"Aku besok mau jadi KoKi aja dah Ma.." Duuh masih tetep sama cita2nya.
Ada rasa was2 ketakutan kalau memang itu yang diinginkannya, apa kata orang nanti, anakku yang mamanya selalu juara, ayahnya seorang QS proyek proyek besar dan hampir menjadi PM, dua duanya sarjana Teknik, mempunyai anak satu2nya yang hanya bercita2 menjadi seorang KoKi..
Dalam hati aku hanya berharap itu hanya bentuk ungkapannya mengatasi sekian banyaknya cita2 yang menumpuk di list otaknya..setahuku, Pemadam Kebakaran, Arsitek, Profesor, Arkeolog Dinosaurus dan tulang, Astronout, punya rumah buku, drumer dan Penemu bermacam2 mobil modern, mesin modern dan baru semalam kudengar adalah chip kunci hotel untuk kamarnya sendiri, dia sudah membikinnya dari kertas, paswordnya masih kuingat 4580, cardnya dari parking card Novotel Lampung.
Pagi ini sambil sarapan nasi dan telor dadarnya dia merubah mimpinya semalam kembali ke cita2nya pertama kali seorang "KoKi".
Masih sambil makan diambilnya pilok biru, dia gambar denah warung makannya kelak, aku hanya menambahkan sedikit masukan, warungnya harus berada diatas kolam pancing.
Teringat rumah bukunya, drum barunya, dia menambahkan entertaint live music di rumah makan impiannya, berikut sudut mungil perpustakaannya.
"Ada sepuluh pegawainya, kasir, tukang catat menu, tukang saji, 2 koki dan yang membantu. Mama , Ayah dan Caca gantian juga menjadi kokinya, kan Mama dan Ayah juga hoby masak ? ", matanya berbinar sambil mengenakan sepatu sekolahnya.
"Aku bosnya, Ayah bagian membayari pegawainya, Mama kasirnya..".
"Ayo cepetan, ntar lagi dijemput lho sayang.. ", nanti disusun sekalian menu yang mau dijual ya, pulang sekolah aja..", jawabku ikut merapikan rambutnya.
"Pistolnya yang berantakan kapan mau diberesin say ?, keburu ilang lagi mur dan bautnya lho ..", celetukku mengingatkan.
"Iya ya, belum mbongkar staplesnya juga, kok bisa isinya keluar sendiri begitu ? ".
"Tuh dijemput.. Do'a dan hati2 ya..".
"Iya Mama, Assalammu'alaikum.."
"Waalaikum salam..".
Nafasku panjang sembari bersyukur.. Apapun yang menjadi cita citamu kelak Mama hanya bisa mendo'akanmu yang terbaik...
Sabtu, 16 Juli 2011
Jumat, 15 Juli 2011
JAHIT KELILING
Dua kali tertipu membuatkan sedikit hati-hati menggunakan jasa servis keliling, baik jahit celana, tambal celana ( eh ada nggak ya?? ), jahit sepatu ataupun servis perlengkapan elektronik.
Terlihat sederhana dan sepele kerusakannya, namun jika kita terlihat bodoh dan tak tau apa-apa, kita akan termakan kelicikan mereka.
Duh.. Sebenarnya kasihan juga sih.. Penghasilan mereka tak seberapa, namun ada kemungkinan juga, alasan mengapa jasa pekerjaan mereka tak laku karena banyak ŷanğ tertipu, seperti ªku.
Ini cerita soreku..
Menimang 4 lembar celana jeans anakku, masih belum setahun pakai namun pinggangnya sudah sempit dan tak muat lagi.
Sebenarnya sudah kuplaning akan kukasihkan ke adik lelakinya, namun melihat tukang jahit jeans keliling ŷanğ kelelahan didepan pagar, ªku iseng menawarkan pekerjaan, menjahit dua lembar celana harian anakku ŷanğ lobang dibagian lipatan pahanya, 4 lembar celana jeans-nya ŷanğ kekecilan itu, juga sebuah tas sekolahnya ŷanğ juga tergolong baru namun hilang resletingnya sebiji.
