Setelah melewati beberapa kejadian kemarin, memberikan warna baru dalam hidupku Sosok suami, anak, keluarga, teman, menjadi sangat berarti ketika kita sedang diuji. Padahal, sebelumnya aku tak begitu menghargai keberadaan mereka. Aku merasa, aku bisa tanpa mereka.
Itu kemarin.....
Sekarang, saatnya memanfaatkan waktu yang ada menjadi lebih berkwalitas lagi, apapun itu..
Aku lebih sering ikut teman sekedar berkumpul makan rujak, arisan dan pengajian. Tak peduli lagi mereka suka bergosip atau tidak, yang penting tujuanku baik, menjalin silaturahmi dengan mereka, tak ada waktu memilih milih teman dan tetangga.
Bersama keluarga, aku lebih sedikit legowo, lebih santai dan mengikuti kemauan mereka, asalkan masih dalam koridor yang benar, it's ok. . tak usah lagi bersikap kaku dan semaunya sendiri.
He. he. .jadi ngaku deh. .
Setelah sehat, tenagaku berangsur pulih kembali. Suamiku membuat kesibukan baru yang nantinya diperuntukkan buatku mengsi waktu, agar aku tidak menjadi jenuh di rumah.
Awalnya, kami menemukan tempat kursus pembibitan lobster air tawar, sepertinya seru, sesuai dengan hobby kami, berkebun dan beternak.
Karena ada baby, suami yang kebagian tugas mengikuti kursus. Seharian waktunya, biayanya sekitar 500 ribu. Pulangnya mendapat sertifikat, 10 ekor bibit udang usia sekitar 2 bulan dan makan siang.
Cihuuuy. . .tantangan dimulai!
Kami memanfaatkan aquarium bekas ikan hias dirumah, selama hampir sebulan.
Perawatannya sama dengan memelihara ikan hias, pakannya juga ada tersedia di toko penjual ikan..
Setiap hari senang rasaya memperhatikan gerak gerik mereka. Terasa lambat memang jika menyadari bahwa mereka udang konsumsi, kapan besarnya ya?. Gak sabar, ingin segera bisa menyantapnya.
Kami mempunyai kolam yang awalnya adalah kolam renang kecil. Cita2 kami dulu jika kelak mempunyai rumah, ingin mempunyai kolam renang sendiri. Itu disebabkan aku tidak bisa berenang, jadi ingin belajar sendiri di rumah.
Sempat menikmati sebagai kolam renang keluarga, walaupun terasa kekecilan, si Kakak memang tak lagi anak anak. Saat itu belum ada tanda tanda aku hamil.
Sempat berubah menjadi kolam ikan koi. Termasuk cita cita kami juga, ingin memelihara ikan koi, sepertinya damai rasanya rumah jika ada suara gemericik air dengan warna warni ikan koi didalamnya.
Memelihara ikan koi tak semudah dibayangkan, beberapa kali ikan kami mati, padahal harganya lumayan mahal. Buat suami sih gak masalah, tapi beda denganku, uang seberapapun tetap kuperhitungkan, walaupun itu demi alasan hobby.
Sekali dua kali ikan kami mati, besoknya beli lagi, begitu seterusnya sampai kemudian pernah kejadian mati massal. He he. .
Sedikit berantem sih, antara mempertahankan koi atau berubah haluan, mencari alternatif lainnya.
Sempat terpikir kembali memngfungsikan kolam renang, ini karena si Adek sudah ada, tapi demi koi kemarin, kolam kami sudah di kuliti keramik samping dan bawahnya.
Akhirnya terbersit untuk memelihara lobster.
Ide ini muncul ketika aku menemukan buku panduan memelihara lobster dalam tumpukan bukuku di kardus, Keinginan yang terpendam sejak beberapa tahun yang lalu.
Kami mulai googling, mencari info tetntang lobster, sampai kemudian kami menemukan tempat kursus beternak lobster di daerah Bintaro teersebut.
Setelah melihat perkembangan ke 10 lobster anakanku dalam aquarium, terlihat aquarium itu mulai sesak, akhirnya kami memindahkan ke dalam kolam.
Tampak perbedaannya. Lobster2ku begitu cepat membesar saat berada di kolam, mereka leluasa bergerak, memicu perkembangan tubuhnya.
Lumayan harus sabar,karena dalam beberapa bulan kedepan sepertinya terasa membosankan. sangat membosankan.
Hampir patah semangat, terfikir pindah haluan lagi, kami berencana mencoba beternak lele, mencoba berkebun dengan hidroponik atau menanam jamur merang.
Semua sepertinya bakal menyenangkan.
D ipuncak kebosanan, tiba tiba ada harapan baru, lobster kami ternyata sudah beanak pinak!
Baru kami ketahui ketika kuperhatikan ada tangan2 mungil di dalam pipa2 pembuangan. Pipa itu memanjang didasar kolam, tertanam dengan puluhan lobang lobang kecil untuk menyedot kotoran dalam kolam.
Saat ini, pipa itu penuh dengan anakan lobster berumur sekitar sebulan.
