perbaikan nilai untuk kali ke tiga, setelah seminggu yang lalu remidi ke duanya hanya naik sekitar sepuluh poin, 46 dan 30.
![]() |
| Nilainya yang gak stabil |
Setengah jam kemudian dengan Tom & Jerry, aku menemaninya menunggu reaksi penurun panas yang telah ku berikan tadi, Alhamdulillah...sudah mulai keluar celotehnya...
" Ma, lucu tadi si Adit, masa Bahasa Indonesia bisa dapat nilai 15, padahal itu pelajajaran paling gampang...", katanya mulai ber api2..
" Kenapa ? Remidi Bahasa Indonesia ?" Jawabku bersemangat juga..
" Enggak sih... hanya LK saja, disuruh menjelaskan tentang 'Surat', pertanyaannya begini ;" Disebut apakah yang mengirimkan surat ?", Adit menjawabnya " Tukang Pos..
" Siapakah yang mengirim surat ?, di jawab ' Kantor Pos..
"Apa saja isi surat ? di jawab " Pernikahan, ulang tahun dan pengajian...
" He he... payah si Adit...", Mukanya berseri mentertawakan sang teman yang konyol itu...
Setahuku pelajaran itu adalah pelajaran yang dia favoritkan, karena paling gampang.
Kulihat dia menunggu reaksiku, wajahnya masih terlihat menunggu, aku sedikit curiga, maka tanpa jeda aku buru2 bertanya : " Lha Ihsan dapat berapa ? "
Dengan muka lucunya, masih dengan senyum cerianya dia lantang menjawab, '' 20...hebat kan ?? masih lebih bagus dari Adit.....
![]() |
| He he |
Senin, 23 Agustus 2010
Operasi Jantung
Senyum2 sendiri didepan komputer, antara bahagia dan penuh rasa syukur, ternyata setiap anak memang juara, alhamdulillah, malam ini Alloh memberiku rasa bahagia itu...
Hari2 seminggu ini adalah ulangan harian, tercatat sebagai murid baru, tentunya ada tahap adaptasi, dari sekolah lama yang multiple intelegent ke sekolah yang katanya menganut faham sama, namun jelas2 beda pendekatan terhadap anaknya...mirip sekolah umum, namun guru2nya lebih sabar , itu point plusnya...setidaknya aman buat anakku yang susah ditebak jalan pikirannya.
Sederet hasil ulangan, lembar kerja siswa itu tepatnya, dibagikan awal bulan kemarin, untuk nilai IPA, lumayan bagus, 85, 90 sampai 100 , maklum mapel favoritnya di sekolah lama adalah Sains.Rupanya masih membekas dalam di ingatannya, walaupun kata2 pertama yang terucap saat memulai kelas barunya adalah, "Aku sudah tidak suka pelajaran IPA !!" ups...pasti metode mengajarnya membosankan.
Hasil Ulangan PAI, juga datar2 saja, dibawah 70, walaupun pernah sekali Bahasa Arab mendapat nilai 90. wow, surprise donk..sudah hampir 2 tahun tak mendapat pelajaran bahasa arab, setelah kepindahannya dari sekolah pertamanya.
Tahun pertama SD sampai kelas 3 pertengahan, dia pindah sekolah kedua , kenaikan kelas 5 inilah dia memulai kelas barunya saat ini dikota Jakarta.
Nilai IPS, PKN standart saja, dari dulu dia suka IPS dan sejenisnya karena dia menganggap itulah pelajaran paling gampang, nyatanya nilainya tak pernah lebih dari angka 70 saja..alasan agar dia terhindar dari tekanan berfikir berat...^-^.
Bahasa Indonesia secara umum adalah gampang, hanya saja bagi anakku ini memang pelajaran paling digemari, karena tanpa belajarpun pasti masih bisa, nilai2nya berkisar 75, banyak faktor juga sih, sepertinya sang guru susah mengeja tulisan anakku yang ala kadarnya. aku juga, mamanya susah mengeja tulisannya...
Matematika ?? deretan angka 32, 40, 50 sampai 55 adalah koleksi nilainya, pernah juga angka 72 berhasil diraihnya dengan susah payah, dia sendiri yang menyebutnya demikian, prestasi yang sepertinya adalah perjuangan yang amat berat,akupun melihatnya demikian.
Sebenarnya, tidak separah image nilai yang jelas2 tak membanggakan, tapi bukan itu yang jadi penilaianku. Untuk type anak seperti dia, konsentrasi ternyata hal yang sulit dan yang paling penting adalah, bukan hal2 matematis yang menggerakkan otaknya terangsang untuk bekerja.