Tentu saja Bapak itu dengan senang hati menerimanya. Hari sudah menuju malam, tentunya dia akan segera pulang dan menyudahi pekerjaannya hari ini. Siapa ŷanğ akan menggunakan jasanya pada malam hari di kota ŷanğ sudah kehilangan kepercayaannya pada lelaki asing yang berkeliaran malam?.
Tak kutanya sepatah katapun lagi, ªku sudah nekat menyerahkan celana itu, apapun nasibnya nanti, hitung-hitung meringankan kegalauannya si Bapak.
Entah mau tertipu lagi atau tidak.
Bukan sembarangan ªku menebak, sudah dua kali ªku tertipu.
Ŷanğ pertama saat komporku mendadak menghitam asapnya. Sudah kubersihkan beberapa kali, namun belum juga sempurna bersihnya. Bukan apa-apa, pekerjaan membersihkan asap hitam walaupun tak seberapa lagi pekat, membuatku jengkel setiap harinya.
Antara malas dan tak mau ambil pusing, ªku menelpon tukang servis kompor gas.
Kusodorkan kompor gas singleku. Pak tua itu membersihkannya dengan cara mencopot satu persatu komponennya, mencucinya dan memasangnya kembali. Kulihat dia menambal salah satu gerigi kumparan apinya dengan selembar plat tipis, katanya ada ŷanğ tanggal dan itu penyebabnya asap lebih banyak keluar dari situ dan menghitam.
Mau tau ongkos servisnya? 250 ribu!
Hah! Lebih mahal dari harga komporku. Sejak itu, ªku lumayan rajin membersihkan sendiri komporku.
Peristiwa keduaku adalah saat sepatu reebok bututku terlepas solnya. Mau kubuang sayang banget. Karena ªku sendiri bukan pecinta olah raga maka itu adalah satu-satunya sepatu olah raga ŷanğ kupunya. Mungkin hanya sebulan sekali ªku memakainya, selebihnya, kalau hanya bermain bulu tangkis di halaman rumah, paling-paling ªku hanya melepas sandalku.
Sepatu itu dibeli suamiku saat tugas pertamanya ke luar kota. Dia membelikan sepatu itu sebagai hadiah ulang tahun termahal buatku. Saat itu kuingat harganya sudah hampir separuh gajinya sebulan. Makanya, walaupun butut, ªku tetap menyimpannya. Sayangnya, kali ini solnya tiba-tiba terlepas, mungkin sudah terlalu lembab tempatnya ( eits, terlalu tua, tepatnya).
Sepatuku tak banyak, itu saja sudah hampir butut juga, kecuali sebiji, sepatu hak tinggi ŷanğ kusiapkan untuk acara-acara resmi. Harganya tak ada ŷanğ lebih dari seratus ribu. Kalaupun lebih, itu karena embel-embel discountnya sudah tinggi. Bagiku, seberapapun model dan harganya, selama itu nyaman buatku, ªku akan membelinya sesuai dengan kebutuhanku saat itu.
Itu sebabnya, sepatu butut bermerk-ku itu masih juga tenang berada di rak sepatu.
Kebetulan ada senam bersama di lingkungan perumahanku. Sempat ke mall terdekat untuk membeli sepatu olah raga, namun ku-urungkan niatku membelinya, padahal ªku sudah memilih harga termurah, 40 ribu saja. Mengingat sepatu bututku dan jarangnya pemakaian sepatu olah raga, ªku memilih memperbaikinya saja.
Kebetulan, sore itu ada tukang sol sepatu lewat, segera, ªku memanggilnya. Tanpa banyak bertanya atau berkata macam-macam, ªku menyodorkan sepatuku, dia akan faham dengan sendirinya apa ŷanğ terbaik untuk sepatu itu.
Daripada beli sepatu baru, toh juga jarang memakainya, lebih baik sedikit berhemat.
Sejam kemudian si Bapak selesai mengerjakan tugasnya. Dengan sopannya diserahkan sepatu termahalku itu, "Sudah selesai, Ibu... Silahkan dicoba dulu..!"
"Berapa Pak?" ªku tak mau berlama-lama.
"140 ribu saja" katanya datar.
"Apa??? 140 ribu? ŷanğ benar saja, Pak !!..." kataku sambil melempar agak keras sepatuku.