Alhamdulillah. . .Cihuyyy
semangat kami tumbuh kembali.
Welcome babbies. .
**catatan ini seharusnya tayang 5 bulan yang lalu. . karena kejadiannya sekitar 5 bulanan yang lalu
Jumat, 18 Desember 2015
Selasa, 03 Februari 2015
AKU SEMBUH DARI HIPOKALEMIA! #semoga ( bagian 2 )
Butuh waktu beberapa lama untuk memastikan,bahwa aku benar terbebas dari KSR dan Aldactone, 2 obat yang setia menemaniku melewati masa sulit di dera hipokalemia.
Setelah melewati 3 bulan ini barulah berani ku lanjut lagi ceritaku.
Sebelum lebaran tahun kemarin, beberapa kali aku kambuh, tiba-tiba lowbat, sesak nafas, jantung berdebar dan kram otot.
Naik mobil 3 sampai 4 jam sudah kram. Tukang pijit langgananku sudah pasti tiap minggu datang. Selain kram, seluruh uratku beberapa kali rasanya sakit jika disentuh.
Sendirian di rumah membuatku ketakutan, apalagi jika mendung, hujan dan petir. Kalau sedang puncaknya kambuh, ke kamar mandipun aku minta ditungguin. Sepertinya aku mau jatuh, dan merasa tenang jika ada orang didekatku.
Keadaan ini tentu saja merepotkan anak dan suami, ditambah lagi keberadaan si kecil yang masih sangat membutuhkan aku.
Suatu hari, aku mengalami kram otot dan gemetaran kembali, buru buru aku lari ke RS langgananku. Kedatanganku kali ini ke dr Saiful di sambut mimik yang kurang kusuka, bosan kali pak dokternya melihatku datang dan datang lagi tanpa bisa ditemukan penyebab kaliumku ngedrop.
Dengan muka serius beliau menyodorkan nama seorang dokter. dr Parlin, dia ada di RS Siloam Karawachi.
Tak begitu jauh sih dari rumah, setengah sampai sejam perjalanan. Menurutnya dr Parlin ini adalah dokter spesialis untuk kasus elektrolit tubuh.
Karena agak jauh, aku memutuskan mencari dokter yang sebidang dengan dr Parlin, aku mencari dokter spesialis endokrin di RS Eka Hospital, lumayan deket dari rumah, bisa terjangkau dengan ojek dan angkot, Perhitunganku adalah, jika sewaktu waktu aku kambuh, maka dengan mudah aku menjangkaunya.
Ternyata dokter yang kucari sudah pindah ke RS Bethsaida Serpong, agak jauhan sedikit,tapi lebih dekat daripada aku ke Karawachi
.
Aku bertemu dengan Dr Rohsismandoko, ternyata dia ada di Diabetes Centre, agak ragu sih, tapi ya sudahlah, dia kan juga specialis penyakit dalam, pikirku.
Aku menjalani beberapa test darah, USG dan CT Scan abdomen, hasilnya, tiroidku bermasalah, dan harus di biopsi untuk memastikan kebenarannya. Selain itu aku juga test hormon, lumayan mahal test ini, sekitar 2 jutaan, hasilnya pun menunggu sebulan. Darah yang diambil juga lumayan banyak, 5 tabung!, huiks. . serem ya. .
Lebih seram lagi ketika akhirnya hasil test keluar, aku harus menjalani operasi untuk mengangkat tyroidku yang mengandung sel ganas. Waduh!
Tarik ulur mulai kujalani, beruntung dr Rohsis begitu memahamiku, faktor umur si kecil, waktu mendekati lebaran dan kesiapanku menjalani operasi itu yang coba kutawar kembali.
Sebulan, dua bulan kulewati dengan aman , Eutyrok 50 mg berikut vitamin saraf tepi tak boleh terlewatkan, juga KSR 1 tablet perhari.
Beberapa kali aku mengalami kram otot dan kesemutan, dokter menyarankan aku mengkonsumsi minuman elektrolit jika mendesak.
Aku berjanji, sepulang lebaran aku menjalani operasi pengangkatan kelenjar tyroid. Beliau hanya tersenyum.
Dokter terbaik yang pernah kutemui.
Tingkat kekambuhanku kian hari meningkat,hingga aku kembali panik dan lari ke dr Saiful kembali, dokter terdekat dan paling mengerti kondisiku. Sapaannya benar sinis kali ini, "Ibu kok kembali lagi ke saya? tidak ada kemajuan jika Ibu berobat ke saya",
Kecerobohanku mengabaikan sarannya membuatnya jengkel kepadaku, "Maaf Dok"
Diantar suami aku mendatangi RS Siloam Karawachi, bertemu Prof. Dr.dr Parlindungan Siregar SpPD. KGH.
Lembar - lembar test awal RS lain ditolak semua, aku wajib menjalani serangkaian test laboratorium di RS itu, MRI abdomen, Rontgen, test darah dll.
Hasilnya, ditemukan tumor jinak di ginjal kiriku dan kelenjar adrenal kiri.
