Kamis, 01 Desember 2011
Antologi ke-3
BABY TRAVELER, Kisah Seru Saat Travelling Dengan Bayi dan Balita.
Sinopsis :
Traveling bersama “Bayi dan Balita” menyusahkan? Siapa bilang? Justru sangat menyenangkan bila kita cermat menyiapkan segala keperluan dan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan dihadapi.
Kondisi fisik dan mental bayi dan balita tentu berbeda daripada orang dewasa. Mereka lebih rentan terhadap penyakit, perubahan cuaca, perbedaan makanan, dan cepat merasa bosan di perjalanan. Kalau sampai mereka bosan, bisa dipastikan akan rewel dan “mengancam” kesuksesan traveling.
Serunya traveling dengan bayi dan balita sudah dimulai sejak mempersiapkan diri untuk berangkat. Berlanjut ketika dalam perjalanan dan di tempat tujuan. Dalam buku ini, para penulis berbagi pengalaman tentang suka-duka membawa si kecil ke berbagai tempat, baik dalam kota maupun luar kota, bahkan sampai ke mancanegara.
Kumpulan kisah seru ini akan menghilangkan keraguan untuk membawa pergi si kecil yang kadang dianggap sebagai trouble maker. Tak ketinggalan, dipaparkan tips-tips jitu agar bayi dan balita kita merasa aman dan nyaman di perjalanan.
Penulis :
Aney Maysarah, Anisa Widiyarti, Afifah Ahmad, Askar Marlindo, Atik Hw, Aulia Izzati, Dewi Irianti, Dian Onasis, Eka Natassa Sumantri, Evi Andriani, Honney Miftahuljannah, Ida Mulyani, Indah IP, Indri Astutik, Kunthi Hastorini, Navita Kristi Astuti, Noviana Widayanti, R. Wahyu, Ratna Dwi KS, Risma Inoy, Rosi Saheeda Noer, Sayyidah Murtafiah, Sofi Bramasta, Sugi Siswiyanti, Ummu Raisah, Vita Sophia Dini.
Editor :
Triani Retno A.
Harga : Rp. 45.000,-
Rabu, 05 Oktober 2011
Dewasa
"Aneh si Radit, dia bercerita kalau dirumah sering dimarahi Mamanya, sampai sampai dia tidak mau jadi dewasa, soalnya dia takut punya istri", cerita anakku sebelum tidurnya malam ini.
"Mamanya sering marah kok jadinya tidak mau punya istri ? Agak nggak nyambung deh..", jawabku sedikit memancing.
"Anehnya itu, padahal aku aja pingin cepat jadi dewasa, dewasa itu enak, bisa apa- apa saja yang diinginkan", katanya bersemangat.
"Lhoh, bukannya jadi dewasa gak enak say, mesti kerja cari uang, dari pagi sampai malam, nggak bisa bermain sepuasnya..", tanyaku heran.
"Buktinya Gayus itu, bisa kemana saja, keluar negri dan beli2 apa saja, berarti dewasa itu enak Ma..".
"Duh..itu kan hanya video klip sayang.. Gayus sudah dipenjara karena korupsi !", jawabku.
"Oh..jadi foto2 yang dipantai, jadi petinju, pake popok bayi, jadi polisi dan tukang jual duren itu bukan Gayus ya Ma ? ", wajahnya penuh selidik.
Ku lihat sedikit kecewa.
"Bukan sayang..itu photoshop aja..".
"Kalau begitu aku mau belajar photoshop, biar bisa jadi apa aja! ".
Pagi ini sambil sarapan aku jelaskan siapakah Gayus Tambunan, Gayus yang Plesiran, Gayus kecil yang minum pake dot, Gayus yang jualan duren, Gayus yang Polisi berpangkat, Gayus yang petinju dan Gayus ada di video klip.
Kulihat celotehku yang panjang tak digubris sedikitpun, "Mama hari ini cari program photoshop ya, aku mau fotoku dirubah sesuai cita - citaku".
"Mamanya sering marah kok jadinya tidak mau punya istri ? Agak nggak nyambung deh..", jawabku sedikit memancing.
"Anehnya itu, padahal aku aja pingin cepat jadi dewasa, dewasa itu enak, bisa apa- apa saja yang diinginkan", katanya bersemangat.
"Lhoh, bukannya jadi dewasa gak enak say, mesti kerja cari uang, dari pagi sampai malam, nggak bisa bermain sepuasnya..", tanyaku heran.
"Buktinya Gayus itu, bisa kemana saja, keluar negri dan beli2 apa saja, berarti dewasa itu enak Ma..".
"Duh..itu kan hanya video klip sayang.. Gayus sudah dipenjara karena korupsi !", jawabku.
"Oh..jadi foto2 yang dipantai, jadi petinju, pake popok bayi, jadi polisi dan tukang jual duren itu bukan Gayus ya Ma ? ", wajahnya penuh selidik.
