WISATA HATI --------------> part 8
Agenda hari ini adalah istirahat dan melengkapi ibadah sunnah lainnya.
Setelah hilang lelah dan kantuk, kami masih penasaran ingin melakukan thowaf kembali, Bapak memutuskan tak ikut.
Usai dhuha kami berempat melakukan thowaf sunnah. Alhamdulillah, masih terlihat longgar ..
Anakku juga masih disibukkan dengan do'a-do'anya, ªku berusaha mengalihkannya dengan do'a ringan ŷanğ dihafalnya, kadang masih bisa diikutinya namun kadang hilang, kalah dengan do'anya meminta sederet mainan.
Lancar kami menyelesaikan putaran sampai tujuh, kami berdo'a di Multazam ( kami hanya bisa mengambil arah sudutnya, karena sdh tidak memungkinkan, manusia berjubel sesak disitu..)
Alhamdulillah posisi kami berada di sudut hajar aswad dan pintu Ka'bah, berada didepan garis maqom Ibrahim.
Setelah itu kami mundur kebelakang, sholat sunnah di belakang maqom Ibrahim.
Setelah selesai kami berempat beriringan menuju Hijr Ismail. Dalam desakan banyak orang kami berhasil menyentuh Ka'bah..
Subhanallah...Allohu Akbar!
Seolah terbius, hati kami langsung luruh..
Isak tangis tak terbendung lagi keluar, sampai dadaku sesak, sedu sedan memaku tangan dan wajahku pada bangunan kokoh berselimut sutra itu. ªku keluarkan segenap laraku, ªku adukan semuanya...
Disampingku, suamiku juga tenggelam dalam tangis panjangnya, ibunya mengusap-usap punggungnya, air mata Beliaupun menetes menyaksikan sang anak menyelesaikan pengaduannya.
Sementara anakku juga terlihat sembab matanya, dia bingung menyaksikan kami menangis, dia hanya terdiam bersandar Ka'bah..
Melihatku dan ayahnya menangis..
Setelah puas mengadu, kami mundur kebelakang menuju deretan orang-orang membentuk shaf sholat.
Tujuan kami mencari tempat terlindung agar tak terinjak lalu lalang orang.
Alhamdulillah..sekaligus kami menemukan 4 tempat aman. ªku ŷanğ paling rawan tempatnya, berada dipinggir dan berbatasan dengan orang ŷanğ desak-desakan mencari tempat sholat.
Atas Kuasa Allah, ªku mendapat perlindungan barisan orang ŷanğ sabar mengantri tempat shaf kami.
Kami selesai dengan aman..beriringan kami keluar dari Hijr Isma'il, mencoba melihat peluang menuju Hajar Aswad!
Anakku berada didepan ayahnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki warga negara Indonesia menggandeng erat anakku, kutanya pada suamiku
"Apakah dia orang kita?" Suamiku menggelengkan kepala.
"Hati-hati Yah..pegang anaknya!" jawabku agak khawatir.
Lelaki itu menanyakan sesuatu pada anakku "Mau cium Hajar Aswad, Dek?"
Dengan polosnya anakku mengangguk.
Kami mengikuti lelaki itu menerobos kerumunan orang,
"Hati-hati Pak, jangan lepas pegangan!, ikuti petunjuk kami!" kata lelaki itu sambil terus membawa anakku mendekati Hajar Aswad.
Mendadak hadir disamping kami beberapa orang, mereka membuat pagar hidup membawa kami semakin dekat dengan batu surga itu.
Berada ditengah-tengah ratusan orang dalam satu titik tuju ŷanğ sama, berebut tempat, Masya Allah.. Seperti tenggelam dalam lautan rasanya..
Sebentar ªku melongokkan kepala mengambil nafas,kemudian kembali memusatkan tenaga menahan himpitan banyak orang. sekilas kulihat anakku ŷanğ sempat terjatuh ditangga dibawah batu dalam rumah emasnya,
"Bangun Dek!, jangan sampai jatuh!". kudengar lelaki itu berusaha melindungi anakku, dia kulihat berhasil memasukkan kepalanya dalam liang batu.
Tangan-tangan kekar berusaha menghalau kepala kecilnya,
"Allahu Akbar!"
ªku hanya bisa menahan nafasku, menyaksikan perjuangannya.
Setelah itu tak lagi kulihat anakku.
Giliran suamiku, tak begitu jelas ªku melihatnya, saat itu ªku sedang berjuang melawan himpitan manusia-manusia kekar itu,
"Ibu, jangan menyerah..kepala tetap menengadah agar bisa bernafas, jangan sampai jatuh!" kata lelaki ŷanğ melindungiku.
Sekilas kulihat tatapan mata suamiku, tangannya perlahan terlepas dari tanganku.
"Kita bertemu di belakang Pak" kata lelaki ŷanğ melindungiku.
Masih terbayang (bahkan sampai sekarang..) tatapan mata suamiku dipuncak kepasrahannya, saat melepas genggaman tangannya dari tanganku. Seolah itu untuk ŷanğ terakhir kalinya..
ªku tak melihatnya kemudian.
Sayup masih kudengar suaranya , "Alahu Akbar!"
Satu-satunya ŷanğ masih dalam genggamanku adalah tangan Ibu.
Tubuh rentanya merapat dan dalam perlindungan dua orang lagi dibelakangku.
Giliranku, ªku mengerahkan sekuat tenagaku melawan tubuh-tubuh beragam bangsa itu,
Bismillah..
ªku berhasil berdiri tepat diliang emas itu,
"Masuk Bu! Dan segera cium batunya!"
ªku mengikuti suara itu, dan Allahu Akbar, ªku mengecup lama batu hitam mengkilat dari surga, Hajarul Aswad.
Seluruh perjuanganku kudekap lega
Alhamdulillaah..
Panjang ku hela nafas..
Anehnya, dalam himpitan ratusan orang itu, dalam puncak keberhasilanku pagi itu, ªku masih bisa meraih tasku ŷanğ terlepas dan terjatuh ke lantai.
Ibu ŷanğ terlepas saat ªku meraih liang emas, ternyata juga bisa mencium batu itu setelahku.
Kami beriringan menepi sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya, harapanku segera menemukan belahan hati, suami dan anakku.
Alhamdulillah mereka sudah menungguku di dekat Maqam Ibrahim.