Dokter menyebutkan, tumor adrenal kiri itulah yang menyebabkan kaliumku selalu drop, harus diangkat, jika aku ingin sembuh..
Ada satu test darah yang membuatku merinding sampai sekarang, test untuk hormon, pengambilan darahnya di urat nadi. rasanya seperti ditusuk jarum suntik biasa sih, namun setelah jarum dicabut uratnya menggelembung besar, rasanya seperti ditiup. Sakitnya juga terasa beda dan sesudahnya, area sekitar suntikan sedikit membengkak dan kebiruan. Kurang lebih 2 mingguan warna biru itu belum juga hilang. Baru sekali itu aku merasakan nadiku ditusuk jarum, jadi kebayang gimana ngerinya kalau orang bunuh diri dengan cara dipotong urat nadinya, he he..
Dua bulan kemudian.
Keputusan operasi belum juga kutentukan jadwalnya. Butuh kesiapan dan tentunya menunggu ada keluarga yang datang, bagaimanapun si Adek tidak boleh lagi ikut ke RS.
Biayanya juga lumayan mahal, kurang lebih membutuhkan sekitar 50 jutaan di RS itu.
Ada teman seorang dokter bedah urologi yang menyarankan aku pindah ke RSCM, disana dokternya lebih senior dan peralatannya lebih canggih, apalagi biayanya tentu bisa lebih murah lagi. Operasinya juga ada dua pilihan, bisa open langsung dan juga laparoskopi. Menurut dia, aku lebih baik di RSCM.
Hm. . lagi-lagi aku menghabiskan waktu sebulan untuk menimbang keputusan. Dr Saiful kembali ku datangi tentunya wajahnyapun dipenuhi kejengkelan melihatku membuang- buang uang dan kesempatan kembali lagi pada Beliau.
Beliau tetap menyarankan aku menjalani operasi bedah open di RS Siloam dan dengan pengawasan dr Parlin berikut menjalani semua tindakan yang disarankannya.
Aku lumayan tenang mendengar saran Beliau, bagaimanapun aku tak mau pusing dan tambah panik dengan memikirkan tindakan operasiku nanti.
Aku harus berani demi kesembuhanku sendiri, demi anakku dan suami.
Dengan mantap aku mendatangi dokter bedahku, Beliau adalah dr Boyke, Sp.U. Wajah kalem dan santunnya membuatku tenang ditangani oleh Beliau, Terus terang itu yang membuatku kuat.
Di banding dengan 2 kali operasiku sebelumnya, kali ini aku merasakan berbeda, aku lebih pasrah, tidak panik sama sekali, tensiku juga stabil. Padahal, ini yang aku khawatirkan dari awal.
Berdua saja kami di RS, sementara adik dijagain Eyangnya dan Tantenya. Inilah resikonya hidup di perantauan,
Operasi berjalan lancar selama 2 jam, Kata dokter, prosesnya sedikit rumit karena beberapa sel tumornya mulai menempel di paru-paru dan ginjal, namun secara keseluruhan proses operasi masih tergolong aman. Alhamdulillah.
Proses pemulihan berjalan normal, sekitar 5 hari. Obat-obatan perlahan dikurangi, terutama KSR, Pemasok kalium ke darahku ini semula harus kuminum 3 kali sehari. Jika terlambat sedikit saja tubuhku terasa melemah secara drastis, seperti HP kehabisan baterai, nafas terengah-engah, kram otot dan jantung berdebar kencang.
Hari ke tiga pasca operasi pemakaian KSR dan Aldactone total dihentikan. Ada lagi obat yang selalu setia menemaniku, Amlodiphine, juga mulai dihentikan. Padahal aku meminumnya sejak 5 tahunan yang lalu. Tensiku dulu berkisar 140/100 jika tanpa obat.
Alhamdulillah, 3 bulan sudah aku melewati masa pemulihan, sekarang keadaanku mulai normal, Jika dulu selalu tergantung obat, sekarang praktis tanpa obat lagi. Dulu selalu berfikir ulang jika harus berlibur panjang, apalagi jika jarak tempuhnya panjang dan lama, sekarang tak masalah lagi. Dulu setiap 2 jam sekali aku harus makan, karena badanku selalu lemas, sekarang normal 3 kali sehari.
Selamat tinggal KSR, Aldactone,Amlodiphine, Oksican, Propolis, Jus Mengkudu, Dogan ijo, jus Melon dan Pisang raja.
Eh... untuk 3 makanan terakhir harus tetap dikonsumsi, asupan kalium harus tetap ada dalam porsi seperlunya.
Jika ada Sahabat yang memerlukan informasi lebih jelas, silahkan tinggalkan pesan, aku akan dengan senang hati membantu kalian, semoga kita selalu dalm lindunganNya, Aamiin. .
Setelah melewati 3 bulan ini barulah berani ku lanjut lagi ceritaku.
Sebelum lebaran tahun kemarin, beberapa kali aku kambuh, tiba-tiba lowbat, sesak nafas, jantung berdebar dan kram otot.