Malam ini agendanya belajar IPS, besok adalah ulangan harian IPS dan Bahasa Inggris.Kulihat serius juga sih dia membolak balik buku diktatnya, sesekali meminum minuman k0tak bekunya. Aku tau dia sedang tidak fokus ke buku yang didepannya.
Dahinya mengernyit keatas, pertanda dia sedang berfikir serius, benar juga, melihatku selesai mengaji, buru2 diajaknya aku ke kamar, ini dia sederet pertanyaanya yang membuatku pusing sepuluh keliling !!
Kenapa orang saat dioprasi jantungnya kok tidak mati, gimana cara mengoprasinya, kan jantungnya mesti dibedah, berarti jantungnya dicopot dari tubuh...
Saat dioprasi apakah jantungnya masih berdetak?
Kalo sudah selesai, gimana njahit dan nyambung lagi jantung dan urat2nya yang kecil, yang banyak juga, kok tidak bocor ya ??
ini lagi Ma.. orang kalo ada batu ginjalnya, ternyata sekarang tidak usah dioprasi ginjalnya, cukup ditembak dengan sinar laser, kenapa kulit dan daging kita tidak lobang ya ?? kan ginjal didalam tubuh ??
Matanya berbinar , walaupun setengah mengantuk, saat ini dia menjadi dirinya, begitu antusias, pertanyaan2nya mengalir polos, lengkap dan detail, seolah2 harapannya besar ada didepan matanya....Mama, aku pingin punya alat seperti itu...
Senyumku mengembang, bahagia banget...anakku yang cita2nya hanya seorang Koki dan Pemadam Kebakaran, ternyata ingin juga punya alat untuk oprasi jantung..Alhamdulillah...
...................malam ini mama mencari jawabnya buat besok kalo terbangun dan membahasnya kembali, Eits, masalahnya adalah pertanyaannya tentang sinar laser, belum aku jawab, ^-^..
Hari2 seminggu ini adalah ulangan harian, tercatat sebagai murid baru, tentunya ada tahap adaptasi, dari sekolah lama yang multiple intelegent ke sekolah yang katanya menganut faham sama, namun jelas2 beda pendekatan terhadap anaknya...mirip sekolah umum, namun guru2nya lebih sabar , itu point plusnya...setidaknya aman buat anakku yang susah ditebak jalan pikirannya.
Sederet hasil ulangan, lembar kerja siswa itu tepatnya, dibagikan awal bulan kemarin, untuk nilai IPA, lumayan bagus, 85, 90 sampai 100 , maklum mapel favoritnya di sekolah lama adalah Sains.Rupanya masih membekas dalam di ingatannya, walaupun kata2 pertama yang terucap saat memulai kelas barunya adalah, "Aku sudah tidak suka pelajaran IPA !!" ups...pasti metode mengajarnya membosankan.
Hasil Ulangan PAI, juga datar2 saja, dibawah 70, walaupun pernah sekali Bahasa Arab mendapat nilai 90. wow, surprise donk..sudah hampir 2 tahun tak mendapat pelajaran bahasa arab, setelah kepindahannya dari sekolah pertamanya.
Tahun pertama SD sampai kelas 3 pertengahan, dia pindah sekolah kedua , kenaikan kelas 5 inilah dia memulai kelas barunya saat ini dikota Jakarta.
Nilai IPS, PKN standart saja, dari dulu dia suka IPS dan sejenisnya karena dia menganggap itulah pelajaran paling gampang, nyatanya nilainya tak pernah lebih dari angka 70 saja..alasan agar dia terhindar dari tekanan berfikir berat...^-^.
Bahasa Indonesia secara umum adalah gampang, hanya saja bagi anakku ini memang pelajaran paling digemari, karena tanpa belajarpun pasti masih bisa, nilai2nya berkisar 75, banyak faktor juga sih, sepertinya sang guru susah mengeja tulisan anakku yang ala kadarnya. aku juga, mamanya susah mengeja tulisannya...
Matematika ?? deretan angka 32, 40, 50 sampai 55 adalah koleksi nilainya, pernah juga angka 72 berhasil diraihnya dengan susah payah, dia sendiri yang menyebutnya demikian, prestasi yang sepertinya adalah perjuangan yang amat berat,akupun melihatnya demikian.
Sebenarnya, tidak separah image nilai yang jelas2 tak membanggakan, tapi bukan itu yang jadi penilaianku. Untuk type anak seperti dia, konsentrasi ternyata hal yang sulit dan yang paling penting adalah, bukan hal2 matematis yang menggerakkan otaknya terangsang untuk bekerja.