Kami terduduk bahagia, sudah melewati perjuangan hidup dan mati semenit ŷanğ lalu.
"Kasih uang ya Yah..?" pintaku pada suamiku.
Kurogoh seluruh isi tasku, kutemukan beberapa lembar real ŷanğ ada didalam dompetku.
Mereka menawar, namun ªku hanya membawa sedikit uang, kutanyakan pada mereka,
"Apa kalian ikhlas membantu kami?"
"Ya Pak, Bu..kami ikhlas!"
Kamipun bersalaman mengucap banyak terimakasih.
Esoknya saat kami tour keliling Makkah barulah kami mengetahui, mereka adalah para joki ŷanğ memang menjual tenaganya untuk mengantar orang-orang ŷanğ berkeinginan mendekati dan mencium Hajarul Aswad.
Alhamdulillah... Sekali lagi ªku berseru, jika saja dari awal kami mengetahuinya, mungkin berbeda ..
Sungguh kami tak pernah mendengar sedikitpun tentang cerita perjokian itu, dan ketidaktahuan kami mengantarkan kami berempat mendapatkan kado dari_Nya ŷanğ istimewa...
Berarti ŷanğ sudah membaca ini, harus pikir-pikir lagi donk jika menemukan orang baik di sekitar Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. ^.^
Pasrah pada Allah, kalau memang kita ada kesempatan mendapat hadiahNya, insha Allah rejeki tak akan tertukar..
Senin, 09 Mei 2011
SA'I dan TAHALUL
WISATA HATI -------------> part 7
Bismillah kami berempat menaiki tangga masjid menuju tempat dilaksanakannya sa'i.
Dua bukit shofa dan Marwa sudah tinggal gundukan batu ŷanğ hitam mengkilap.
Banyak orang-orang berebut tempat itu untuk menadahkan tangan berdo'a menghadap Ka'bah, sembari menyelasaikan putaran ke putaran berikutnya.
Sa'i di mulai dari bukit shofa, setelah mengucapkan do'a kami memulai perjalanan sa'i dengan berjalan dulu, kemudian berlari-lari kecil diantara pilar hijau menuju bukit Marwa, semua orang berlarian dengan tak henti-hentinya melantunkan do'a dan pujian, kamipun begitu.
Terhitung satu jika sudah sampai ke bukit Marwa, berdo'a dipuncaknya dan memulai perjalanan sa'i ŷanğ kedua menuju bukit Shofa.
Perjalanan kami sedikit lambat karena anakku dan pak Syamsul sudah terlihat lelah, setiap saat kami berhenti meminum air zam-zam sepuasnya, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Semangat akan bergelora jika kami berdampingan dengan serombongan kafilah ŷanğ banyak jumlahnya, mereka melantunkan do'a bersama-sama, kami mengikuti mereka, namun karena keterbatasan tenaga, kami tertinggal kembali.
Menjelang putaran akhir, anakku mulai menunjukkan gelagat kecapaian, mengantuk dan bosan, maklum adzan subuh mulai berkumandang.
Tinggal sekali lagi putaran maka kami akan selesai.
Anakku bersikeras mengikuti jalur kursi roda, rutenya tak melingkar hanya lurus, otomatis jaraknya lebih singkat.
Akhirnya untuk menghindari perdebatan kami mengikutinya memakai jalur kursi roda, hanya saja kami harus lebih hati-hati agar tak tertabrak kereta ŷanğ biasanya didorong cepat oleh pendorong upahan.
Pak syamsul berbeda pikiran, beliau merasa masih sanggup mengikuti arah memutar, Beliau memutuskan tetap dijalur semula.
Agak kaget juga mendapati beliau tak lagi serombongan denganku, kutoleh kekanan dan kekiri, kutunggu sambil berhenti, meminum zam-zam sepuasnya, tetap tak kutemukan pak tua itu.
Demi mengejar subuh berjamaah segera kuselesaikan sa'i kami dan melakukan tahalul.
Suamiku memotong rambutnya dulu, kemudian anaknya, ibu dan selanjutnya ªku.
Ada lima ibu-ibu ŷanğ antri meminta kupotong rambutnya, mereka tidak membawa gunting.
Setelah selesai kami menuju shaf sholat, terlebih dulu ªku mengambil air wudhu dengan kran zam-zam disitu.
Toilet sangat jauh tempatnya, belum lagi kalau antri dan tersesat.
Tak kusangka anakku benar-benar pada puncak kebosanan!
Sepanjang menunggu iqomah meluncur kata-kata ajaibnya ŷanğ intinya capek, ngantuk dan lapar!
Dia merasa sudah selesai dengan ibadah intinya, umroh.
Sholat subuh bisa dilakukan di kamar hotel, toh pahalanya sama, katanya.^.^
Ada seorang ibu ŷanğ menyodorinya permen, dia buang seketika sambil menangis.
Suasana semakin tak terkendali, dia protes habis-habisan.
Setelah melihat rewelnya semakin menjadi-jadi, ªku dan ibu menuruti kemauannya lagi, kami keluar masjid dan bermaksud pulang menuju hotel.
Ŷanğ kuingat, pintu kami pintu 1 dan arahnya searah menara yg ada jamnya.
Masya Allah...
Kami masih berdiri di pintu 45, berarti kami harus memutar 90 derajat menuju pintu 1.
Beruntung anakku mau kubujuk sebentar agar ªku dan ibu ikut jama'ah sholat subuh sebentar, sementara dia bersikeras sholat subuh di kamar.
Dia menunggu kami di tangga masuk, menunggu kami menyelesaikan subuh kami ŷanğ bacaan surat setelah Al Fatihahnya sepanjang An Naziat ataupun 'Abasa. ^.^
Alhamdulillah tanpa protes, setelah selesai kami terseok-seok pulang dengan memutar jalan ŷanğ lumayan jauhnya...
Sepertinya kami melakukan thowaf kembali.
Bismillah kami berempat menaiki tangga masjid menuju tempat dilaksanakannya sa'i.
Dua bukit shofa dan Marwa sudah tinggal gundukan batu ŷanğ hitam mengkilap.
Banyak orang-orang berebut tempat itu untuk menadahkan tangan berdo'a menghadap Ka'bah, sembari menyelasaikan putaran ke putaran berikutnya.
