Tampilkan postingan dengan label Hipokalemia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hipokalemia. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 April 2025

AKU NYAMAN BERHAJI 02 ( PASIEN HIPOKALEMIA / SYNDROM CON )

 Aku lanjut keseruanku berbagi kisah selama persiapan dan saat hajian ya

Untuk persiapan obat - obatan, aku paling siyap dibandingkan persiapan baju dan lainnya. Dari setiap keluhan yang pernah aku alami, aku menyiapkan setidaknya 3 hari pemakaian obat. Udah sekantong gede sendiri. Obat aku bagi 3, di dalam koper besar, koper sedang dan tas tenteng untuk kabin pesawat. Nggak ada yang sia - sia kok, karena nantinya disana bakalan kepakai kalau nggak buat kita, ya dihibahkan ke temen yang kebetulan tidak membawa obat lengkap. Jujur yang paling kepake setelah obat penting pribadi ( hipertensi, vitamin, penunda haid - ini adalah obat pentingku) adalah tolak angin dan obat flu juga batuk. Sama sekali idak berfikir membawa penenang lagi.

Kejadian heboh saat di Mekkah adalah setelah armustna. 75 persen jamaah tumbang. Lorong - lorong kamar penuh dengan kasur jamaah yang mengungsi karena kamar berisik dengan pasien batuk flu. begitupun sebaliknya, jamaah yang sakit justru berada di luar kamar karena memudahkan perawat mengontrol kesehatan mereka. 

Akupun, tumbang sehari setelah prosesi haji. Untung semua sudah selesai termasuk thowaf ifadhah. Aku dan suami pulang dari Mina di pagi hari, setelah istirahat sejenak, siangnya kami langsung melaksanakannya. Alhamdulillah, malamnya tenggorokan mulai kering dan badan meriang. Sekitar 2 harian aku tidak kemana- mana selain tidur dan tidur. Obat - obatan sampai sulit diperoleh di hotel juga posko kloter yang terdekat. Akhirnya aku mendapatkan obat di salah satu apotik di sekitar masjidil haram dengan harga yang cukup mahal. Ampuh? ternyata nggak. Batuk awet sampai pulang ke Indonesia. Nggak masalah, yang penting panas hilang dan badan sehat, kuat  untuk melanjutkan ibadah.

Waktu yang tinggal tersisa sedikit aku manfaatkan sebaik-baiknya. Alhamdulillah masih sempat beberapa kali thowaf sunnah dan berkeliling melihat lihat masjid baru. Satu hal yang tertinggal adalah, aku belum menginjakkan kaki di rooftop. Bukannya tak berusaha, qodarullah kok ya saat mencari jalan  ke atas selalu tidak kebagian lift dan satu-satunya jalan adalah tangga  dan tangga. Hanya sampai ke lantai dua aku sudah lelah, Tangganya tinggi sekali dan sempit. Akhirnya kuputuskan tidak ingin melihat rooftop lagi. Next perjalanan  umroh lagi, aku harus sampai ke atas, in sya Allah. Amiin.

Suhu yang panas sejak di Madinah menjadi catatan penting buat penderita hipo, karena panasnya itu terkadang membuat sesak didada, aku menyiasatinya dengan selalu memakai masker yang kusemprot dengan air zam - zam setiap saat. Penting sekali menjaga pikiran kita tenang walaupun ada badai angin panas. Jangan panik dan sebisa mungkin menghindari keluar hotel saat panas menyengat.  Menurutku, suhu terasa lebih menyengat di Madinah dibandingkan di Makkah. Beruntung jarak hotel ke masjid Nabawi jauh lebih pendek dibanding di Mekkah, hanya sekitar 400 m - 800 m saja. Sedangkan di Mekkah jarak hotel ke masjidil haram bervareasi, sekitar 3 km - 8 km jauhnya. Hanya saja bus transportasi 24 jam ada, melayani mobilitas jama'ah dari hotel ke masjid, begitupun sebaliknya. Oiya, jarak terminal bis ke plataran masjid juga jauh lho, sekitar 1 km an.