"Lihat baik-baik, Pak..! Ini, sepatu sudah kumal begini, dijual aja belum tentu laku, makanya saya tambal saja..lha kok ongkosnya muahal banget! Lebih mahal dari ŷanğ baru!."
"Sepatu Ibu merk mahal, jadi ongkos jahitnya juga mahal..." katanya membela diri.
"Ambil saja, Pak.. daripada saya mbayar Bapak segitu!" ªku benar-benar emosi.
***
Duuuuh.. Mengingat peristiwa itu, ªku juga serba salah, mungkin mereka sedang butuh uang banyak, sehingga bertindak curang padaku.
Kugenggam selembar uang ditanganku. ªku berniat tak akan menanyakan apa-apa pada tukang jahit celana itu.
Sudah hampir sejam dia menjahit pesananku..
"Sudah selesai, Bu..ongkosnya perbiji Rp. 2000 , kecuali tasnya agak mahal sedikit. Jadi totalnya Rp 16.000."
Astaghfirulloh.. Ada apa dengan pikiranku??.
Tanpa ragu lagi kusodorkan selembar uang dalam genggamanku.
Terlihat sederhana dan sepele kerusakannya, namun jika kita terlihat bodoh dan tak tau apa-apa, kita akan termakan kelicikan mereka.
Duh.. Sebenarnya kasihan juga sih.. Penghasilan mereka tak seberapa, namun ada kemungkinan juga, alasan mengapa jasa pekerjaan mereka tak laku karena banyak ŷanğ tertipu, seperti ªku.
Ini cerita soreku..
Menimang 4 lembar celana jeans anakku, masih belum setahun pakai namun pinggangnya sudah sempit dan tak muat lagi.
Sebenarnya sudah kuplaning akan kukasihkan ke adik lelakinya, namun melihat tukang jahit jeans keliling ŷanğ kelelahan didepan pagar, ªku iseng menawarkan pekerjaan, menjahit dua lembar celana harian anakku ŷanğ lobang dibagian lipatan pahanya, 4 lembar celana jeans-nya ŷanğ kekecilan itu, juga sebuah tas sekolahnya ŷanğ juga tergolong baru namun hilang resletingnya sebiji.
Tentu saja Bapak itu dengan senang hati menerimanya. Hari sudah menuju malam, tentunya dia akan segera pulang dan menyudahi pekerjaannya hari ini. Siapa ŷanğ akan menggunakan jasanya pada malam hari di kota ŷanğ sudah kehilangan kepercayaannya pada lelaki asing yang berkeliaran malam?.
Tak kutanya sepatah katapun lagi, ªku sudah nekat menyerahkan celana itu, apapun nasibnya nanti, hitung-hitung meringankan kegalauannya si Bapak.
Entah mau tertipu lagi atau tidak.
Bukan sembarangan ªku menebak, sudah dua kali ªku tertipu.
Ŷanğ pertama saat komporku mendadak menghitam asapnya. Sudah kubersihkan beberapa kali, namun belum juga sempurna bersihnya. Bukan apa-apa, pekerjaan membersihkan asap hitam walaupun tak seberapa lagi pekat, membuatku jengkel setiap harinya.
Antara malas dan tak mau ambil pusing, ªku menelpon tukang servis kompor gas.
Kusodorkan kompor gas singleku. Pak tua itu membersihkannya dengan cara mencopot satu persatu komponennya, mencucinya dan memasangnya kembali. Kulihat dia menambal salah satu gerigi kumparan apinya dengan selembar plat tipis, katanya ada ŷanğ tanggal dan itu penyebabnya asap lebih banyak keluar dari situ dan menghitam.
Mau tau ongkos servisnya? 250 ribu!
Hah! Lebih mahal dari harga komporku. Sejak itu, ªku lumayan rajin membersihkan sendiri komporku.
Peristiwa keduaku adalah saat sepatu reebok bututku terlepas solnya. Mau kubuang sayang banget. Karena ªku sendiri bukan pecinta olah raga maka itu adalah satu-satunya sepatu olah raga ŷanğ kupunya. Mungkin hanya sebulan sekali ªku memakainya, selebihnya, kalau hanya bermain bulu tangkis di halaman rumah, paling-paling ªku hanya melepas sandalku.