Malam ini agendanya belajar IPS, besok adalah ulangan harian IPS dan Bahasa Inggris.Kulihat serius juga sih dia membolak balik buku diktatnya, sesekali meminum minuman k0tak bekunya. Aku tau dia sedang tidak fokus ke buku yang didepannya.
Dahinya mengernyit keatas, pertanda dia sedang berfikir serius, benar juga, melihatku selesai mengaji, buru2 diajaknya aku ke kamar, ini dia sederet pertanyaanya yang membuatku pusing sepuluh keliling !!
Kenapa orang saat dioprasi jantungnya kok tidak mati, gimana cara mengoprasinya, kan jantungnya mesti dibedah, berarti jantungnya dicopot dari tubuh...
Saat dioprasi apakah jantungnya masih berdetak?
Kalo sudah selesai, gimana njahit dan nyambung lagi jantung dan urat2nya yang kecil, yang banyak juga, kok tidak bocor ya ??
ini lagi Ma.. orang kalo ada batu ginjalnya, ternyata sekarang tidak usah dioprasi ginjalnya, cukup ditembak dengan sinar laser, kenapa kulit dan daging kita tidak lobang ya ?? kan ginjal didalam tubuh ??
Matanya berbinar , walaupun setengah mengantuk, saat ini dia menjadi dirinya, begitu antusias, pertanyaan2nya mengalir polos, lengkap dan detail, seolah2 harapannya besar ada didepan matanya....Mama, aku pingin punya alat seperti itu...
Senyumku mengembang, bahagia banget...anakku yang cita2nya hanya seorang Koki dan Pemadam Kebakaran, ternyata ingin juga punya alat untuk oprasi jantung..Alhamdulillah...
...................malam ini mama mencari jawabnya buat besok kalo terbangun dan membahasnya kembali, Eits, masalahnya adalah pertanyaannya tentang sinar laser, belum aku jawab, ^-^..
Senin, 02 Agustus 2010
Dimana Salahnya ??
Semalaman gak bisa tidur, brosing internet, mencari bacaan, menenangkan diri, menarik nafas panjang, mondar mandir, sudah kulakoni semua, hmmmm, moga2 sesaat! but....help! tetap saja menghantui pikiranku...Ya Alloh, dimana salah ku ??
Tetap saja setiap masalah, harus bisa introspeksi diri, itu awalnya...
Bermula dari sharing dengan teman, sama sama mempunyai anak seusia dengan anakku, selisih 6 bulan lebih muda, mulai dari kebiasaan2 main sampai obrolan seputar perkembangan seks anak2. Banyak perbedaan yang kudapat, malah sepertinya pola pikir mereka bertolak belakang.
Tentunya banyak tanya dibenakku, adakah yang tak wajar salah satunya ??
Tetap saja setiap masalah, harus bisa introspeksi diri, itu awalnya...
Bermula dari sharing dengan teman, sama sama mempunyai anak seusia dengan anakku, selisih 6 bulan lebih muda, mulai dari kebiasaan2 main sampai obrolan seputar perkembangan seks anak2. Banyak perbedaan yang kudapat, malah sepertinya pola pikir mereka bertolak belakang.
Tentunya banyak tanya dibenakku, adakah yang tak wajar salah satunya ??
Selasa, 29 Juni 2010
Mengatasi Anak Yang Suka Bohong
Menyelesaikan masalah anak berbohong tidak bisa dengan hanya melarang. Perlu pemahaman dan kasih sayang agar upaya orangtua tidak memicu anak makin gemar berbohong. Agar berbohong tidak berlarut-larut, apalagi membuat anak dijauhi teman-teman bermainnya, segera temukan cara jitu untuk menghentikan kebiasaan buruk itu.
1. Stop Marah
Berhenti memarahi ketika anak melakukan kesalahan. Kemarahan serta hukuman yang ditimpakan atas kesalahan anak, belum tentu dipahami anak dengan maksud yang benar.
Ubah gaya orangtua menghadapi masalah dengan cara yang lebih bijak, hadapi kekurangan anak dengan sikap yang lebih baik.
2. Be Positive
Menghentikan kebohongan bisa dilakukan orangtua dengan membantu anak melihat dirinya lebih positif.
1. Stop Marah
Berhenti memarahi ketika anak melakukan kesalahan. Kemarahan serta hukuman yang ditimpakan atas kesalahan anak, belum tentu dipahami anak dengan maksud yang benar.