Hotelku berjarak 2,5 km dari masjidil haram, jadi aku dan suami memilih jalan kaki setiap hari ke masjid. Jika subuh kami berangkat sekitar jam 02.30 agar sempat tahajud di sana. Biasanya usai syuruk kami melipir sebentar untuk thowaf sunnah. Kami menyempatkan dulu sarapan dengan bekal seadanya, pisang sisa menu makan malam, roti atau susu. Ketersediaan tenaga wajib diperhitungkan karena di plataran ka'bah selalu penuh setiap saat. Rata - rata selesai thowaf itu sekitar jam 8 atau 9 pagi. Kami jalan kaki kembali ke hotel. Sepanjang jalan biasanya banyak kami temui orang bersedekah sarapan pagi, entah itu nasi lengkap, roti dan kopi atau sekedar kurma dan buah- buahan segar.

Ada area dekat hotel itu tanah lapang yang diisi beberapa kursi dan meja, mirip kafe kopi terbuka. Disana biasanya ada sedekah roti dan kopi. Hanya sekali aku berhasil mendapatkan jatah menu itu, karena kami sering kesiangan dan acara bagi sedekah sudah bubar.Masya Allah, keren sekali orang Arab berlomba sedekah dengan sebaik - baiknya sedekah.


Minggu, 19 Mei 2024

HIPOKALEMIA BISA NAIK HAJI ( AKU NYAMAN BERHAJI 01 )

Ini sekelumit kisahku menjalani hajian 2023, kemarin. 

Ceritaku adalah tentang bagaimana seorang mantan penderita hipokalemia menjalani prosesi ini. Hanya sebagai mantan, bisa kebayang, jika yang mengalami adalah masih berstatus penderita.


Saat ini, beberapa kloter haji 2025  sudah diberangkatkan menuju  Madinah dan Mekkah. Setahun yang lalu, saat ini adalah  hari terpanikku.

Aku flashback beberapa cerita lucu dan anehku. Hiks, membongkar aib sendiri. Tak mengapa, biar kalian tahu, aku pernah mengalami hal ini.

Sebenernya, shock sudah terjadi saat panggilan pertama, di tahun 2020 silam. Saat namaku maju dari yang awalnya pemberangkatan 2021, menjadi keberangkatan di 2020.

Aku sempat selama 3 bulanan konsultasi ke salah satu dokter spesialis jiwa, yang kebetulan adalah penderita hipokalemia juga, ha ha ha...

Salah curhat kali ya, jadinya kesimpulan yang aku dapat, aku harus konsumsi penenang sebelum atau selama di sana. Kalian tahu kenapa? membayangkan naik pesawat dan berada didalamnya, aku sudah lemas. Kebayang kan, kalau tiba-tiba aku minta turun pesawat dan batal hajian hanya karena aku nggak berani naik pesawat. Dan teman hipo yang dokter itu, sepemikiran.

Kengerian berikutnya adalah saat membayangkan thowaf di plataran masjid yang berisi jutaan orang, apalagi nanti di terowongan Mina. 

Aku memenangkan diri dengan berbagai cara, sampai kemudian ternyata, kesibukan mengurus dokumen ditengah pandemi melupakan masalah aneh  sederhanaku tadi. Aku harus mengurus dokumen mutasi dari Jawa Timur ke Banten di tengan badai pandemi. 

Takutku hilang, kalah dengan keinginan kuatku untuk sampai ke sana. Aku memilih pasrah, toh seandainya aku mati bukan lagi karena dikejar si hipokalemi, namun aku mati di tengah persiapan  ibadah. 

Alhamdulillah, dokumen selesai dengan pertolongan Allah menjadi sangat mudah. Semua bisa diselesaikan secara online, via WA dan email.

Namun, Qodarullah, perjalanan dibatalkan, karena sebab pandemi.