Sepatu itu dibeli suamiku saat tugas pertamanya ke luar kota. Dia membelikan sepatu itu sebagai hadiah ulang tahun termahal buatku. Saat itu kuingat harganya sudah hampir separuh gajinya sebulan. Makanya, walaupun butut, ªku tetap menyimpannya. Sayangnya, kali ini solnya tiba-tiba terlepas, mungkin sudah terlalu lembab tempatnya ( eits, terlalu tua, tepatnya).
Sepatuku tak banyak, itu saja sudah hampir butut juga, kecuali sebiji, sepatu hak tinggi ŷanğ kusiapkan untuk acara-acara resmi. Harganya tak ada ŷanğ lebih dari seratus ribu. Kalaupun lebih, itu karena embel-embel discountnya sudah tinggi. Bagiku, seberapapun model dan harganya, selama itu nyaman buatku, ªku akan membelinya sesuai dengan kebutuhanku saat itu.
Itu sebabnya, sepatu butut bermerk-ku itu masih juga tenang berada di rak sepatu.
Kebetulan ada senam bersama di lingkungan perumahanku. Sempat ke mall terdekat untuk membeli sepatu olah raga, namun ku-urungkan niatku membelinya, padahal ªku sudah memilih harga termurah, 40 ribu saja. Mengingat sepatu bututku dan jarangnya pemakaian sepatu olah raga, ªku memilih memperbaikinya saja.
Kebetulan, sore itu ada tukang sol sepatu lewat, segera, ªku memanggilnya. Tanpa banyak bertanya atau berkata macam-macam, ªku menyodorkan sepatuku, dia akan faham dengan sendirinya apa ŷanğ terbaik untuk sepatu itu.
Daripada beli sepatu baru, toh juga jarang memakainya, lebih baik sedikit berhemat.
Sejam kemudian si Bapak selesai mengerjakan tugasnya. Dengan sopannya diserahkan sepatu termahalku itu, "Sudah selesai, Ibu... Silahkan dicoba dulu..!"
"Berapa Pak?" ªku tak mau berlama-lama.
"140 ribu saja" katanya datar.
"Apa??? 140 ribu? ŷanğ benar saja, Pak !!..." kataku sambil melempar agak keras sepatuku.
"Lihat baik-baik, Pak..! Ini, sepatu sudah kumal begini, dijual aja belum tentu laku, makanya saya tambal saja..lha kok ongkosnya muahal banget! Lebih mahal dari ŷanğ baru!."
"Sepatu Ibu merk mahal, jadi ongkos jahitnya juga mahal..." katanya membela diri.
"Ambil saja, Pak.. daripada saya mbayar Bapak segitu!" ªku benar-benar emosi.
***
Duuuuh.. Mengingat peristiwa itu, ªku juga serba salah, mungkin mereka sedang butuh uang banyak, sehingga bertindak curang padaku.
Kugenggam selembar uang ditanganku. ªku berniat tak akan menanyakan apa-apa pada tukang jahit celana itu.
Sudah hampir sejam dia menjahit pesananku..
"Sudah selesai, Bu..ongkosnya perbiji Rp. 2000 , kecuali tasnya agak mahal sedikit. Jadi totalnya Rp 16.000."
Astaghfirulloh.. Ada apa dengan pikiranku??.
Tanpa ragu lagi kusodorkan selembar uang dalam genggamanku.
Sabtu, 18 Juni 2011
Naik!
Nggak mungkinlah nggak naik... Itu menenangkan kami.
Semalam itu waktu terasa berjalan lambat, kadang senyum getir menghiasi setiap 10 menit sekali, lucu membayangkan jika benar tak naik kelas, tapi...apa mungkin???
Ibu-ibu itu sudah semringah dengan dandanan mereka, mungkin hanya wajahku ŷanğ menegang. Anakku sudah larut dalam persiapannya tampil bermain alat musik.
Tampil di atas pentas lebih menegangkan baginya, namun berbaur dengan sesama grupnya membuatnya terlihat melegakan buatku.