Sa'i di mulai dari bukit shofa, setelah mengucapkan do'a kami memulai perjalanan sa'i dengan berjalan dulu, kemudian berlari-lari kecil diantara pilar hijau menuju bukit Marwa, semua orang berlarian dengan tak henti-hentinya melantunkan do'a dan pujian, kamipun begitu.
Terhitung satu jika sudah sampai ke bukit Marwa, berdo'a dipuncaknya dan memulai perjalanan sa'i ŷanğ kedua menuju bukit Shofa.
Perjalanan kami sedikit lambat karena anakku dan pak Syamsul sudah terlihat lelah, setiap saat kami berhenti meminum air zam-zam sepuasnya, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Semangat akan bergelora jika kami berdampingan dengan serombongan kafilah ŷanğ banyak jumlahnya, mereka melantunkan do'a bersama-sama, kami mengikuti mereka, namun karena keterbatasan tenaga, kami tertinggal kembali.
Menjelang putaran akhir, anakku mulai menunjukkan gelagat kecapaian, mengantuk dan bosan, maklum adzan subuh mulai berkumandang.
Tinggal sekali lagi putaran maka kami akan selesai.
Anakku bersikeras mengikuti jalur kursi roda, rutenya tak melingkar hanya lurus, otomatis jaraknya lebih singkat.
Akhirnya untuk menghindari perdebatan kami mengikutinya memakai jalur kursi roda, hanya saja kami harus lebih hati-hati agar tak tertabrak kereta ŷanğ biasanya didorong cepat oleh pendorong upahan.
Pak syamsul berbeda pikiran, beliau merasa masih sanggup mengikuti arah memutar, Beliau memutuskan tetap dijalur semula.
Agak kaget juga mendapati beliau tak lagi serombongan denganku, kutoleh kekanan dan kekiri, kutunggu sambil berhenti, meminum zam-zam sepuasnya, tetap tak kutemukan pak tua itu.
Demi mengejar subuh berjamaah segera kuselesaikan sa'i kami dan melakukan tahalul.
Suamiku memotong rambutnya dulu, kemudian anaknya, ibu dan selanjutnya ªku.
Ada lima ibu-ibu ŷanğ antri meminta kupotong rambutnya, mereka tidak membawa gunting.
Setelah selesai kami menuju shaf sholat, terlebih dulu ªku mengambil air wudhu dengan kran zam-zam disitu.
Toilet sangat jauh tempatnya, belum lagi kalau antri dan tersesat.
Tak kusangka anakku benar-benar pada puncak kebosanan!
Sepanjang menunggu iqomah meluncur kata-kata ajaibnya ŷanğ intinya capek, ngantuk dan lapar!
Dia merasa sudah selesai dengan ibadah intinya, umroh.
Sholat subuh bisa dilakukan di kamar hotel, toh pahalanya sama, katanya.^.^
Ada seorang ibu ŷanğ menyodorinya permen, dia buang seketika sambil menangis.
Suasana semakin tak terkendali, dia protes habis-habisan.
Setelah melihat rewelnya semakin menjadi-jadi, ªku dan ibu menuruti kemauannya lagi, kami keluar masjid dan bermaksud pulang menuju hotel.
Ŷanğ kuingat, pintu kami pintu 1 dan arahnya searah menara yg ada jamnya.
Masya Allah...
Kami masih berdiri di pintu 45, berarti kami harus memutar 90 derajat menuju pintu 1.
Beruntung anakku mau kubujuk sebentar agar ªku dan ibu ikut jama'ah sholat subuh sebentar, sementara dia bersikeras sholat subuh di kamar.
Dia menunggu kami di tangga masuk, menunggu kami menyelesaikan subuh kami ŷanğ bacaan surat setelah Al Fatihahnya sepanjang An Naziat ataupun 'Abasa. ^.^
Alhamdulillah tanpa protes, setelah selesai kami terseok-seok pulang dengan memutar jalan ŷanğ lumayan jauhnya...
Sepertinya kami melakukan thowaf kembali.
MEMULAI UMROH
WISATA HATI --------------> part 6
Hari ke 4 Ahad 24 April 2011
Jam 06.30 : Tas bagasi harus sudah didepan kamar masing-masing.
Jam 07.00 : sarapan pagi di hotel
Jam 11.00 : Mandi persiapan ihrom
Jam 12.24 : Dhuhur di masjid Nabawi sekaligus ziarah wada'
Jam 13.00 : Makan siang, memakai baju ihrom dan check out hotel.
Pagi itu sehabis subuh tak karuan sibuknya kami, mengemasi barang ŷanğ berserakan dua kamar!. Walaupun agak terlambat, akhirnya selesai juga.
Saat berangkat kami menyisakan 3 tas di tenteng ( tepatnya...diseret sih..) dan ternyata lumayan susah, akhirnya hari itu, kami hanya menyisakan dua tas ŷanğ kami tenteng, selain tas tangan ŷanğ memang masing-masing harus membawa satu, isinya buku do'a, kaos kaki/tangan, masker, obat-obatan, dompet dan tentu saja dua botol air!.
Walaupun kami tak mengikuti manasik, bapak sudah pernah menunaikan haji tahun 1994.
Jadi suami dan anakku memakai kain ihrom melihat cara bapak memakainya.
Seperti memakai kain sarung, dengan terlebih dulu menggabungkan dua sisinya.
Satu kain lagi hanya menyelimutkannya di kedua bahu, nanti jika thowaf, bahu kanan harus terbuka.
ªku dan ibu hanya memakai mukena atasan, kaos kaki dan kaos tangan ŷanğ terbuka telapaknya. Kami berdua memakai gamis berwarna putih.
Terlebih dulu kami mandi, merapikan rambut, memotong kuku dan memakai pewangi.
Saat mandi dan sesudahnya kami masih boleh menggunakan wangi-wangian, namun setelah berihrom berlaku larangan-larangan dalam berihrom, yaitu
-dilarang memakai wangi-wangian,
-memotong kuku, rambut dan kulit,
-mencabut pepohonan,
-memburu dan membunuh binatang,
-bermesraan apalagi bersetubuh dan
-menikahkan ataupun dinikahkan.
Sedangkan hal hal selain itu boleh-boleh saja, makan, buang hajat, tidur, mandi dll, dengan syarat kain ihrom ŷanğ kita pakai terbebas dari najis.