Berikut panggilan haji yang tahun 2022, aku belum dapat rejeki berangkat kala itu karena bukan masuk jama'ah urutan 50% lolos kuota yang berangkat.

Rejeki buat aku, karena di tahun itu jama'ah harus benar benar fit tenaganya, keharusan berjarak dalam setiap kegiatan  membutuhkan tenaga ekstra dibanding jika berjubel dengan banyak manusia.Kita masih bisa istirahat mengatur nafas dan tidak dikejar waktu.

Sampai akhirnya di tahun 2023, kepastian itu mulai ada. Kok mulai ada? yup, karena sistem yang masih semrawut kala itu, peralihan peraturan juga peralihan sitem ofline menjadi online membuat berkas yang di tahun kemarin final harus di update kembali sesuai peraturan yang baru, artinya, mulai dari nol lagi pengurusan semua berkas, baik itu mutasi maupun dokumen lainnya. 

Kendala bukan di pandeminya, namun saat itu justru masalah ada di financialku. Usai pandemi, semua  tabungan habis, belum lagi harus meninggalkan anakku yang masih SD. Diperantauan pula, jadi mikirin mereka sendiri di rumah lumayan menambah beban pikiran.

Justru mungkin beginilah cara Allah menghilangkan kepanikanku. Keyakinan bahwa aku adalah tamu Allah yang gak bakalan Allah sia - siakan, gak bakalan Allah persulit, membuat langkah kami masya Allah, mulus sampai akhirnya semua berkas selesai dan uang saku tiba- tiba saja tersedia di rekeningku. Entah, susah dijabarkan dengan logika, semua ada, semua selesai tepat pada waktunya.

Disela perjuanganku mendapatkan bekal, aku juga menyiapkan mentalku seandainya aku nanti beneran ada di sana. Untuk nyiapin naik pesawat, aku membekali diri dengan sekotak antimo,  Aku sudah berpesan ke suamiku, kalau ada tanda kepanikan, aku harus ditidurkan, ha ha ..lumayanlah, bukan lagi penenang andalanku.

Masya Allah, aku sudah ditenangkan Allah sedari awal. Gimana nggak tenang dan kudu terlihat sehat? lha ternyata yang berangkat itu banyakan para lansia, yang bawa badan sendiri aja susah, belum lagi yang wajah - wajah polos sebagian besar mereka. Duh, kurang apa aku sih? Aku masih jauh lebih sehat, lebih terlihat baik - baik saja dibanding mereka. Pantas saja, petugas kesehatan yang rajin kucurhati terlihat jengkel melihat ulahku.

Mulai dari berangkat, alhamdulillah aku terlupakan dengan semua ketakutanku. Di pesawat bahkan aku sibuk merekam pergerakan awan yang berarak cantik mengikuti kami. Antimo sekotak aman utuh sampai pulang kembali ke tanah air.

Ketika membayangkan prosesi thowaf di plataran masjidil harom, aku mengambil janji ke suamiku bahwa nanti harus thowaf  minimal di lantai dua atau lebih baik lagi di lantai atas, rooftop karena akan banyak oksigen pastinya daripada berjubel dengan jutaan orang di area lantai bawah. Alhamdulillah, baru keliling dua putaran, aku sudah menyerah kalah, merajuk turun ke plataran saja karena jaraknya jauh lebih pendek daripada di lantai atas.

Di sana pun Allah menenteramkanku, aku malah dikelilingi anak kecil, ada bayi mungil juga yang sedang digendong ibunya ikut thowaf, bahkan aku didijinkan menciuminya sambil terus melafalkan talbiyah. Semua terlihat bahagia, semangat dan haru melaksanakan thawaf. Apa lagi yang ditakutkan? justru di plataran, aliran udara lembut dan harum sering menyapu keringat kami, masya Allah.