Kasihan..jika seandainya benar tak naik kelas...
Bismillah, Insya Alloh naik!
ªku melangkah ke lantai 3, kelas anakku. Rupanya ibu-ibu sudah berderet manis didepan kelas, Bu Ery belum datang.
ªku mengobrol dengan beberapa, tak banyak memang ŷanğ ku kenal, maklumlah, jarang ke sekolah.
Begitu Bu Ery masuk ke kelas, kami duduk tertib menunggu giliran. Kurang lebih masing-masing ortu diberi waktu 10 - 15 menit. ªku harus memanfaatkan momen berharga itu.
Tiba giliranku, اَلْحَمْدُلِلّهِ.. anakku dinyatakan naik, tanpa syarat. he he..
Ada beberapa point ŷanğ memang harus jadi catatanku, hafalan Al Qur'annya belum memenuhi target,
Matematika naik drastis dari angka smester 1 adalah 58 ( dibawah KKM ) menjadi 71 ( dari KKM 67 ).
Melegakan bagiku... hutangnya adalah beberapa surat juz Amma ŷanğ masih belum lancar dihafalkan.
Bu Ery berbaik hati membebankannya di kelas 6, standar kenaikan memang diambil dari nilai PAI ( penddkn agama ) ŷanğ harus di atas KKM, anakku jatuh di nilai Al Qur'an Hadis.
Bergegas ku hampiri anakku, βϋκαη main senangnya mendengar dia naik kelas. Wajahnya bersemangat dan kecemasannya hilang seketika. Kucium jidatnya, "Anak mama pasti pinter..!"
Dia kembali berbaur dengan teman-temannya, main bola.
Semalam itu waktu terasa berjalan lambat, kadang senyum getir menghiasi setiap 10 menit sekali, lucu membayangkan jika benar tak naik kelas, tapi...apa mungkin???
Ibu-ibu itu sudah semringah dengan dandanan mereka, mungkin hanya wajahku ŷanğ menegang. Anakku sudah larut dalam persiapannya tampil bermain alat musik.
Tampil di atas pentas lebih menegangkan baginya, namun berbaur dengan sesama grupnya membuatnya terlihat melegakan buatku.
Kasihan..jika seandainya benar tak naik kelas...
Bismillah, Insya Alloh naik!
ªku melangkah ke lantai 3, kelas anakku. Rupanya ibu-ibu sudah berderet manis didepan kelas, Bu Ery belum datang.
ªku mengobrol dengan beberapa, tak banyak memang ŷanğ ku kenal, maklumlah, jarang ke sekolah.
Begitu Bu Ery masuk ke kelas, kami duduk tertib menunggu giliran. Kurang lebih masing-masing ortu diberi waktu 10 - 15 menit. ªku harus memanfaatkan momen berharga itu.
Tiba giliranku, اَلْحَمْدُلِلّهِ.. anakku dinyatakan naik, tanpa syarat. he he..
Ada beberapa point ŷanğ memang harus jadi catatanku, hafalan Al Qur'annya belum memenuhi target,
Matematika naik drastis dari angka smester 1 adalah 58 ( dibawah KKM ) menjadi 71 ( dari KKM 67 ).
Melegakan bagiku... hutangnya adalah beberapa surat juz Amma ŷanğ masih belum lancar dihafalkan.
Bu Ery berbaik hati membebankannya di kelas 6, standar kenaikan memang diambil dari nilai PAI ( penddkn agama ) ŷanğ harus di atas KKM, anakku jatuh di nilai Al Qur'an Hadis.
Bergegas ku hampiri anakku, βϋκαη main senangnya mendengar dia naik kelas. Wajahnya bersemangat dan kecemasannya hilang seketika. Kucium jidatnya, "Anak mama pasti pinter..!"
Dia kembali berbaur dengan teman-temannya, main bola.
Jumat, 17 Juni 2011
Menjelang Bagi Rapor
Dari kemarin-kemarin anakku sudah banyak berdo'a agar naik kelas, bahkan di depan Ka'bah kudengar do'a itu disepanjang thowafnya.
"Nanti kalau aku tidak naik kelas, Mama jangan marah ya?" katanya suatu ketika.