Ubah gaya orangtua menghadapi masalah dengan cara yang lebih bijak, hadapi kekurangan anak dengan sikap yang lebih baik.
2. Be Positive
Menghentikan kebohongan bisa dilakukan orangtua dengan membantu anak melihat dirinya lebih positif.
Sabtu, 05 Juni 2010
Sekolah oh Sekolah
Capek rasanya browsing melulu tiap hari, cari rumah, cari sekolah. Bingung tau nggak! baca artikel tentang memilih sekolah buat anak sudah seabreg ku baca, sms sana sini ke sohib2 dekat sudah ngabisin pulsa banyak, kirim email, chating sudah pula ku lakoni. Semakin bertanya makin bingung pula menentukan mana sih yang terbaik buat anakku ?? maklum, anak satu2nya...eh salah, anak baru satu....
Pertama kukatakan, anakku adalah anak terpinter yang pernah kutemui, dari bangun subuh sampai tertidur seusai Isya, aku melihat banyak ulahnya yang membuat aku kelabakan, pertanyaan2nya yang simple tapi sebenarnya membutuhkan ulasan panjang kadang2 membuat aku adalah ibu yang paling terlambat memahami potensi yang dipunyai anakku yang baru satu.Menyesali ?? tak ada kamusnya sekarang untuk kata2 menyesal...aku masih banyak waktu untuk menjadikannya seorang 'Pemadam Kebakaran" sesuai cita2nya....
Istilah 'Kreatif Kinestetis, ADD, Disleksia, dislearning dan macam2 sampai habis kukupas, jangan2 anakku masuk kategori salah satunya, bukan gerah dengan label karakternya, lebih kucari bagaimana aku bisa mengelola kreatifnya menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat buat anakku.
Pertama kukatakan, anakku adalah anak terpinter yang pernah kutemui, dari bangun subuh sampai tertidur seusai Isya, aku melihat banyak ulahnya yang membuat aku kelabakan, pertanyaan2nya yang simple tapi sebenarnya membutuhkan ulasan panjang kadang2 membuat aku adalah ibu yang paling terlambat memahami potensi yang dipunyai anakku yang baru satu.Menyesali ?? tak ada kamusnya sekarang untuk kata2 menyesal...aku masih banyak waktu untuk menjadikannya seorang 'Pemadam Kebakaran" sesuai cita2nya....
Istilah 'Kreatif Kinestetis, ADD, Disleksia, dislearning dan macam2 sampai habis kukupas, jangan2 anakku masuk kategori salah satunya, bukan gerah dengan label karakternya, lebih kucari bagaimana aku bisa mengelola kreatifnya menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat buat anakku.
Rabu, 12 Mei 2010
Hadiah Buat si Pemberani
Mumpung lagi ingat nih, sebenarnya perkara tidur bersama sudah kutemukan solusinya beberapa bulan yang lalu.Kuingat saat itu pertanyaannya tentang mengapa aku tidak boleh tidur dengan mama?..
ada alasan jitu yang tak terbantahkan ketika jawaban sudah beranjak ke Perintah Alloh dan Sunnah Rosulnya, biasanya tak ada pertanyaan lanjutan yang keluar, namun entah didalam fikirannya. Sebisa mungkin biasanya aku menjawabnya agar alasannya bisa diterima.
Ada hadist Nabi yang diriwayatkan Imam Abu Dawud yang artinya kurang lebih begini; Rosululloh bersabda; Perintahkanlah anak2mu untuk menjalankan shalat diwaktu mereka berumur 7 tahun, dan pukullah mereka, jikalau mereka lalai diwaktu umur sepuluh tahun.Dan pisahkanlah antara mereka dalam tempat tidurnya masing2.
ada alasan jitu yang tak terbantahkan ketika jawaban sudah beranjak ke Perintah Alloh dan Sunnah Rosulnya, biasanya tak ada pertanyaan lanjutan yang keluar, namun entah didalam fikirannya. Sebisa mungkin biasanya aku menjawabnya agar alasannya bisa diterima.
Ada hadist Nabi yang diriwayatkan Imam Abu Dawud yang artinya kurang lebih begini; Rosululloh bersabda; Perintahkanlah anak2mu untuk menjalankan shalat diwaktu mereka berumur 7 tahun, dan pukullah mereka, jikalau mereka lalai diwaktu umur sepuluh tahun.Dan pisahkanlah antara mereka dalam tempat tidurnya masing2.