Untuk lelaki juga dilarang
-memakai tutup kepala dan
-alas kaki ŷanğ menututupi mata kaki.
Sedangkan wanita dilarang memakai cadar.
Penggunaan tas, payung, kaca mata diperbolehkan.
He he.. Makanya banyak foto-fotoku ŷanğ tetap narsis pake kaca mata kan?...
Perjalanan dari Madinah menuju Makkah lumayan panjang, 5 jam.
Kami tetap terbagi dalam 2 bis.
Pengambilan miqot untuk arah dari Madinah di masjid Bir Ali, Madinah.
Kami mengambil niat umroh disitu.
Bis hanya berhenti sejenak, mempersilahkan siapa saja ŷanğ ingin ke toilet dan memeriksa apakah semua persyaratan ihrom sudah selesai.
Ternyata, banyak bapak-bapak (termasuk suamiku) ŷanğ masih mengenakan celana dalam..^.^
Beruntung sempat diingatkan para muthowif.
Suamiku juga mengganti sepatunya dengan sandal jepit.
Dari Bir Ali kami langsung menuju kota Makkah, bis sengaja melaju pelan saat mendekati Makkah, hal ini karena berdekatan dengan jam sholat Isya, biasanya jalanan sekitar Masjidil Harom penuh dengan orang-orang sholat.
Nanti jangan heran jika di sepanjang jalanan dan plataran mall dan hotel, jika masuk waktunya sholat, banyak jama'ah sholat yang bertebaran di sembarang tempat!. Semua akses jalan sekitar masjidil haram pasti tertutup bagi kendaraan.
Makkah berbeda dengan Madinah, kalau Madinah masih sejuk, segar dan banyak pepohonan, sedangkan Makkah, kotanya berbatu cadas. Gedung-gedung didirikan diatas bebatuan.
Subhanallah...
Bukan saja alamnya, orang-orangnyapun 180 derajat berbeda dengan Madinah!
Saat bis memasuki areal parkir, kami diburu waktu untuk segera turun dari bis, menyeret bawaan, menerobos lalu lalang orang, berebut lift dan berdesak-desakan dengan banyak orang!.
Benar-benar terlupakan adegan gandeng menggandeng kemarin selama di Madinah.
ªku terpisah beberapa kali dengan ibu apalagi anak dan suamiku. Masya Allah...
Semua kutitipkan padaNya.
Lift harus berganti beberapa kali menuju lobby hotel, berebut dengan banyak orang.
Beruntung Ibu bertemu suamiku ŷanğ mendorong Bapak, sambil menyeret sebuah koper.
Anakku terpisah sendiri dalam lift ŷanğ berbeda dengan kami, kulihat ada seorang Muthowif ŷanğ berada di lift ŷanğ sama.
ªku dengan sebuah koperku masih antri di lift berikutnya.
Kami bertemu di lobby hotel Al Shafwah, wajah wajah menegang semua!
Sock terapi di awal perjamuan di kota Makkah.
Kami terpisah 13 lantai dengan kamar Bapak/Ibu, waduuuh..
Tak ada waktu lagi untuk protes!
Kami diharuskan bersabar di kota suci itu.
Kota dimana setiap amalan kita dilipatgandakan sebanyak 100 ribu kali.
Jika kebaikan alangkah nikmatnya namun jika sebaliknya,
Naudzubillah...
Ibadah umroh kami akan dilanjutkan usai makan malam, kami bergegas meletakkan bawaan kami ke kamar hotel, selanjutnya makan malam dan segera ke Baitullah..
Puncak dari perjalanan kami.
Muthowif menawarkan tenaga dorong kursi roda untuk Bapak, kami menyetujuinya.
Mengingat ªku harus menuntun ibu, sedangkan anakku?? Dalam situasi padatnya orang, ªku tak rela melepasnya..
Dengan demikian suamiku beralih tanggung jawab menjaga ibu, sedangkan ªku menemani anakku.
Beberapa pesan disampaikan sebelum kami memasuki Masjidil Haram, hati-hati dengan bawaan terutama hp berkamera, kadang disita oleh penjaga.
Arah adalah hal ŷanğ paling penting, letak Al shafwah berada searah dengan Jam di menara masjid.
Kami harus mengingat nomer pintu masuk, kami berada di pintu 1.
Saat memasuki areal thowaf, tempat bertemu adalah pilar bertanda hijau di dekat deretan kran air zam-zam.
Ŷanğ jelas, nomer handphone muthowif harus diingat, juga nomer posko tazkia.
Saat itu jam menunjukkan pukul 22.35.
Ribuan orang lalu lalang diluar dan didalam masjid, baru tersadar, beberapa pesan Muthowif tadi begitu berharga, pintu masuk masjid terlalu banyak dan setiap sudutnya persis sama.
Apalagi setelah melihat orang berputar-putar dan kita juga thowaf, jika tak mengingat baik baik kita akan tersesat.
Dalam putaran pertama kami masih utuh serombongan, putaran kedua perlahan mulai tercerai berai, putaran ketiga kami berempat kehilangan rombongan.
Akhirnya kami berempat beriringan thowaf sampai selesai.
Dalam setiap putaran ªku membimbing anakku membaca do'a sehafalnya dia, sebelum berangkat ªku menyuruhnya menuliskan apa ŷanğ hendak dia pintakan pada Allah.
Dan benar juga, seusai dia minta menjadi anak sholeh, meminta adik, mendo'akan bapak ibunya, meminta naik kelas, dia juga meminta sederet mainan, mulai dari PSP, Nintendo Wi dan PS 3.
Tak henti-hentinya ªku mengusap kepalanya seraya berdo'a "Rabby habli minasshalikhiin.."
Alhamdulillah dia semangat mengikuti thowaf sampai tujuh putarannya.
Begitu pula saat kami menyelesaikan do'a dan sholat dibelakang maqam Ibrahim.
Setelah selesai kami menuju pilar bertanda hijau, tak kutemui satupun anggota rombongan disitu, sejam lebih kami menunggu..kupikir mereka m berpuas diri berdo'a usai thowaf.
Kami hanya bertemu dengan satu orang jamaah ŷanğ tercerai dari rombongan kami juga.