"Ya nggaklah...Yang Mama takutkan adalah kalau anak mama jadi malu..."
Tiba-tiba ada telepon dari sekolahnya, padahal hari sudah menjelang asar.
"Ibu....saya Bu Ery, wali kelas ananda, ini baru saja rapat guru membahas kenaikan kelas. Nilai PAI ananda dibawah KKM, Bu...terutama Al Qur'an Hadist. Kami memberikan kesempatan agar nilai ananda bisa diperbaiki, mengingat nilai PAI harus berada di atas nilai KKM agar ananda bisa naik ke kelas 6."
Agak lemeees.....mengingat malam sebelum ulangan mata pelajaran itu...
"Materinya Al Buruj, terjemahan dan keterangannya ( ada di buku catatan ), hukum mim sukun dan khulafaur rosyidin." aku membacakan kisi-kisi yang sudah diberikan, "Hafalan sama Mama yuuuk...pasti sudah hafalan dikelas kan?."
"Itu bukan dihafalkan, Mama...... difahami, lagian materinya nggak ada di buku catatan.."
"Kok bisa nggak ada di catatan?...di juz amma kan lengkap say..tinggal dihafalkan disitu sudah cukup, sama saja..." kataku sambil melihat buku catatannya. Yang ada memang nggak sampai sehalaman, keterangan dan hikmah diturunkan surat Al Buruj, surat ke 85 itu.
"Lho, kok belum diajarin sudah masuk ulangang? apa sudah ditulis, terus nggak mencatat kali ??" tebakanku membuatnya sedikit marah.
"Mama jangan menuduh dong...! memang segitu aja yang diajarkan..."
"Ya sudah..., hafalan juz amma saja.." sambil kusodorkan terbuka surat Al Buruj.
"Nggak dihafal, Mamaaaaa....susah sih ngomong sama Mama, di fa ha mi... bukan di ha fal...!" jawabnya sudah dengan nada tinggi.
"Namanya besok ulangan, ya harus dihafal dong...! bagaimana kalau soalnya 'Apa arti ayat ke 12 dan bagaimana bunyinya?.''
"Tau dah...Mama nggak ngerti!" jawabnya sewot, "Pokoknya aku maunya memahami saja, lagian dicatatanku nggak ada! cuma selembar doang, apa susahnya menghafal!"
Aku sudah mulai capek berdebat, ku-ambil juz ammma dan mulai kutanya ayat per ayat. Tentu saja anakku belum hafal. Pasti dikelas belum hafalan surat ini, jika tidak dia akan lancar menghafalnya.
Terakhir hafalan surat pendeknya adalah As Syams lengkap arti dan penjelasannya.
Atau jangan-jangan waktu menghafal surat ini bertepatan cuti sepuluh harinya kemarin.
Agak susah memaksanya kali ini, yang ada difikirannya adalah 'dipahami' bukan 'dihafalkan', ditambah 'dicatatan' buka 'di juz amma'.
"Oh anakku...!" pekikku jengkel. Namun tetap kupaksakan walaupun hari itu penuh pertengkaran kecil.
"Mama pinter, yang keluar tadi ayat ke 12 dan artinya" katanya sepulang ujian.
Kubiarkan dia menyelesaikan ceritanya. Senyum kecil kusembunyikan agar tak menambah rasa bersalahnya.
"Jelas aku nggak bisa, Ma...aku nggak hafal..." lanjutnya cuek.
Aku terdiam, mau menyalahkan apalagi marah juga terlambat!
Mendengar Bu Ery mau menutup telepon, aku memintanya menyampaikan sendiri berita dan remidialnya, lengkap dengan anjuran menghafal Al Buruj...
Manggut-manggut kulihat saat mendengar telepon dari gurunya, senyumnya terlihat tegang.
"Mamaaa....jangan marah kalau aku nggak naik kelas ya?.." katanya sambil memelukku.
"Memang nggak naik kelas kata Bu Ery tadi?" tanyaku pura-pura nggak tahu.
"Ya jelaslah...kalau PAI dibawah KKM, itu tandanya nggak naik kelas!, Bu Ery nggak bisa bohong..." dia terdiam sesaat, tiba-tiba.."Ha ha ha....aneh kalau aku nggak naik, kan lucu.....ya Ma???"