Naik mobil 3 sampai 4 jam sudah kram. Tukang pijit langgananku sudah pasti tiap minggu datang. Selain kram, seluruh uratku beberapa kali rasanya sakit jika disentuh.
Sendirian di rumah membuatku ketakutan, apalagi jika mendung, hujan dan petir. Kalau sedang puncaknya kambuh, ke kamar mandipun aku minta ditungguin. Sepertinya aku mau jatuh, dan merasa tenang jika ada orang didekatku.
Keadaan ini tentu saja merepotkan anak dan suami, ditambah lagi keberadaan si kecil yang masih sangat membutuhkan aku.
Suatu hari, aku mengalami kram otot dan gemetaran kembali, buru buru aku lari ke RS langgananku. Kedatanganku kali ini ke dr Saiful di sambut mimik yang kurang kusuka, bosan kali pak dokternya melihatku datang dan datang lagi tanpa bisa ditemukan penyebab kaliumku ngedrop.
Dengan muka serius beliau menyodorkan nama seorang dokter. dr Parlin, dia ada di RS Siloam Karawachi.
Tak begitu jauh sih dari rumah, setengah sampai sejam perjalanan. Menurutnya dr Parlin ini adalah dokter spesialis untuk kasus elektrolit tubuh.
Karena agak jauh, aku memutuskan mencari dokter yang sebidang dengan dr Parlin, aku mencari dokter spesialis endokrin di RS Eka Hospital, lumayan deket dari rumah, bisa terjangkau dengan ojek dan angkot, Perhitunganku adalah, jika sewaktu waktu aku kambuh, maka dengan mudah aku menjangkaunya.
Ternyata dokter yang kucari sudah pindah ke RS Bethsaida Serpong, agak jauhan sedikit,tapi lebih dekat daripada aku ke Karawachi
.
Aku bertemu dengan Dr Rohsismandoko, ternyata dia ada di Diabetes Centre, agak ragu sih, tapi ya sudahlah, dia kan juga specialis penyakit dalam, pikirku.
Aku menjalani beberapa test darah, USG dan CT Scan abdomen, hasilnya, tiroidku bermasalah, dan harus di biopsi untuk memastikan kebenarannya. Selain itu aku juga test hormon, lumayan mahal test ini, sekitar 2 jutaan, hasilnya pun menunggu sebulan. Darah yang diambil juga lumayan banyak, 5 tabung!, huiks. . serem ya. .
Lebih seram lagi ketika akhirnya hasil test keluar, aku harus menjalani operasi untuk mengangkat tyroidku yang mengandung sel ganas. Waduh!
Tarik ulur mulai kujalani, beruntung dr Rohsis begitu memahamiku, faktor umur si kecil, waktu mendekati lebaran dan kesiapanku menjalani operasi itu yang coba kutawar kembali.
Sebulan, dua bulan kulewati dengan aman , Eutyrok 50 mg berikut vitamin saraf tepi tak boleh terlewatkan, juga KSR 1 tablet perhari.
Beberapa kali aku mengalami kram otot dan kesemutan, dokter menyarankan aku mengkonsumsi minuman elektrolit jika mendesak.
Aku berjanji, sepulang lebaran aku menjalani operasi pengangkatan kelenjar tyroid. Beliau hanya tersenyum.
Dokter terbaik yang pernah kutemui.
Tingkat kekambuhanku kian hari meningkat,hingga aku kembali panik dan lari ke dr Saiful kembali, dokter terdekat dan paling mengerti kondisiku. Sapaannya benar sinis kali ini, "Ibu kok kembali lagi ke saya? tidak ada kemajuan jika Ibu berobat ke saya",
Kecerobohanku mengabaikan sarannya membuatnya jengkel kepadaku, "Maaf Dok"
Diantar suami aku mendatangi RS Siloam Karawachi, bertemu Prof. Dr.dr Parlindungan Siregar SpPD. KGH.
Lembar - lembar test awal RS lain ditolak semua, aku wajib menjalani serangkaian test laboratorium di RS itu, MRI abdomen, Rontgen, test darah dll.
Hasilnya, ditemukan tumor jinak di ginjal kiriku dan kelenjar adrenal kiri.
Dokter menyebutkan, tumor adrenal kiri itulah yang menyebabkan kaliumku selalu drop, harus diangkat, jika aku ingin sembuh..
Ada satu test darah yang membuatku merinding sampai sekarang, test untuk hormon, pengambilan darahnya di urat nadi. rasanya seperti ditusuk jarum suntik biasa sih, namun setelah jarum dicabut uratnya menggelembung besar, rasanya seperti ditiup. Sakitnya juga terasa beda dan sesudahnya, area sekitar suntikan sedikit membengkak dan kebiruan. Kurang lebih 2 mingguan warna biru itu belum juga hilang. Baru sekali itu aku merasakan nadiku ditusuk jarum, jadi kebayang gimana ngerinya kalau orang bunuh diri dengan cara dipotong urat nadinya, he he..
Dua bulan kemudian.