Bapak syamsul namanya. Beliau seusia bapak, mengalami bengkak di bagian mata kaki salah satunya, mungkin diabetes.
Beliau tertatih-tatih jalannya sempoyongan, kami sepakat melakukan sa'i bersama.
Saat itu kami berjumpa dengan pak Ust pembimbing, ternyata mereka semua baru saja selesai sa'i, dan kami ketinggalan!.
Hari ke 4 Ahad 24 April 2011
Jam 06.30 : Tas bagasi harus sudah didepan kamar masing-masing.
Jam 07.00 : sarapan pagi di hotel
Jam 11.00 : Mandi persiapan ihrom
Jam 12.24 : Dhuhur di masjid Nabawi sekaligus ziarah wada'
Jam 13.00 : Makan siang, memakai baju ihrom dan check out hotel.
Pagi itu sehabis subuh tak karuan sibuknya kami, mengemasi barang ŷanğ berserakan dua kamar!. Walaupun agak terlambat, akhirnya selesai juga.
Saat berangkat kami menyisakan 3 tas di tenteng ( tepatnya...diseret sih..) dan ternyata lumayan susah, akhirnya hari itu, kami hanya menyisakan dua tas ŷanğ kami tenteng, selain tas tangan ŷanğ memang masing-masing harus membawa satu, isinya buku do'a, kaos kaki/tangan, masker, obat-obatan, dompet dan tentu saja dua botol air!.
Walaupun kami tak mengikuti manasik, bapak sudah pernah menunaikan haji tahun 1994.
Jadi suami dan anakku memakai kain ihrom melihat cara bapak memakainya.
Seperti memakai kain sarung, dengan terlebih dulu menggabungkan dua sisinya.
Satu kain lagi hanya menyelimutkannya di kedua bahu, nanti jika thowaf, bahu kanan harus terbuka.
ªku dan ibu hanya memakai mukena atasan, kaos kaki dan kaos tangan ŷanğ terbuka telapaknya. Kami berdua memakai gamis berwarna putih.
Terlebih dulu kami mandi, merapikan rambut, memotong kuku dan memakai pewangi.
Saat mandi dan sesudahnya kami masih boleh menggunakan wangi-wangian, namun setelah berihrom berlaku larangan-larangan dalam berihrom, yaitu
-dilarang memakai wangi-wangian,
-memotong kuku, rambut dan kulit,
-mencabut pepohonan,
-memburu dan membunuh binatang,
-bermesraan apalagi bersetubuh dan
-menikahkan ataupun dinikahkan.
Sedangkan hal hal selain itu boleh-boleh saja, makan, buang hajat, tidur, mandi dll, dengan syarat kain ihrom ŷanğ kita pakai terbebas dari najis.
Untuk lelaki juga dilarang
-memakai tutup kepala dan
-alas kaki ŷanğ menututupi mata kaki.
Sedangkan wanita dilarang memakai cadar.
Penggunaan tas, payung, kaca mata diperbolehkan.
He he.. Makanya banyak foto-fotoku ŷanğ tetap narsis pake kaca mata kan?...
Perjalanan dari Madinah menuju Makkah lumayan panjang, 5 jam.
Kami tetap terbagi dalam 2 bis.
Pengambilan miqot untuk arah dari Madinah di masjid Bir Ali, Madinah.
Kami mengambil niat umroh disitu.
Bis hanya berhenti sejenak, mempersilahkan siapa saja ŷanğ ingin ke toilet dan memeriksa apakah semua persyaratan ihrom sudah selesai.
Ternyata, banyak bapak-bapak (termasuk suamiku) ŷanğ masih mengenakan celana dalam..^.^
Beruntung sempat diingatkan para muthowif.
Suamiku juga mengganti sepatunya dengan sandal jepit.
Dari Bir Ali kami langsung menuju kota Makkah, bis sengaja melaju pelan saat mendekati Makkah, hal ini karena berdekatan dengan jam sholat Isya, biasanya jalanan sekitar Masjidil Harom penuh dengan orang-orang sholat.
Nanti jangan heran jika di sepanjang jalanan dan plataran mall dan hotel, jika masuk waktunya sholat, banyak jama'ah sholat yang bertebaran di sembarang tempat!. Semua akses jalan sekitar masjidil haram pasti tertutup bagi kendaraan.
Makkah berbeda dengan Madinah, kalau Madinah masih sejuk, segar dan banyak pepohonan, sedangkan Makkah, kotanya berbatu cadas. Gedung-gedung didirikan diatas bebatuan.
Subhanallah...
Bukan saja alamnya, orang-orangnyapun 180 derajat berbeda dengan Madinah!
Saat bis memasuki areal parkir, kami diburu waktu untuk segera turun dari bis, menyeret bawaan, menerobos lalu lalang orang, berebut lift dan berdesak-desakan dengan banyak orang!.
Benar-benar terlupakan adegan gandeng menggandeng kemarin selama di Madinah.
ªku terpisah beberapa kali dengan ibu apalagi anak dan suamiku. Masya Allah...
Semua kutitipkan padaNya.
Lift harus berganti beberapa kali menuju lobby hotel, berebut dengan banyak orang.
Beruntung Ibu bertemu suamiku ŷanğ mendorong Bapak, sambil menyeret sebuah koper.
Anakku terpisah sendiri dalam lift ŷanğ berbeda dengan kami, kulihat ada seorang Muthowif ŷanğ berada di lift ŷanğ sama.
ªku dengan sebuah koperku masih antri di lift berikutnya.
Kami bertemu di lobby hotel Al Shafwah, wajah wajah menegang semua!
Sock terapi di awal perjamuan di kota Makkah.
Kami terpisah 13 lantai dengan kamar Bapak/Ibu, waduuuh..
Tak ada waktu lagi untuk protes!
Kami diharuskan bersabar di kota suci itu.
Kota dimana setiap amalan kita dilipatgandakan sebanyak 100 ribu kali.
Jika kebaikan alangkah nikmatnya namun jika sebaliknya,
Naudzubillah...
Ibadah umroh kami akan dilanjutkan usai makan malam, kami bergegas meletakkan bawaan kami ke kamar hotel, selanjutnya makan malam dan segera ke Baitullah..
Puncak dari perjalanan kami.
Muthowif menawarkan tenaga dorong kursi roda untuk Bapak, kami menyetujuinya.