Prosesi yang tak kalah membuatku lemas ketika membayangkan adalah ketika berada di terowongan Mina. Hmmm, bahkan aku sempat berfikir, habislah aku disini... tapi yang ada difikiranku adalah, aku rela mati dalam ibadah haji ini. Namun, mengingat anakku yang masih membutuhkanku, maka aku setiap hari melihat kolam ikan. Ngapain? Biasanya, saat  panas terik, aku mencari semut yang terjebak di kolam karena angin memang lumayan banyak saat itu. Semut banyak yang terjatuh di kolam dan terlihat meronta mencari pegangan agar selamat. Aku menolong mereka satu persatu, sambil berdo'a, "Ya Allah, tolonglah aku juga jika nanti aku terjebak dalam lautan manusia."

Wk wk..

Nggak cuma sehari lhoh, berhari hari aku lakukan ini, sambil nangis, memohon ke Allah nanti dihindarkan dari mara bahaya selama di sana.


Senin, 16 Maret 2020

EMPAT KOMA SEMBILAN

Aku mulai sensitip. Sepertinya pendengaranku mulai waspada terhadap suara detak jantungku, uft..
Keisengan yang tak kuduga akibatnya ini membuatku nyaris tak bisa memejamkan mata.
Apa yang sudah kuminum?, kumakan? sehingga membuat kaliumku yang biasanya kuwaspadai turun tiba-tiba mencapai angka yang cukup tinggi, nyaris diambang batas normal!.

Pagi, biasanya aku minum ramuan jahe, sereh dan 2 atau 3 kuntum bunga telang, dengan sedikit gula aren tentunya biar terasa manis.
Hangat- hangat setelah sholat subuh sembari mendengarkan kajian di televisi.

Siang sedikit aku biasa melihat teras atas, memetik beberapa biji buah ciplukan.
Aku sengaja memakan sekitar 10 biji perhari, karena minggu2 kemarin terlihat kolesterolku diangka 300, lumayan tinggi, aku ingin menggerusnya dengan si ciplukan.

Menjelang sore biasanya ada 2 minuman pilhanku, antara kopi atau segelas teh rosella. Aku memilih salah satu, namun terkadang menjelang tidur aku meminum teh rosella kembali.

Dua harian aku terganggu dengan suara berdegup jantungku, entah itu hanya kepanikan atau memang benar adanya. Aku tak berani memastikan lagi dengan iseng, tetap berusaha menenangkan diri, bahwa bisa jadi aku hanya kurang minum air putih!

Tak mau kecolongan lagi, aku menggelontor tenggorokanku dengan minimal setengah gelas air putih setiap 15 menit sekali. Sepertinya iya, karena riwayat cek laboratorium sebulan kemarin hasil tes urinku smuanya normal, termasuk hasil fungsi ginjal juga bagus semua.

Bismillah, ini hanya kurang minum dan bisa jadi karena kolesterolku masih cukup tinggi.
Aku sudah rutin olah raga mengelilingi komplek tiap pagi, sebanyak 2x putaran, kurang lebih 2 km.
Semoga bisa normal kembali....

Aamiin...

Selasa, 03 Februari 2015

AKU SEMBUH DARI HIPOKALEMIA! #semoga ( bagian 2 )

Butuh waktu beberapa lama untuk memastikan,bahwa aku benar terbebas dari KSR dan Aldactone, 2 obat yang setia menemaniku melewati masa sulit di dera hipokalemia.
Setelah melewati 3 bulan ini barulah berani ku lanjut lagi ceritaku.

Sebelum lebaran tahun kemarin, beberapa kali aku kambuh, tiba-tiba lowbat, sesak nafas, jantung berdebar dan kram otot.
Naik mobil 3 sampai 4 jam sudah kram. Tukang pijit langgananku sudah pasti tiap minggu datang. Selain kram, seluruh uratku beberapa kali rasanya sakit jika disentuh.

Sendirian di rumah membuatku ketakutan, apalagi jika mendung, hujan dan petir. Kalau sedang puncaknya kambuh, ke kamar mandipun aku minta ditungguin. Sepertinya aku mau jatuh, dan merasa tenang jika ada orang didekatku.
Keadaan ini tentu saja merepotkan anak dan suami, ditambah lagi keberadaan si kecil yang masih sangat membutuhkan aku.