Keputusan operasi belum juga kutentukan jadwalnya. Butuh kesiapan dan tentunya menunggu ada keluarga yang datang, bagaimanapun si Adek tidak boleh lagi ikut ke RS.
Biayanya juga lumayan mahal, kurang lebih membutuhkan sekitar 50 jutaan di RS itu.
Ada teman seorang dokter bedah urologi yang menyarankan aku pindah ke RSCM, disana dokternya lebih senior dan peralatannya lebih canggih, apalagi biayanya tentu bisa lebih murah lagi. Operasinya juga ada dua pilihan, bisa open langsung dan juga laparoskopi. Menurut dia, aku lebih baik di RSCM.
Hm. . lagi-lagi aku menghabiskan waktu sebulan untuk menimbang keputusan. Dr Saiful kembali ku datangi tentunya wajahnyapun dipenuhi kejengkelan melihatku membuang- buang uang dan kesempatan kembali lagi pada Beliau.
Beliau tetap menyarankan aku menjalani operasi bedah open di RS Siloam dan dengan pengawasan dr Parlin berikut menjalani semua tindakan yang disarankannya.
Aku lumayan tenang mendengar saran Beliau, bagaimanapun aku tak mau pusing dan tambah panik dengan memikirkan tindakan operasiku nanti.
Aku harus berani demi kesembuhanku sendiri, demi anakku dan suami.
Dengan mantap aku mendatangi dokter bedahku, Beliau adalah dr Boyke, Sp.U. Wajah kalem dan santunnya membuatku tenang ditangani oleh Beliau, Terus terang itu yang membuatku kuat.
Di banding dengan 2 kali operasiku sebelumnya, kali ini aku merasakan berbeda, aku lebih pasrah, tidak panik sama sekali, tensiku juga stabil. Padahal, ini yang aku khawatirkan dari awal.
Berdua saja kami di RS, sementara adik dijagain Eyangnya dan Tantenya. Inilah resikonya hidup di perantauan,
Operasi berjalan lancar selama 2 jam, Kata dokter, prosesnya sedikit rumit karena beberapa sel tumornya mulai menempel di paru-paru dan ginjal, namun secara keseluruhan proses operasi masih tergolong aman. Alhamdulillah.
Proses pemulihan berjalan normal, sekitar 5 hari. Obat-obatan perlahan dikurangi, terutama KSR, Pemasok kalium ke darahku ini semula harus kuminum 3 kali sehari. Jika terlambat sedikit saja tubuhku terasa melemah secara drastis, seperti HP kehabisan baterai, nafas terengah-engah, kram otot dan jantung berdebar kencang.
Hari ke tiga pasca operasi pemakaian KSR dan Aldactone total dihentikan. Ada lagi obat yang selalu setia menemaniku, Amlodiphine, juga mulai dihentikan. Padahal aku meminumnya sejak 5 tahunan yang lalu. Tensiku dulu berkisar 140/100 jika tanpa obat.
Alhamdulillah, 3 bulan sudah aku melewati masa pemulihan, sekarang keadaanku mulai normal, Jika dulu selalu tergantung obat, sekarang praktis tanpa obat lagi. Dulu selalu berfikir ulang jika harus berlibur panjang, apalagi jika jarak tempuhnya panjang dan lama, sekarang tak masalah lagi. Dulu setiap 2 jam sekali aku harus makan, karena badanku selalu lemas, sekarang normal 3 kali sehari.
Selamat tinggal KSR, Aldactone,Amlodiphine, Oksican, Propolis, Jus Mengkudu, Dogan ijo, jus Melon dan Pisang raja.
Eh... untuk 3 makanan terakhir harus tetap dikonsumsi, asupan kalium harus tetap ada dalam porsi seperlunya.
Jika ada Sahabat yang memerlukan informasi lebih jelas, silahkan tinggalkan pesan, aku akan dengan senang hati membantu kalian, semoga kita selalu dalm lindunganNya, Aamiin. .
Selasa, 09 Desember 2014
AKU SEMBUH DARI HIPOKALEMIA! *semoga ( bagian 1 )
Rasanya tak sabar untuk menuliskan ini buat sahabat, entah sudah brapa kali kubuka buka lembaran google demi mendapatkan solusi cepat meredakan penderitaanku.
Berhari hari, bulan dan tahun.
Seharinya tak lagi 60 menit, Uft. .lebay amat, sandangan yang melekat didiriku selama ini.
Kalian yang tahu rasanya, pasti punya julukan yang sama, lebay. .
Terhitung 6 kali sudah aku mendatangi dokter spesialis penyakit dalam,
Dokter pertama dr Budi, salah satu dokter di RS Medika, Beliau yang pertama kali menemukan kadar kaliumku rendah, dan aku sempat beberapa kali kontrol setelah sebelumnya rawat inap dalam pengawasan beliau. Hasil test darah dan rontgen, semua organ dalamku normal, hanya kadar kaliumku dibawah normal, sekitar 1,8 padahal nilai normalnya 3,5 - 4,5 .