Mengingat ªku harus menuntun ibu, sedangkan anakku?? Dalam situasi padatnya orang, ªku tak rela melepasnya..
Dengan demikian suamiku beralih tanggung jawab menjaga ibu, sedangkan ªku menemani anakku.
Beberapa pesan disampaikan sebelum kami memasuki Masjidil Haram, hati-hati dengan bawaan terutama hp berkamera, kadang disita oleh penjaga.
Arah adalah hal ŷanğ paling penting, letak Al shafwah berada searah dengan Jam di menara masjid.
Kami harus mengingat nomer pintu masuk, kami berada di pintu 1.
Saat memasuki areal thowaf, tempat bertemu adalah pilar bertanda hijau di dekat deretan kran air zam-zam.
Ŷanğ jelas, nomer handphone muthowif harus diingat, juga nomer posko tazkia.
Saat itu jam menunjukkan pukul 22.35.
Ribuan orang lalu lalang diluar dan didalam masjid, baru tersadar, beberapa pesan Muthowif tadi begitu berharga, pintu masuk masjid terlalu banyak dan setiap sudutnya persis sama.
Apalagi setelah melihat orang berputar-putar dan kita juga thowaf, jika tak mengingat baik baik kita akan tersesat.
Dalam putaran pertama kami masih utuh serombongan, putaran kedua perlahan mulai tercerai berai, putaran ketiga kami berempat kehilangan rombongan.
Akhirnya kami berempat beriringan thowaf sampai selesai.
Dalam setiap putaran ªku membimbing anakku membaca do'a sehafalnya dia, sebelum berangkat ªku menyuruhnya menuliskan apa ŷanğ hendak dia pintakan pada Allah.
Dan benar juga, seusai dia minta menjadi anak sholeh, meminta adik, mendo'akan bapak ibunya, meminta naik kelas, dia juga meminta sederet mainan, mulai dari PSP, Nintendo Wi dan PS 3.
Tak henti-hentinya ªku mengusap kepalanya seraya berdo'a "Rabby habli minasshalikhiin.."
Alhamdulillah dia semangat mengikuti thowaf sampai tujuh putarannya.
Begitu pula saat kami menyelesaikan do'a dan sholat dibelakang maqam Ibrahim.
Setelah selesai kami menuju pilar bertanda hijau, tak kutemui satupun anggota rombongan disitu, sejam lebih kami menunggu..kupikir mereka m berpuas diri berdo'a usai thowaf.
Kami hanya bertemu dengan satu orang jamaah ŷanğ tercerai dari rombongan kami juga.
Bapak syamsul namanya. Beliau seusia bapak, mengalami bengkak di bagian mata kaki salah satunya, mungkin diabetes.
Beliau tertatih-tatih jalannya sempoyongan, kami sepakat melakukan sa'i bersama.
Saat itu kami berjumpa dengan pak Ust pembimbing, ternyata mereka semua baru saja selesai sa'i, dan kami ketinggalan!.
AMBIL HIKMAHNYA
Wisata Hati --------------> part 5
Sebisa mungkin selama di Madinah kami disarankan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Lokasi hotel ŷanğ hanya beberapa langkah dari masjid memudahkan kami kapan saja bisa turun ke masjid.
Seluruh agenda jalan-jalan disesuaikan jamnya ba'da dhuha sampai sebelum dhuhur, atau ba'da asar sampai sebelum maghrib.
Malam sampai pagi terserah pada jama'ah, menikmati kenyamanan hotel ataupun kenikmatan masjid.
Semangat kami masih menyala di hari pertama dan kedua itu, kenyamanan kota Madinah juga sangat mendukung, tenaga kami masih mampu menyelesaikan tour sekaligus berlama-lama didalam masjid Nabawi, tak terasa tiba-tiba waktu sarapan sudah menjelang.
Ada suasana terbalik dalam rombongan kecilku,akan ªku ceritakan, semata-mata biar bisa diambil hikmahnya, untukku terutama.
Kami bertiga menghabiskan waktu semalaman di masjid Nabawi, sementara Bapak/Ibu mengeluhkan capek dan sakit, sehingga untuk makanpun mereka meminta perhatian lebih dari anak cucunya.
Ada banyak sisipan dosa kami di sini, melihat peluang ibadah ŷanğ harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dihari-hari berharga itu, sementara semangat Beliau-beliau ini belum juga tersentuh.
Saat ªku ajak berjama'ah sholat di masjid Bapak mengeluhkan tensinya naik, 170 katanya.
Mereka kebetulan membawa alat pengukur digital.
Sedangkan Ibu mengeluh lelah dan tak tega meninggalkan Bapak.
Kulihat ada rona tak rela di wajah suamiku, mungkin gemes kali ya...
Sedangkan sebagean besar rombongan bis kami adalah lansia ŷanğ sebaya bahkan beberapa diantaranya lebih tua, mereka tanpa anak-anaknya, sehat dan bersemangat.
Mereka menenteng koper-koper mereka sendiri, naik turun hotel sendiri tanpa ada ŷanğ melayani.
Keadaan ŷanğ berbalik dengan rombongan kecil kami, praktis tak banyak teman seperjalanan ŷanğ kami kenal, karena perhatian kami berdua tertumpah untuk mereka.
Hanya ada satu dua orang ŷanğ kukenal, salah satunya tetangga kamarku no 10010, mamanya Arya, anak kami juga bersahabat selama dalam perjalanan.
Kami sering berangkat shalat bersama, lama kelamaan persahabatan terjalin dengan sendirinya.
Kuutarakan kondisi Bapakku, saat dia menanyakan, lebih tepatnya menasehatiku,
"Kok Ibu ditinggal lagi sih?"..katanya.
Entah kenapa kami sepertinya sudah mengenal lebih lama dari usia kebersamaan kami.
Mendengar kondisi bapak, dia ikut prihatin dan menyarankan ditest lagi tekanan darahnya.
Ternyata suami istri itu pasangan dokter gigi dan dokter anak.
Subhanallah.. ªku mengeluh pada orang ŷanğ tepat.
Iseng kuutarakan tekanan darahku saat terakhir ªku menghadap dokter, 155/110.
"Hah... Cepetan dicek lagi sekarang, ªku pingin lihat!" katanya kaget.
Waktu itu sudah jam 23.30, kami sebenarnya berniat di masjid sampai subuh.