Suatu hari, aku mengalami kram otot dan gemetaran kembali, buru buru aku lari ke RS langgananku. Kedatanganku kali ini ke dr Saiful di sambut mimik yang kurang kusuka, bosan kali pak dokternya melihatku datang dan datang lagi tanpa bisa ditemukan penyebab kaliumku ngedrop.
Dengan muka serius beliau menyodorkan nama seorang dokter. dr Parlin, dia ada di RS Siloam Karawachi.
Tak begitu jauh sih dari rumah, setengah sampai sejam perjalanan. Menurutnya dr Parlin ini adalah dokter spesialis untuk kasus elektrolit tubuh.

Karena agak jauh, aku memutuskan mencari dokter yang sebidang dengan dr Parlin, aku mencari dokter spesialis endokrin di RS Eka Hospital, lumayan deket dari rumah, bisa terjangkau dengan ojek dan angkot, Perhitunganku adalah, jika sewaktu waktu aku kambuh, maka dengan mudah aku menjangkaunya.
Ternyata dokter yang kucari sudah pindah ke RS Bethsaida Serpong, agak jauhan sedikit,tapi lebih dekat daripada aku ke Karawachi
.
Aku bertemu dengan Dr Rohsismandoko, ternyata dia ada di Diabetes Centre, agak ragu sih, tapi ya sudahlah, dia kan juga specialis penyakit dalam, pikirku.
Aku menjalani beberapa test darah, USG dan CT Scan abdomen, hasilnya, tiroidku bermasalah, dan harus di biopsi untuk memastikan kebenarannya. Selain itu aku juga test hormon, lumayan mahal test ini, sekitar 2 jutaan, hasilnya pun menunggu sebulan. Darah yang diambil juga lumayan banyak, 5 tabung!, huiks. . serem ya. .
Lebih seram lagi ketika akhirnya hasil test keluar, aku harus menjalani operasi untuk mengangkat tyroidku yang mengandung sel ganas. Waduh!

Tarik ulur mulai kujalani, beruntung dr Rohsis begitu memahamiku, faktor  umur si kecil, waktu mendekati lebaran dan kesiapanku menjalani operasi itu yang coba kutawar kembali.

Sebulan, dua bulan kulewati dengan aman , Eutyrok 50 mg berikut vitamin saraf tepi tak boleh terlewatkan, juga KSR 1 tablet perhari.
Beberapa kali aku mengalami kram otot  dan kesemutan, dokter menyarankan aku mengkonsumsi minuman elektrolit jika mendesak.
Aku berjanji, sepulang lebaran aku menjalani operasi pengangkatan kelenjar tyroid. Beliau hanya tersenyum.
Dokter terbaik yang pernah kutemui.

Tingkat kekambuhanku kian hari meningkat,hingga aku kembali panik dan lari ke dr Saiful kembali, dokter terdekat dan paling mengerti kondisiku. Sapaannya benar sinis kali ini, "Ibu kok kembali lagi ke saya? tidak ada kemajuan jika Ibu berobat ke saya",
Kecerobohanku mengabaikan sarannya membuatnya jengkel kepadaku, "Maaf Dok"

Diantar suami aku mendatangi RS Siloam Karawachi, bertemu Prof. Dr.dr Parlindungan Siregar SpPD. KGH.
Lembar - lembar test awal RS lain  ditolak semua, aku wajib menjalani serangkaian test laboratorium di RS itu, MRI abdomen, Rontgen, test darah dll.
Hasilnya, ditemukan tumor jinak di ginjal kiriku dan kelenjar adrenal kiri.
Dokter menyebutkan, tumor adrenal kiri itulah yang menyebabkan kaliumku selalu drop, harus diangkat, jika aku ingin sembuh..