Dokter ke 2 adalah dokter di Eka Hospital, kalau tidak salah dokter Wendy namanya. Keluhanku saat itu tidak spesifik yang biasanya kukeluhkan, hanya hipertensi yang sudah sangat biasa ku alami, Dokter hanya menyarankan aku tidak stress, tanpa tindakan apapun, padahal aku mengungkapkan kalau tensiku sudah terlalu sering naik.
Kesimpulannya, aku mengalami stress , syukurlah, akupun berharap hanya demikian, trimakasih Dok, semenjak itu aku sedikit merasa sehat kembali.
Setelah sebulan melahirkan si Adek cantik, mendadak aku hampir lumpuh, seluruh ototku sepertinya melemah, sedikit gerakan saja nyerinya luar biasa.
Seminggu aku menikmati kesakitan itu, kuabaikan gejala lainnya karena memang yang paling ku ingat penyebabnya adalah sayur daun katuk, pelancar ASI.
Air dogan, air putih berliter liter tak juga mengusir sisa cernaan sayur itu, padahal aku hanya memakannya semangkok, sepertinya bukan itu penyebabnya.
Kesimpulan yang sedikit terlambat, begitu aku menemui dokter Saiful, dokter spesialis penyakit dalam di RS Bunda Dalima,Beliau langsung menyarankan untuk rawat inap.
Selama kurang lebih lima hari aku di infus plus suply kalium sampe keadaannya normal kembali. Berangsur angsur kelumpuhanku mereda, dari yang tak bisa bangkit dari tempat tidur menjadi normal kembali, Alhamdulillah, kita segera pulang ke rumah Dek. . hiks , si Adek juga terpaksa kuboyong ke rumah sakit, menempati kamar sebelah, maklum di rantau,semua serba sendiri, apalagi kami baru pindahan rumah.
Hari hari selanjutnya doker Saiful ibarat dokter keluarga, setiap aku merasa kambuh, dialah yang selalu kutuju, kurang lebih tiap dua minggu sekali kaliumku turun kembali.
Setiap kali ada test darah, dokter selalu menggali lebih dalam gerangan penyebab turunnya kaliumku, secara global organ dalamku baik baik saja, itu berdasarkan test darah, usg dan rontgen, rumah sakit Bunda Dalima tergolong rumah sakit kecil, peralatannya masih belum sepenuhnya lengkap, pemeriksaan yang kujalani juga belum optimal.
Karena sering mondar mandir menemui Beliau, sering aku di sarankan pindah dokter, karena keterbatasan alat dan pengetahuannya mungkin,. Kadang kadang terlepas perkatanyaan, "Kok Ibu balik kesini lagi?". "He he. . mau kemana lagi saya lari Dok, dokter yang paling memahami keadaan saya", begitu alasanku..
Dokter ke 4 adalah dr Ryan, atas saran dr Saiful juga sih, alasannya karena aku pernah di rawat juga di RS Putra Dalima, tempat aku menjalani operasi caesar, mungkin bisa jadi itu keadaan yang menyertai proses persalinanku, semacam pre eclamsia, namun karena keterbatasan alat juga, dr Ryan menyarankam aku ke RS Medika, tempat dia praktek sehari hari.
Kembali dr Ryan juga mencurigai organ ginjalku, mengingat kedekatan fungsi kalium dan ginjal. Namun karena alasan tertentu aku tidak melanjutkan konsultasiku dengan Beliau.
Sebelum aku hamil sebenarnya aku sempat sembuh, hingga akhirnya aku positif hamil. Saat itu aku menemui dr psikolog, agak aneh memang, namun buat sahabat yang mengalami keadaan seperti diriku tentu sangat memahami, mengapa sampai aku lari ke psikiater.
Nyatanya aku merasa baik dan sehat setelah bertemu rutin dengan beliau, dr Win SpKJ yang ada di dekat tempat tinggalku.
Kontrol sebulan sekali dengan pemberian obat penenang. Setiap kali kontrol waktu yang kuhabiskan antara satu sampai dua jam, kami hanya mengobrol menanyakan beberapa hal yang mengganjal di otakku, tentang semuanya.
Beliau baik dan mengerti keadaanku, sayangnya dia bukan ahli yang bisa menemukan penyebab mengapa kaliumku selalu turun terus menerus.
Beberapa bulan kemudian keadaanku mulai membaik, dalam artian tremor dan rasa gelisahku mulai berkurang, sampai akhirnya tanpa kami duga aku hamil dan bisa melahirkan si Adek.
Aku mulai merasakan gejala kembali saat aku hamil sekitar 5 bulan, Sempat lumpuh, namun beberapa hari kemudian membaik.
Muncul kelumpuhan kemudian, setelah melahirkan. Saat itu Adek berusia sebulan.
Setiap kali aku brosing inernet tentang cara mengatasi hipokalemia, ada banyak tips yang sudah kuterapkan, ada yang menyarankan makan pisang setiap selesai makan, ada juga jus melon setiap selesai makan, kedua saran ini tergolong mudah,
Aku yang awalnya jijik makan pisang, akhirnya makan juga, asalkan pisangnya jangan terlalu matang.