ªku meminjam alat ukur tensi Bapak, sebelumnya kuukur dulu tekanan Beliau, ternyata 163/93.
Sedangkan punyaku 150/105.
Nyatanya, tekanan darahku ŷanğ justru berada dalam batas tidak normal!
Suamiku segera mencari apotik ŷanğ buka ditengah malam itu, obat ŷanğ kubawa tinggal sebiji dan sudah kuberikan pada Bapak usai makan malam tadi.
Apotik masih buka, namun kami kesulitan berkomunikasi dengan pegawainya.
Kami memutuskan mencari Muthowif untuk membantu.
Dalam sejam Mama Arya sudah 4 kali menelponku, menanyakan apakah ªku sudah meminum obatnya, kujelaskan bahwa ªku harus menyertakan resep, karena mereka ternyata tak mau mengeluarkan obat tanpa resep dokter.
Mama Arya memintaku kekamarnya, dia memberikan selembar resep ŷanğ kubutuhkan, Alhamdulillah..akhirnya tengah malam itu 'captopril 25 mg' bisa kuperoleh, dan kuminum separuh tabletnya pagi dan malam.
Esok paginya dan seterusnya sahabatku itu rajin menanyakan keadaanku.
Kehebohan pagi buta itu memberikan hikmah buat kami, kejadian itu tak luput dari perhatian Bapak dan Ibu mertuaku, sejak itu mereka berdua sedikit berubah.
Diriku apalagi!,ªku wajib menahan emosiku, memintakan kesabaran lagi pada Allah.
Bagaimanapun melihat 'sesuatu' antara suamiku dan orang tuanya sedikit banyak mempengaruhi emosiku.
Alhamdulillah anakku tak sedikitpun menunjukkan lelah dan rewel sampai detik itu.
ªku hanya menyarankan suamiku berdo'a untuk kami, menyemangati Bapak Ibu mertuaku agar mereka bercermin pada teman-teman serombongan lainnya.
Jika sebelumnya mereka minta dilayani, diantar jemput dari atau ke kamar Beliau, sekarang jika sudah tiba waktunya sholat di masjid, mereka sudah siap-siap didalam kamarnya, bahkan kadang-kadang mereka sudah mengetok pintu kamar kami.
Alhamdulillah...
Minimal mereka mempunyai semangat seperti teman-teman rombongan lansia ŷanğ lainnya.
Rasa lega kulihat terpancar dari wajah suamiku, keinginannya mengajak umroh kedua orang tuanya adalah untuk itu, dia ingin kedua orang tuanya bersemangat menghabiskan masa tua mereka sebaik-baiknya, dengan ibadah.
Semua perlu waktu, kesabaran dan do'a, ªku yakin dia tak lelah memohonkannya untuk kami dan kedua orang tuanya.
Sampai pada hari terakhir di kota Madinah, kami merasakan kota itu benar-benar damai, nyaman dan tenteram.
Orang-orangnya ramah dan terlihat melindungi tamu-tamu negara lain ŷanğ berpostur lebih kecil dari mereka. Indonesia, Malaysia dan warga Asia lainnya mendapat perlakuan lebih istimewa dibanding warga negara berpostur besar lainnya.
O ÎƔâä.. Sepanjang jalan menuju masjid banyak orang-orang menjajakan dagangan, ada jubah-jubah hitam, pasmina, souvenir, parfum, jam tangan bahkan Al-Qur'an.
Saat melihat orang menjual Al Qur'an, mereka mengatakan "Waqaf! Waqaf! "
Awalnya ªku tak mengerti apa maksudnya, ternyata Al Qur'an itu diperuntukkan bagi siapa saja ŷanğ ingin mewaqafkannya untuk dibaca jama'ah di masjid Nabawi.
Harganya sekitar 50 real.
Banyaknya jama'ah ŷanğ i'tikaf di masjid itu memungkinkan Al Qur'an ŷanğ kita waqafkan akan dibaca ribuan bahkan jutaan orang!
Aneka souvenir, kalung kalung cantik berharga 10 real tiap packnya, jam tangan satuan seharga 25 real, namun jika kita membeli 10 biji kita mendapat bonus sebiji, hi hi... Indonesia banget!..
Pasmina beragam harganya, ada ŷanğ 5 real sebiji ada pula ŷanğ 20 real. Jubah rata-rata 50 real harganya.
Katanya harga di Madinah lebih murah daripada di Makkah, namun tunggu dulu..ternyata lokasi hotel di Makkah nanti berada di atasnya Mall Al shafwah...jadi acara belanja ternyata lebih mengasikkan di Makkah.^.^
Sebisa mungkin selama di Madinah kami disarankan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Lokasi hotel ŷanğ hanya beberapa langkah dari masjid memudahkan kami kapan saja bisa turun ke masjid.
Seluruh agenda jalan-jalan disesuaikan jamnya ba'da dhuha sampai sebelum dhuhur, atau ba'da asar sampai sebelum maghrib.
Malam sampai pagi terserah pada jama'ah, menikmati kenyamanan hotel ataupun kenikmatan masjid.
Semangat kami masih menyala di hari pertama dan kedua itu, kenyamanan kota Madinah juga sangat mendukung, tenaga kami masih mampu menyelesaikan tour sekaligus berlama-lama didalam masjid Nabawi, tak terasa tiba-tiba waktu sarapan sudah menjelang.
Ada suasana terbalik dalam rombongan kecilku,akan ªku ceritakan, semata-mata biar bisa diambil hikmahnya, untukku terutama.
Kami bertiga menghabiskan waktu semalaman di masjid Nabawi, sementara Bapak/Ibu mengeluhkan capek dan sakit, sehingga untuk makanpun mereka meminta perhatian lebih dari anak cucunya.
Ada banyak sisipan dosa kami di sini, melihat peluang ibadah ŷanğ harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dihari-hari berharga itu, sementara semangat Beliau-beliau ini belum juga tersentuh.
Saat ªku ajak berjama'ah sholat di masjid Bapak mengeluhkan tensinya naik, 170 katanya.
Mereka kebetulan membawa alat pengukur digital.
Sedangkan Ibu mengeluh lelah dan tak tega meninggalkan Bapak.
Kulihat ada rona tak rela di wajah suamiku, mungkin gemes kali ya...