Ku lihat sedikit kecewa.
"Bukan sayang..itu photoshop aja..".
"Kalau begitu aku mau belajar photoshop, biar bisa jadi apa aja! ".
Pagi ini sambil sarapan aku jelaskan siapakah Gayus Tambunan, Gayus yang Plesiran, Gayus kecil yang minum pake dot, Gayus yang jualan duren, Gayus yang Polisi berpangkat, Gayus yang petinju dan Gayus ada di video klip.
Kulihat celotehku yang panjang tak digubris sedikitpun, "Mama hari ini cari program photoshop ya, aku mau fotoku dirubah sesuai cita - citaku".
Selasa, 20 September 2011
Sekolah Tanpa Matematika
Sudah kusiapkan hati, malam ini pasti ada tragedi, secarik kertas jadwal pelajaran itu selalu menyisakan sesuatu buat kami berdua, ªku dan anakku.
Ada saja ulahnya untuk mengalihkan perhatianku dari satu mata pelajaran itu, mulai dari bercerita panjang, minta dibuatkan camilan sampai pura-pura sudah mengantuk duluan. Tujuannya hanya satu, sesingkat mungkin menyisakan waktunya belajar matematika.
'Mama!, kali ini mama harus bangga, kemarin nilaiku matematika naik lho..' katanya bernada sombong.
'Bagus dong..! Hobby mama menurun ke anaknya' jawabku senang, sedikit waspada dengan kelanjutannya cerita. Terus terang ªku dulu pencinta mata pelajaran ini. Saat paling membahagiakanku adalah ketika dia dengan senang hati memintaku membantu belajar matematika. Serasa bernostalgia dengan angka dan puzle rumus-rumusnya.
'Kalau kemarin ªku dapat nilai 30, kali ini nilaiku naik menjadi 40, Ma..!' katanya bersemangat, membuatku terpancing geram.
'Duuh.. Anak Mama pinter banget, besok harus naik 10 angka lagi, besoknya 20 angka..!' jawabanku meninggi, 'Nilai matematika kalau bisa tuh diatas 70, Sayang..."
'Ma, besok SMP, carikan ªku sekolah ŷanğ tidak ada matematikanya ya..' katanya memelas, membuatku terharu, sebegitu susahnya kah matematika buatnya?.
'Suka puzzle kan?, padahal matematika itu kayak main puzzle lho buat Mama.., seru..!' kataku menghiburnya.
Usianya masih 9 tahun saat itu, ªku berfikir masih panjang kesempatannya untuk mengenali mata pelajaran satu ini, suatu saat nanti, hobbynya menata puzzle pasti akan bermanfaat untuknya.
Ada saja ulahnya untuk mengalihkan perhatianku dari satu mata pelajaran itu, mulai dari bercerita panjang, minta dibuatkan camilan sampai pura-pura sudah mengantuk duluan. Tujuannya hanya satu, sesingkat mungkin menyisakan waktunya belajar matematika.
'Mama!, kali ini mama harus bangga, kemarin nilaiku matematika naik lho..' katanya bernada sombong.
'Bagus dong..! Hobby mama menurun ke anaknya' jawabku senang, sedikit waspada dengan kelanjutannya cerita. Terus terang ªku dulu pencinta mata pelajaran ini. Saat paling membahagiakanku adalah ketika dia dengan senang hati memintaku membantu belajar matematika. Serasa bernostalgia dengan angka dan puzle rumus-rumusnya.
'Kalau kemarin ªku dapat nilai 30, kali ini nilaiku naik menjadi 40, Ma..!' katanya bersemangat, membuatku terpancing geram.
'Duuh.. Anak Mama pinter banget, besok harus naik 10 angka lagi, besoknya 20 angka..!' jawabanku meninggi, 'Nilai matematika kalau bisa tuh diatas 70, Sayang..."
'Ma, besok SMP, carikan ªku sekolah ŷanğ tidak ada matematikanya ya..' katanya memelas, membuatku terharu, sebegitu susahnya kah matematika buatnya?.
'Suka puzzle kan?, padahal matematika itu kayak main puzzle lho buat Mama.., seru..!' kataku menghiburnya.
Usianya masih 9 tahun saat itu, ªku berfikir masih panjang kesempatannya untuk mengenali mata pelajaran satu ini, suatu saat nanti, hobbynya menata puzzle pasti akan bermanfaat untuknya.
Sabtu, 16 Juli 2011
Cita - Cita
"Aku besok mau jadi KoKi aja dah Ma.." Duuh masih tetep sama cita2nya.
Ada rasa was2 ketakutan kalau memang itu yang diinginkannya, apa kata orang nanti, anakku yang mamanya selalu juara, ayahnya seorang QS proyek proyek besar dan hampir menjadi PM, dua duanya sarjana Teknik, mempunyai anak satu2nya yang hanya bercita2 menjadi seorang KoKi..