Jus melon juga dengan senang hati kuminum, tak kurang sebotol besar aqua setiap harinya.
Hampir tiap hari aku membeli melon dan buah pisang.
Saran lain adalah meminum air dogan ijo tiga kali sehari, dua butir tiap sekali minum.
Bisa dibayangkan penuhnya perutku, lama lama neg juga rasanya.
Kurang lebih dua bulan aku rajin meminum dogan ijo itu, tetap saja kaliumku tak juga normal, kembali bolak balik ke RS langgananku.
Saran berikutnya adalah meminum ppropolis lima belas sampai dua puluh tetes, tiga kali sehari, sebotol propolis itu hanya cukup dua hari saja, beruntung aku adalah member, sehinggaa sedikit menekan biaya yang besar. selama kurang lebih 4 bulanan.
Hasilnya, tetap saja aku masih gemetaran, denyut nadi yang cepat dan tiba tiba merasa seperti mau pingsan.
Madu, habbatussauda, sari kurma juga adalah konsumsiku setiap hari.
bersambung. .
Berhari hari, bulan dan tahun.
Seharinya tak lagi 60 menit, Uft. .lebay amat, sandangan yang melekat didiriku selama ini.
Kalian yang tahu rasanya, pasti punya julukan yang sama, lebay. .
Terhitung 6 kali sudah aku mendatangi dokter spesialis penyakit dalam,
Dokter pertama dr Budi, salah satu dokter di RS Medika, Beliau yang pertama kali menemukan kadar kaliumku rendah, dan aku sempat beberapa kali kontrol setelah sebelumnya rawat inap dalam pengawasan beliau. Hasil test darah dan rontgen, semua organ dalamku normal, hanya kadar kaliumku dibawah normal, sekitar 1,8 padahal nilai normalnya 3,5 - 4,5 .
Dokter ke 2 adalah dokter di Eka Hospital, kalau tidak salah dokter Wendy namanya. Keluhanku saat itu tidak spesifik yang biasanya kukeluhkan, hanya hipertensi yang sudah sangat biasa ku alami, Dokter hanya menyarankan aku tidak stress, tanpa tindakan apapun, padahal aku mengungkapkan kalau tensiku sudah terlalu sering naik.
Kesimpulannya, aku mengalami stress , syukurlah, akupun berharap hanya demikian, trimakasih Dok, semenjak itu aku sedikit merasa sehat kembali.
Setelah sebulan melahirkan si Adek cantik, mendadak aku hampir lumpuh, seluruh ototku sepertinya melemah, sedikit gerakan saja nyerinya luar biasa.
Seminggu aku menikmati kesakitan itu, kuabaikan gejala lainnya karena memang yang paling ku ingat penyebabnya adalah sayur daun katuk, pelancar ASI.
Air dogan, air putih berliter liter tak juga mengusir sisa cernaan sayur itu, padahal aku hanya memakannya semangkok, sepertinya bukan itu penyebabnya.
Kesimpulan yang sedikit terlambat, begitu aku menemui dokter Saiful, dokter spesialis penyakit dalam di RS Bunda Dalima,Beliau langsung menyarankan untuk rawat inap.
Selama kurang lebih lima hari aku di infus plus suply kalium sampe keadaannya normal kembali. Berangsur angsur kelumpuhanku mereda, dari yang tak bisa bangkit dari tempat tidur menjadi normal kembali, Alhamdulillah, kita segera pulang ke rumah Dek. . hiks , si Adek juga terpaksa kuboyong ke rumah sakit, menempati kamar sebelah, maklum di rantau,semua serba sendiri, apalagi kami baru pindahan rumah.
Hari hari selanjutnya doker Saiful ibarat dokter keluarga, setiap aku merasa kambuh, dialah yang selalu kutuju, kurang lebih tiap dua minggu sekali kaliumku turun kembali.
Setiap kali ada test darah, dokter selalu menggali lebih dalam gerangan penyebab turunnya kaliumku, secara global organ dalamku baik baik saja, itu berdasarkan test darah, usg dan rontgen, rumah sakit Bunda Dalima tergolong rumah sakit kecil, peralatannya masih belum sepenuhnya lengkap, pemeriksaan yang kujalani juga belum optimal.
Karena sering mondar mandir menemui Beliau, sering aku di sarankan pindah dokter, karena keterbatasan alat dan pengetahuannya mungkin,. Kadang kadang terlepas perkatanyaan, "Kok Ibu balik kesini lagi?". "He he. . mau kemana lagi saya lari Dok, dokter yang paling memahami keadaan saya", begitu alasanku..
Dokter ke 4 adalah dr Ryan, atas saran dr Saiful juga sih, alasannya karena aku pernah di rawat juga di RS Putra Dalima, tempat aku menjalani operasi caesar, mungkin bisa jadi itu keadaan yang menyertai proses persalinanku, semacam pre eclamsia, namun karena keterbatasan alat juga, dr Ryan menyarankam aku ke RS Medika, tempat dia praktek sehari hari.