Ada satu test darah yang membuatku merinding sampai sekarang, test untuk hormon, pengambilan darahnya di urat nadi. rasanya seperti ditusuk jarum suntik biasa sih, namun setelah jarum dicabut uratnya menggelembung besar, rasanya seperti ditiup. Sakitnya juga terasa beda dan sesudahnya, area sekitar suntikan sedikit membengkak dan kebiruan. Kurang lebih 2 mingguan warna biru itu belum juga hilang. Baru sekali itu aku merasakan nadiku ditusuk jarum, jadi kebayang gimana ngerinya kalau orang bunuh diri dengan cara dipotong urat nadinya, he he..

Dua bulan kemudian.
Keputusan operasi belum juga kutentukan jadwalnya. Butuh kesiapan dan tentunya menunggu ada keluarga yang datang, bagaimanapun si Adek tidak boleh lagi ikut ke RS.
Biayanya juga lumayan mahal, kurang lebih membutuhkan sekitar 50 jutaan di RS itu.

Ada teman seorang dokter bedah urologi yang menyarankan aku pindah ke RSCM, disana dokternya lebih senior dan peralatannya lebih canggih, apalagi biayanya tentu bisa lebih murah lagi. Operasinya juga ada dua pilihan, bisa open langsung dan juga  laparoskopi. Menurut dia, aku lebih baik di RSCM.

Hm. . lagi-lagi aku menghabiskan waktu sebulan untuk menimbang keputusan. Dr Saiful kembali ku datangi tentunya wajahnyapun dipenuhi kejengkelan melihatku membuang- buang uang dan kesempatan kembali lagi pada Beliau.
Beliau tetap menyarankan aku menjalani operasi bedah open di RS Siloam dan dengan pengawasan dr Parlin berikut menjalani  semua tindakan yang disarankannya.
Aku lumayan tenang mendengar saran Beliau, bagaimanapun aku tak mau pusing dan tambah panik dengan memikirkan tindakan operasiku nanti.
Aku harus berani demi kesembuhanku sendiri, demi anakku dan suami.

Dengan mantap aku mendatangi dokter bedahku, Beliau adalah dr Boyke, Sp.U. Wajah kalem dan santunnya membuatku tenang ditangani oleh Beliau, Terus terang itu yang membuatku kuat.
Di banding dengan 2 kali operasiku sebelumnya, kali ini aku merasakan berbeda, aku lebih pasrah, tidak panik sama sekali, tensiku juga stabil. Padahal, ini yang aku khawatirkan dari awal.

Berdua saja kami di RS, sementara adik dijagain Eyangnya dan Tantenya. Inilah resikonya hidup di perantauan,

Operasi berjalan lancar selama 2 jam, Kata dokter, prosesnya sedikit rumit karena beberapa sel tumornya mulai menempel di paru-paru dan ginjal, namun secara keseluruhan proses operasi masih tergolong aman. Alhamdulillah.

Proses pemulihan berjalan normal, sekitar 5 hari. Obat-obatan perlahan dikurangi, terutama KSR, Pemasok kalium ke darahku ini semula harus kuminum 3 kali sehari. Jika terlambat sedikit saja tubuhku terasa melemah secara drastis, seperti HP  kehabisan baterai, nafas terengah-engah, kram otot dan jantung berdebar kencang.

Hari ke tiga pasca operasi pemakaian KSR dan Aldactone total dihentikan. Ada lagi obat yang selalu setia menemaniku, Amlodiphine, juga mulai dihentikan. Padahal aku meminumnya sejak 5 tahunan yang lalu. Tensiku dulu berkisar 140/100 jika tanpa obat.

Alhamdulillah, 3 bulan sudah aku melewati masa pemulihan, sekarang keadaanku mulai normal, Jika dulu selalu tergantung obat, sekarang praktis tanpa obat lagi. Dulu selalu berfikir ulang jika harus berlibur panjang, apalagi jika jarak tempuhnya panjang dan lama, sekarang tak masalah lagi. Dulu setiap 2 jam sekali aku harus makan, karena badanku selalu lemas, sekarang normal 3 kali sehari.
Selamat tinggal KSR, Aldactone,Amlodiphine, Oksican, Propolis, Jus Mengkudu, Dogan ijo, jus Melon dan Pisang raja.
Eh... untuk 3 makanan terakhir harus tetap dikonsumsi, asupan kalium harus tetap ada dalam porsi seperlunya.