Dalam hati aku hanya berharap itu hanya bentuk ungkapannya mengatasi sekian banyaknya cita2 yang menumpuk di list otaknya..setahuku, Pemadam Kebakaran, Arsitek, Profesor, Arkeolog Dinosaurus dan tulang, Astronout, punya rumah buku, drumer dan Penemu bermacam2 mobil modern, mesin modern dan baru semalam kudengar adalah chip kunci hotel untuk kamarnya sendiri, dia sudah membikinnya dari kertas, paswordnya masih kuingat 4580, cardnya dari parking card Novotel Lampung.
Pagi ini sambil sarapan nasi dan telor dadarnya dia merubah mimpinya semalam kembali ke cita2nya pertama kali seorang "KoKi".
Masih sambil makan diambilnya pilok biru, dia gambar denah warung makannya kelak, aku hanya menambahkan sedikit masukan, warungnya harus berada diatas kolam pancing.
Teringat rumah bukunya, drum barunya, dia menambahkan entertaint live music di rumah makan impiannya, berikut sudut mungil perpustakaannya.
"Ada sepuluh pegawainya, kasir, tukang catat menu, tukang saji, 2 koki dan yang membantu. Mama , Ayah dan Caca gantian juga menjadi kokinya, kan Mama dan Ayah juga hoby masak ? ", matanya berbinar sambil mengenakan sepatu sekolahnya.
"Aku bosnya, Ayah bagian membayari pegawainya, Mama kasirnya..".
"Ayo cepetan, ntar lagi dijemput lho sayang.. ", nanti disusun sekalian menu yang mau dijual ya, pulang sekolah aja..", jawabku ikut merapikan rambutnya.
"Pistolnya yang berantakan kapan mau diberesin say ?, keburu ilang lagi mur dan bautnya lho ..", celetukku mengingatkan.
"Iya ya, belum mbongkar staplesnya juga, kok bisa isinya keluar sendiri begitu ? ".
"Tuh dijemput.. Do'a dan hati2 ya..".
"Iya Mama, Assalammu'alaikum.."
"Waalaikum salam..".
Nafasku panjang sembari bersyukur.. Apapun yang menjadi cita citamu kelak Mama hanya bisa mendo'akanmu yang terbaik...
Ada rasa was2 ketakutan kalau memang itu yang diinginkannya, apa kata orang nanti, anakku yang mamanya selalu juara, ayahnya seorang QS proyek proyek besar dan hampir menjadi PM, dua duanya sarjana Teknik, mempunyai anak satu2nya yang hanya bercita2 menjadi seorang KoKi..
Dalam hati aku hanya berharap itu hanya bentuk ungkapannya mengatasi sekian banyaknya cita2 yang menumpuk di list otaknya..setahuku, Pemadam Kebakaran, Arsitek, Profesor, Arkeolog Dinosaurus dan tulang, Astronout, punya rumah buku, drumer dan Penemu bermacam2 mobil modern, mesin modern dan baru semalam kudengar adalah chip kunci hotel untuk kamarnya sendiri, dia sudah membikinnya dari kertas, paswordnya masih kuingat 4580, cardnya dari parking card Novotel Lampung.
Pagi ini sambil sarapan nasi dan telor dadarnya dia merubah mimpinya semalam kembali ke cita2nya pertama kali seorang "KoKi".
Masih sambil makan diambilnya pilok biru, dia gambar denah warung makannya kelak, aku hanya menambahkan sedikit masukan, warungnya harus berada diatas kolam pancing.
Teringat rumah bukunya, drum barunya, dia menambahkan entertaint live music di rumah makan impiannya, berikut sudut mungil perpustakaannya.
"Ada sepuluh pegawainya, kasir, tukang catat menu, tukang saji, 2 koki dan yang membantu. Mama , Ayah dan Caca gantian juga menjadi kokinya, kan Mama dan Ayah juga hoby masak ? ", matanya berbinar sambil mengenakan sepatu sekolahnya.
"Aku bosnya, Ayah bagian membayari pegawainya, Mama kasirnya..".
"Ayo cepetan, ntar lagi dijemput lho sayang.. ", nanti disusun sekalian menu yang mau dijual ya, pulang sekolah aja..", jawabku ikut merapikan rambutnya.
"Pistolnya yang berantakan kapan mau diberesin say ?, keburu ilang lagi mur dan bautnya lho ..", celetukku mengingatkan.
"Iya ya, belum mbongkar staplesnya juga, kok bisa isinya keluar sendiri begitu ? ".
"Tuh dijemput.. Do'a dan hati2 ya..".
"Iya Mama, Assalammu'alaikum.."
"Waalaikum salam..".
Nafasku panjang sembari bersyukur.. Apapun yang menjadi cita citamu kelak Mama hanya bisa mendo'akanmu yang terbaik...
Langganan:
Postingan (Atom)