"Ya iyalah...lucu banget! jelas!" aku juga tak bisa menyembunyikan tertawaku.
"Ha ha ha.....anaaaaaaak!!!! heeeuuuuuuuh sebal!" jengkel plus kasian melihatnya, yang justru tanpa beban menerima berita itu. yang terpikir olehku adalah 'apa dia nggak merasa malu nantinya?'.
"Masih mending Ma...nggak naik ke kelas 6, memang sulit" katanya santai, keningnya masih mengkerut, tegang, "kalau kelas 2, terus nggak naik,itu yang keterlaluan, mudah gitu...., masih saja nggak naik."
"Siapa yang pernah nggak naik kelas 2?"
"Fikri, saudaranya Farel,makanya sekarang sekelas dengan Farel, harusnya sudah kelas 6."
"Ayo,sekarang belajar!, masih diberi kesempatan besok buat remidi kan? berarti bguru masih belum yakin kalau Ihsan nggak naik kelas."
"Tapi...dibaca saja ya?" masih berusaha negosiasi rupanya.
"Masih ngeyel....di ha pa lin!."
"Di pa ha mi, Mama......"
"Okay....Mama tanyain ke Bu Ery lagi ya?" aku gantian mengancamnya.
"Ya wes!" suaranya benar-benar meninggi. Dengan tersenyum paksa, "Aku baca berulang-ulang kalau begitu!."
"Okay...Mamananti tanyain satu satu ya...?, bayangin kalau nggak naik bener, lucu lho....." aku menggoda, memancingnya tersenyum.
"Ada syaratnya..." pintanya juga mengancam.
"Apa?...boleh, asal nggak aneh-aneh."
"Gampang, Mama pasti setuju"
"Terserah, asal cepetan belajar, keburu mengantuk!" jawabku mulai nggak sabar.
"Kalau aku berhasil naik kelas, Mama dan Ayah harus membelikan 10 piring batagor!"
"Nanti kalau aku tidak naik kelas, Mama jangan marah ya?" katanya suatu ketika.
"Ya nggaklah...Yang Mama takutkan adalah kalau anak mama jadi malu..."
Tiba-tiba ada telepon dari sekolahnya, padahal hari sudah menjelang asar.
"Ibu....saya Bu Ery, wali kelas ananda, ini baru saja rapat guru membahas kenaikan kelas. Nilai PAI ananda dibawah KKM, Bu...terutama Al Qur'an Hadist. Kami memberikan kesempatan agar nilai ananda bisa diperbaiki, mengingat nilai PAI harus berada di atas nilai KKM agar ananda bisa naik ke kelas 6."
Agak lemeees.....mengingat malam sebelum ulangan mata pelajaran itu...
"Materinya Al Buruj, terjemahan dan keterangannya ( ada di buku catatan ), hukum mim sukun dan khulafaur rosyidin." aku membacakan kisi-kisi yang sudah diberikan, "Hafalan sama Mama yuuuk...pasti sudah hafalan dikelas kan?."
"Itu bukan dihafalkan, Mama...... difahami, lagian materinya nggak ada di buku catatan.."
"Kok bisa nggak ada di catatan?...di juz amma kan lengkap say..tinggal dihafalkan disitu sudah cukup, sama saja..." kataku sambil melihat buku catatannya. Yang ada memang nggak sampai sehalaman, keterangan dan hikmah diturunkan surat Al Buruj, surat ke 85 itu.
"Lho, kok belum diajarin sudah masuk ulangang? apa sudah ditulis, terus nggak mencatat kali ??" tebakanku membuatnya sedikit marah.
"Mama jangan menuduh dong...! memang segitu aja yang diajarkan..."
"Ya sudah..., hafalan juz amma saja.." sambil kusodorkan terbuka surat Al Buruj.
"Nggak dihafal, Mamaaaaa....susah sih ngomong sama Mama, di fa ha mi... bukan di ha fal...!" jawabnya sudah dengan nada tinggi.
"Namanya besok ulangan, ya harus dihafal dong...! bagaimana kalau soalnya 'Apa arti ayat ke 12 dan bagaimana bunyinya?.''