Jika ada Sahabat yang memerlukan informasi lebih jelas, silahkan tinggalkan pesan, aku akan dengan senang hati membantu kalian, semoga kita selalu dalm lindunganNya, Aamiin. .




Selasa, 09 Desember 2014

AKU SEMBUH DARI HIPOKALEMIA! *semoga ( bagian 1 )

Rasanya tak sabar untuk menuliskan ini buat sahabat,  entah sudah brapa kali kubuka buka lembaran google demi mendapatkan solusi cepat meredakan penderitaanku.
Berhari hari, bulan dan tahun.
Seharinya tak lagi 60 menit, Uft. .lebay amat, sandangan yang melekat didiriku selama ini.
Kalian yang tahu rasanya, pasti punya julukan yang sama, lebay. .

Terhitung 6 kali sudah aku mendatangi dokter spesialis penyakit dalam,
Dokter pertama dr Budi, salah satu  dokter di RS Medika, Beliau yang pertama kali menemukan kadar kaliumku rendah, dan aku sempat beberapa kali kontrol setelah sebelumnya rawat inap dalam pengawasan beliau. Hasil test darah dan rontgen, semua organ dalamku normal, hanya kadar kaliumku dibawah normal, sekitar 1,8  padahal nilai normalnya 3,5 - 4,5 .

Dokter ke 2 adalah dokter di Eka Hospital, kalau tidak salah dokter Wendy namanya. Keluhanku saat itu tidak spesifik yang biasanya kukeluhkan, hanya hipertensi yang sudah sangat biasa ku alami,  Dokter hanya menyarankan aku tidak stress, tanpa tindakan apapun, padahal aku mengungkapkan kalau tensiku sudah terlalu sering naik.
Kesimpulannya, aku mengalami stress , syukurlah, akupun berharap hanya demikian, trimakasih Dok, semenjak itu aku sedikit merasa sehat kembali.

Setelah sebulan melahirkan si Adek cantik, mendadak aku hampir lumpuh, seluruh ototku sepertinya melemah, sedikit gerakan saja nyerinya luar biasa.
Seminggu aku menikmati kesakitan itu, kuabaikan gejala lainnya karena memang yang paling ku ingat penyebabnya adalah sayur daun katuk, pelancar ASI.
Air dogan, air putih berliter liter tak juga mengusir sisa cernaan sayur itu, padahal aku hanya memakannya semangkok, sepertinya bukan itu penyebabnya.
Kesimpulan yang sedikit terlambat, begitu aku menemui dokter Saiful, dokter spesialis penyakit dalam di RS Bunda Dalima,Beliau  langsung menyarankan untuk rawat inap.

Selama kurang lebih lima hari aku di infus plus suply kalium sampe keadaannya normal kembali. Berangsur angsur kelumpuhanku mereda, dari yang tak bisa bangkit dari tempat tidur menjadi normal kembali, Alhamdulillah, kita segera pulang ke rumah Dek. .  hiks , si Adek juga terpaksa kuboyong ke rumah sakit, menempati kamar sebelah, maklum di rantau,semua serba sendiri, apalagi kami baru pindahan rumah.