Sedangkan sebagean besar rombongan bis kami adalah lansia ŷanğ sebaya bahkan beberapa diantaranya lebih tua, mereka tanpa anak-anaknya, sehat dan bersemangat.
Mereka menenteng koper-koper mereka sendiri, naik turun hotel sendiri tanpa ada ŷanğ melayani.
Keadaan ŷanğ berbalik dengan rombongan kecil kami, praktis tak banyak teman seperjalanan ŷanğ kami kenal, karena perhatian kami berdua tertumpah untuk mereka.
Hanya ada satu dua orang ŷanğ kukenal, salah satunya tetangga kamarku no 10010, mamanya Arya, anak kami juga bersahabat selama dalam perjalanan.
Kami sering berangkat shalat bersama, lama kelamaan persahabatan terjalin dengan sendirinya.
Kuutarakan kondisi Bapakku, saat dia menanyakan, lebih tepatnya menasehatiku,
"Kok Ibu ditinggal lagi sih?"..katanya.
Entah kenapa kami sepertinya sudah mengenal lebih lama dari usia kebersamaan kami.
Mendengar kondisi bapak, dia ikut prihatin dan menyarankan ditest lagi tekanan darahnya.
Ternyata suami istri itu pasangan dokter gigi dan dokter anak.
Subhanallah.. ªku mengeluh pada orang ŷanğ tepat.
Iseng kuutarakan tekanan darahku saat terakhir ªku menghadap dokter, 155/110.
"Hah... Cepetan dicek lagi sekarang, ªku pingin lihat!" katanya kaget.
Waktu itu sudah jam 23.30, kami sebenarnya berniat di masjid sampai subuh.
ªku meminjam alat ukur tensi Bapak, sebelumnya kuukur dulu tekanan Beliau, ternyata 163/93.
Sedangkan punyaku 150/105.
Nyatanya, tekanan darahku ŷanğ justru berada dalam batas tidak normal!
Suamiku segera mencari apotik ŷanğ buka ditengah malam itu, obat ŷanğ kubawa tinggal sebiji dan sudah kuberikan pada Bapak usai makan malam tadi.
Apotik masih buka, namun kami kesulitan berkomunikasi dengan pegawainya.
Kami memutuskan mencari Muthowif untuk membantu.
Dalam sejam Mama Arya sudah 4 kali menelponku, menanyakan apakah ªku sudah meminum obatnya, kujelaskan bahwa ªku harus menyertakan resep, karena mereka ternyata tak mau mengeluarkan obat tanpa resep dokter.
Mama Arya memintaku kekamarnya, dia memberikan selembar resep ŷanğ kubutuhkan, Alhamdulillah..akhirnya tengah malam itu 'captopril 25 mg' bisa kuperoleh, dan kuminum separuh tabletnya pagi dan malam.
Esok paginya dan seterusnya sahabatku itu rajin menanyakan keadaanku.
Kehebohan pagi buta itu memberikan hikmah buat kami, kejadian itu tak luput dari perhatian Bapak dan Ibu mertuaku, sejak itu mereka berdua sedikit berubah.
Diriku apalagi!,ªku wajib menahan emosiku, memintakan kesabaran lagi pada Allah.
Bagaimanapun melihat 'sesuatu' antara suamiku dan orang tuanya sedikit banyak mempengaruhi emosiku.
Alhamdulillah anakku tak sedikitpun menunjukkan lelah dan rewel sampai detik itu.
ªku hanya menyarankan suamiku berdo'a untuk kami, menyemangati Bapak Ibu mertuaku agar mereka bercermin pada teman-teman serombongan lainnya.
Jika sebelumnya mereka minta dilayani, diantar jemput dari atau ke kamar Beliau, sekarang jika sudah tiba waktunya sholat di masjid, mereka sudah siap-siap didalam kamarnya, bahkan kadang-kadang mereka sudah mengetok pintu kamar kami.
Alhamdulillah...
Minimal mereka mempunyai semangat seperti teman-teman rombongan lansia ŷanğ lainnya.
Rasa lega kulihat terpancar dari wajah suamiku, keinginannya mengajak umroh kedua orang tuanya adalah untuk itu, dia ingin kedua orang tuanya bersemangat menghabiskan masa tua mereka sebaik-baiknya, dengan ibadah.
Semua perlu waktu, kesabaran dan do'a, ªku yakin dia tak lelah memohonkannya untuk kami dan kedua orang tuanya.
Sampai pada hari terakhir di kota Madinah, kami merasakan kota itu benar-benar damai, nyaman dan tenteram.
Orang-orangnya ramah dan terlihat melindungi tamu-tamu negara lain ŷanğ berpostur lebih kecil dari mereka. Indonesia, Malaysia dan warga Asia lainnya mendapat perlakuan lebih istimewa dibanding warga negara berpostur besar lainnya.
O ÎƔâä.. Sepanjang jalan menuju masjid banyak orang-orang menjajakan dagangan, ada jubah-jubah hitam, pasmina, souvenir, parfum, jam tangan bahkan Al-Qur'an.
Saat melihat orang menjual Al Qur'an, mereka mengatakan "Waqaf! Waqaf! "
Awalnya ªku tak mengerti apa maksudnya, ternyata Al Qur'an itu diperuntukkan bagi siapa saja ŷanğ ingin mewaqafkannya untuk dibaca jama'ah di masjid Nabawi.
Harganya sekitar 50 real.
Banyaknya jama'ah ŷanğ i'tikaf di masjid itu memungkinkan Al Qur'an ŷanğ kita waqafkan akan dibaca ribuan bahkan jutaan orang!
Aneka souvenir, kalung kalung cantik berharga 10 real tiap packnya, jam tangan satuan seharga 25 real, namun jika kita membeli 10 biji kita mendapat bonus sebiji, hi hi... Indonesia banget!..
Pasmina beragam harganya, ada ŷanğ 5 real sebiji ada pula ŷanğ 20 real. Jubah rata-rata 50 real harganya.
Katanya harga di Madinah lebih murah daripada di Makkah, namun tunggu dulu..ternyata lokasi hotel di Makkah nanti berada di atasnya Mall Al shafwah...jadi acara belanja ternyata lebih mengasikkan di Makkah.^.^
Langganan:
Postingan (Atom)