"Tau dah...Mama nggak ngerti!" jawabnya sewot, "Pokoknya aku maunya memahami saja, lagian dicatatanku nggak ada! cuma selembar doang, apa susahnya menghafal!"
Aku sudah mulai capek berdebat, ku-ambil juz ammma dan mulai kutanya ayat per ayat. Tentu saja anakku belum hafal. Pasti dikelas belum hafalan surat ini, jika tidak dia akan lancar menghafalnya.
Terakhir hafalan surat pendeknya adalah As Syams lengkap arti dan penjelasannya.
Atau jangan-jangan waktu menghafal surat ini bertepatan cuti sepuluh harinya kemarin.
Agak susah memaksanya kali ini, yang ada difikirannya adalah 'dipahami' bukan 'dihafalkan', ditambah 'dicatatan' buka 'di juz amma'.
"Oh anakku...!" pekikku jengkel. Namun tetap kupaksakan walaupun hari itu penuh pertengkaran kecil.
"Mama pinter, yang keluar tadi ayat ke 12 dan artinya" katanya sepulang ujian.
Kubiarkan dia menyelesaikan ceritanya. Senyum kecil kusembunyikan agar tak menambah rasa bersalahnya.
"Jelas aku nggak bisa, Ma...aku nggak hafal..." lanjutnya cuek.
Aku terdiam, mau menyalahkan apalagi marah juga terlambat!
Mendengar Bu Ery mau menutup telepon, aku memintanya menyampaikan sendiri berita dan remidialnya, lengkap dengan anjuran menghafal Al Buruj...
Manggut-manggut kulihat saat mendengar telepon dari gurunya, senyumnya terlihat tegang.
"Mamaaa....jangan marah kalau aku nggak naik kelas ya?.." katanya sambil memelukku.
"Memang nggak naik kelas kata Bu Ery tadi?" tanyaku pura-pura nggak tahu.
"Ya jelaslah...kalau PAI dibawah KKM, itu tandanya nggak naik kelas!, Bu Ery nggak bisa bohong..." dia terdiam sesaat, tiba-tiba.."Ha ha ha....aneh kalau aku nggak naik, kan lucu.....ya Ma???"
"Ya iyalah...lucu banget! jelas!" aku juga tak bisa menyembunyikan tertawaku.
"Ha ha ha.....anaaaaaaak!!!! heeeuuuuuuuh sebal!" jengkel plus kasian melihatnya, yang justru tanpa beban menerima berita itu. yang terpikir olehku adalah 'apa dia nggak merasa malu nantinya?'.
"Masih mending Ma...nggak naik ke kelas 6, memang sulit" katanya santai, keningnya masih mengkerut, tegang, "kalau kelas 2, terus nggak naik,itu yang keterlaluan, mudah gitu...., masih saja nggak naik."
"Siapa yang pernah nggak naik kelas 2?"
"Fikri, saudaranya Farel,makanya sekarang sekelas dengan Farel, harusnya sudah kelas 6."
"Ayo,sekarang belajar!, masih diberi kesempatan besok buat remidi kan? berarti bguru masih belum yakin kalau Ihsan nggak naik kelas."
"Tapi...dibaca saja ya?" masih berusaha negosiasi rupanya.
"Masih ngeyel....di ha pa lin!."
"Di pa ha mi, Mama......"
"Okay....Mama tanyain ke Bu Ery lagi ya?" aku gantian mengancamnya.
"Ya wes!" suaranya benar-benar meninggi. Dengan tersenyum paksa, "Aku baca berulang-ulang kalau begitu!."
"Okay...Mamananti tanyain satu satu ya...?, bayangin kalau nggak naik bener, lucu lho....." aku menggoda, memancingnya tersenyum.
"Ada syaratnya..." pintanya juga mengancam.
"Apa?...boleh, asal nggak aneh-aneh."
"Gampang, Mama pasti setuju"
"Terserah, asal cepetan belajar, keburu mengantuk!" jawabku mulai nggak sabar.
"Kalau aku berhasil naik kelas, Mama dan Ayah harus membelikan 10 piring batagor!"
Langganan:
Postingan (Atom)