Kembali dr Ryan juga mencurigai organ ginjalku, mengingat kedekatan fungsi kalium dan ginjal. Namun karena alasan tertentu aku tidak melanjutkan konsultasiku dengan Beliau.
Sebelum aku hamil sebenarnya aku sempat sembuh, hingga akhirnya aku positif hamil. Saat itu aku menemui dr psikolog, agak aneh memang, namun buat sahabat yang mengalami keadaan seperti diriku tentu sangat memahami, mengapa sampai aku lari ke psikiater.
Nyatanya aku merasa baik dan sehat setelah bertemu rutin dengan beliau, dr Win SpKJ yang ada di dekat tempat tinggalku.
Kontrol sebulan sekali dengan pemberian obat penenang. Setiap kali kontrol waktu yang kuhabiskan antara satu sampai dua jam, kami hanya mengobrol menanyakan beberapa hal yang mengganjal di otakku, tentang semuanya.
Beliau baik dan mengerti keadaanku, sayangnya dia bukan ahli yang bisa menemukan penyebab mengapa kaliumku selalu turun terus menerus.
Beberapa bulan kemudian keadaanku mulai membaik, dalam artian tremor dan rasa gelisahku mulai berkurang, sampai akhirnya tanpa kami duga aku hamil dan bisa melahirkan si Adek.
Aku mulai merasakan gejala kembali saat aku hamil sekitar 5 bulan, Sempat lumpuh, namun beberapa hari kemudian membaik.
Muncul kelumpuhan kemudian, setelah melahirkan. Saat itu Adek berusia sebulan.
Setiap kali aku brosing inernet tentang cara mengatasi hipokalemia, ada banyak tips yang sudah kuterapkan, ada yang menyarankan makan pisang setiap selesai makan, ada juga jus melon setiap selesai makan, kedua saran ini tergolong mudah,
Aku yang awalnya jijik makan pisang, akhirnya makan juga, asalkan pisangnya jangan terlalu matang.
Jus melon juga dengan senang hati kuminum, tak kurang sebotol besar aqua setiap harinya.
Hampir tiap hari aku membeli melon dan buah pisang.
Saran lain adalah meminum air dogan ijo tiga kali sehari, dua butir tiap sekali minum.
Bisa dibayangkan penuhnya perutku, lama lama neg juga rasanya.
Kurang lebih dua bulan aku rajin meminum dogan ijo itu, tetap saja kaliumku tak juga normal, kembali bolak balik ke RS langgananku.
Saran berikutnya adalah meminum ppropolis lima belas sampai dua puluh tetes, tiga kali sehari, sebotol propolis itu hanya cukup dua hari saja, beruntung aku adalah member, sehinggaa sedikit menekan biaya yang besar. selama kurang lebih 4 bulanan.
Hasilnya, tetap saja aku masih gemetaran, denyut nadi yang cepat dan tiba tiba merasa seperti mau pingsan.
Madu, habbatussauda, sari kurma juga adalah konsumsiku setiap hari.
bersambung. .
Selasa, 11 November 2014
GAK BOLEH NYERAH
Mungkin karena adrenalinku sedang terpacu ketakutan , maka air mata ini tak kuasa lagi kubendung
Ataukah memang sudah jadwalnya pacu memacu itu mendera hanya karena sedikit rasa kecewa yang semestinya bisa kuabaikan, keciil. .
Sore ini, petir menambah seram suasana
Alloh. . kuatkan . .
Seminar, konsultasi kanan kiri memundurkan tanggal tanggal dimana seharusnya biang takutku ku buang jauuuuh
Tapi. .
Bukankah Alloh yang mengatur semuanya?
Tak apalah, air mata ini nyatanya juga berhasil memudarkan kekacauan
Yang sejak tadi memutar mutar otakku untuk bisa lari dari tempatku berdiri
Mau lari kemanakah ?.
Dia masih setia menempel dalam rongga tubuhku
Kini. . usai kulepaskan penat
kembali ku terhuyung memohon ampunMu
Sore2 ber dua doank, ditengah hujan petir
Ataukah memang sudah jadwalnya pacu memacu itu mendera hanya karena sedikit rasa kecewa yang semestinya bisa kuabaikan, keciil. .
Sore ini, petir menambah seram suasana
Alloh. . kuatkan . .
Seminar, konsultasi kanan kiri memundurkan tanggal tanggal dimana seharusnya biang takutku ku buang jauuuuh
Tapi. .
Bukankah Alloh yang mengatur semuanya?
Tak apalah, air mata ini nyatanya juga berhasil memudarkan kekacauan
Yang sejak tadi memutar mutar otakku untuk bisa lari dari tempatku berdiri
Mau lari kemanakah ?.
Dia masih setia menempel dalam rongga tubuhku
Kini. . usai kulepaskan penat
kembali ku terhuyung memohon ampunMu
Sore2 ber dua doank, ditengah hujan petir
Langganan:
Postingan (Atom)