Hari hari selanjutnya doker Saiful ibarat dokter keluarga, setiap aku merasa kambuh, dialah yang selalu kutuju, kurang lebih tiap dua minggu sekali kaliumku turun kembali.
Setiap kali ada test darah, dokter selalu menggali lebih dalam gerangan penyebab turunnya kaliumku, secara global organ dalamku baik baik saja, itu berdasarkan test darah, usg dan rontgen, rumah sakit Bunda Dalima tergolong rumah sakit kecil, peralatannya masih belum sepenuhnya lengkap, pemeriksaan yang kujalani juga belum optimal.
Karena sering mondar mandir menemui Beliau, sering aku di sarankan pindah dokter, karena keterbatasan alat dan pengetahuannya mungkin,. Kadang kadang terlepas perkatanyaan, "Kok Ibu balik kesini lagi?". "He he. . mau kemana lagi saya lari Dok, dokter yang paling memahami keadaan saya", begitu alasanku..

Dokter ke 4 adalah dr Ryan, atas saran dr Saiful juga sih, alasannya karena aku pernah di rawat juga di RS Putra Dalima, tempat aku menjalani operasi caesar, mungkin bisa jadi itu keadaan yang menyertai proses persalinanku, semacam pre eclamsia, namun karena keterbatasan alat juga, dr Ryan menyarankam aku ke RS Medika, tempat dia praktek sehari hari.
Kembali dr Ryan juga mencurigai organ ginjalku, mengingat kedekatan fungsi kalium dan ginjal. Namun karena alasan tertentu aku tidak melanjutkan konsultasiku dengan Beliau.

Sebelum aku hamil sebenarnya aku sempat sembuh, hingga akhirnya aku positif hamil. Saat itu aku menemui dr psikolog, agak aneh memang, namun buat sahabat yang mengalami keadaan seperti diriku tentu sangat memahami, mengapa sampai aku lari ke psikiater.
Nyatanya aku merasa baik dan sehat setelah bertemu rutin dengan beliau, dr Win SpKJ yang ada di dekat tempat tinggalku.

Kontrol sebulan sekali dengan pemberian obat penenang. Setiap kali kontrol waktu yang kuhabiskan antara satu sampai dua jam, kami hanya mengobrol menanyakan beberapa hal yang mengganjal di otakku, tentang semuanya.
Beliau baik dan mengerti keadaanku, sayangnya dia bukan ahli yang bisa menemukan penyebab mengapa kaliumku selalu turun terus menerus.
Beberapa bulan kemudian keadaanku mulai membaik, dalam artian tremor dan rasa gelisahku mulai berkurang, sampai akhirnya tanpa kami duga aku hamil dan bisa  melahirkan si Adek.

Aku mulai merasakan gejala kembali saat aku hamil sekitar 5 bulan, Sempat lumpuh, namun beberapa hari kemudian membaik.
Muncul kelumpuhan kemudian, setelah melahirkan. Saat itu Adek berusia sebulan.

Setiap kali aku brosing inernet tentang cara mengatasi hipokalemia, ada banyak tips yang sudah kuterapkan, ada yang menyarankan makan pisang setiap selesai makan, ada juga jus melon setiap selesai makan, kedua saran ini tergolong mudah,
Aku yang awalnya jijik makan pisang, akhirnya makan juga, asalkan pisangnya jangan terlalu matang.
Jus melon juga dengan senang hati kuminum, tak kurang sebotol besar aqua setiap harinya.
Hampir tiap hari aku membeli melon dan buah pisang.

Saran lain adalah meminum air dogan ijo tiga kali sehari, dua butir tiap sekali minum.
Bisa dibayangkan penuhnya perutku, lama lama neg juga rasanya.
Kurang lebih dua bulan aku rajin meminum dogan ijo itu, tetap saja kaliumku tak juga normal, kembali bolak balik ke RS langgananku.

Saran berikutnya adalah meminum ppropolis lima belas sampai dua puluh tetes, tiga kali sehari, sebotol propolis itu hanya cukup dua hari saja, beruntung aku adalah member, sehinggaa sedikit menekan biaya yang besar. selama kurang lebih 4 bulanan.
Hasilnya, tetap saja aku masih gemetaran, denyut nadi yang cepat dan tiba tiba merasa seperti mau pingsan.
Madu, habbatussauda, sari kurma juga adalah konsumsiku setiap hari.


bersambung. .