Penemuanku
“Mau tau gimana caranya mama bisa hamil?.. Dalam telur burung laki2 ada spermanya, yaitu sel2 yang bisa membuahi sel telur wanita supaya bisa hamil. Sel telur wanita itu ada dalam rahim yang letaknya di perut . Pada malam hari ketika Ayah dan Mama tertidur berdekatan, Alloh secara diam2 mengambil sebagian sperma itu dimasukkan pelan2 supaya mama tidak terbangun, dimasukkan kedalam rahim dan dipertemukan dengan sel telur milik mama. Setelah itu sperma yang hidup membuahi telur punya mama, kemudian telur itu berubah menjadi calon bayi. Didalam rahim mama bayi itu tumbuh dan setelah 9 bulan bayi dilahirkan mama lewat lubang pengeluaran seperti kita buang air besar “.
Itu cerita lengkap anakku sore ini. Agak deg2an juga mendengarnya, takut ada sesuatu yang ‘aneh’ dalam cerita polosnya. Hmm…masih bisa aman kali ini.
Itu cerita lengkap anakku sore ini. Agak deg2an juga mendengarnya, takut ada sesuatu yang ‘aneh’ dalam cerita polosnya. Hmm…masih bisa aman kali ini.
Selasa, 23 Maret 2010
Bekal Untuk Anak
Kadang dalam persaingan hidup yang serba kompetitif membuat orang tua was- was dengan masa depan anak, bisa nggak ya mereka menghadapi persaingan kelak?. Kalaupun dia memiliki bekal yang ideal layaknya pesaing yang unggul dan konsisten dengan prinsip yang telah kita tanamkan, belum tentu persaingan itu mulus2 saja seperti alur lurus yang kita tanamkan sejak dini. Banyak permasalahan yang berkembang keluar dari rel hidup yang biasa kita jalani. Saat ini tantangan itu beragam.
Untuk hal itu ada beberapa bekal yang harus kita beri untuk anak2 kita.Bekal itu adalah:LIFE SKILLS ( ketrampilan hidup ).Adalah ketrampilan yang akan memberinya kekuatan keberdayaan anak dalam menghadapi tantangan hidupnya. Ada 3 bagian besar yaitu;
Untuk hal itu ada beberapa bekal yang harus kita beri untuk anak2 kita.Bekal itu adalah:LIFE SKILLS ( ketrampilan hidup ).Adalah ketrampilan yang akan memberinya kekuatan keberdayaan anak dalam menghadapi tantangan hidupnya. Ada 3 bagian besar yaitu;
Senin, 22 Maret 2010
Percayai Aku
Cerita ini adalah nyata, dari rasa yang timbul setelahnya, membuat banyak pikirku bertanya, celah yang manakah yang harus aku pelajari, silahkan menilainya dan mengambil hikmahnya.
Saat itu usia anakku masih 5 tahun 8 bulan. Belum genap 6 tahun untuk siap memasuki persaingan masuk sekolah SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, kala itu SD tersebut menjadi salah satu SD favorit di Sidoarjo.Itu adalah ancang2ku untuk sibuah hati, tanpa paksaan tentunya, dia menentukan pilihan sendiri dari 3 pilihan yang aku tawarkan.Alasannya, banyak teman2 TK nya dulu yang sekolah disitu, halamannya lumayan luas dan sepertinya penghuninya ramah2. Kalau versiku, sekolah itu memang layak diplih, memang itulah pilihanku, untunglah gayung bersambut mulus.
Sebelum kelulusan TK, ada perlombaan yang harus diikuti, tak ada kaitannya dengan penerimaan SD, hanya kompetisi biasa.Lomba baca tulis antar TK, menuju sekolah pilihan.
Saat itu usia anakku masih 5 tahun 8 bulan. Belum genap 6 tahun untuk siap memasuki persaingan masuk sekolah SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, kala itu SD tersebut menjadi salah satu SD favorit di Sidoarjo.Itu adalah ancang2ku untuk sibuah hati, tanpa paksaan tentunya, dia menentukan pilihan sendiri dari 3 pilihan yang aku tawarkan.Alasannya, banyak teman2 TK nya dulu yang sekolah disitu, halamannya lumayan luas dan sepertinya penghuninya ramah2. Kalau versiku, sekolah itu memang layak diplih, memang itulah pilihanku, untunglah gayung bersambut mulus.
Sebelum kelulusan TK, ada perlombaan yang harus diikuti, tak ada kaitannya dengan penerimaan SD, hanya kompetisi biasa.Lomba baca tulis antar TK, menuju sekolah pilihan.
Langganan:
Postingan (Atom)












