Sabtu, 07 Mei 2011

ANTARA JEDDAH ----MADINAH

Wisata Hati ------------> part 3


Jalanan dari bandara ke Madinah lumayan lengang, berbeda dengan jalanan di antar kota di Indonesia, jalannya mulus, lebar.
Volume kendaraannya tak begitu banyak, mungkin karena dini hari kali ya?...^-^, atau karena aku sendiri yang setengah sadar melihatnya?.

Kanan kiri jalan adalah gurun pasir berbatu, kalau kuingat seperti jalan baru di kampungku, jalan tol pantura yang baru dibangun menghubungkan pantai utara dengan pantai selatan yang berakhir di kota Banyuwangi. Mega proyek yang masih mangkrak sampai detik ini.
Bedanya jalan itu berbatasan dengan laut. Sedangkan di sini, hanya gurun pasir dan gunung batu.






Sesekali ada rumah-rumah bertype unik, sepi tanpa penghuni.
Kupikir mereka hanya membangunnya sebagai tempat berteduh sesekali.
Ada beberapa tempat peristirahatan, masjid dan rumah makan atau sekedar kedai minum, namun jaraknya sangat jauh satu dengan yang lainnya.

Terdengar suara Adzan subuh, bis berhenti sejenak disebuah masjid dipinggir jalan.

Ada pengalaman yang harus diingat, sepanjang jalan jika kita disodori air minum, alangkah baiknya kita jangan menolaknya, simpan saja, walaupun kita sudah kekenyangan minum, siapa tahu air sebotol itu berharga.
Benar....begitu masuk masjid, tak ada setespun air, baik untuk wudhu ataupun ke toilet!.
Terpaksa kami bertahan untuk tidak kencing, apalagi buang air besar, air minum sebotol yang belum kuminum,  kupakai untuk berwudhu.

Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan.
Matahari mulai nampak mengintip, pagi terasa segar. Warna merah tak begitu jelas tertangkap kamera, jendela kaca bis berembun, membuat hasil jepretan kameraku buram. Padahal pemandangannya indah sekali.

Disuatu tempat peristirahatan lagi bis berhenti.
Kami membeli beberapa cangkir kopi, semuanya gratis dijamin oleh travel.
Ditempat itu kulihat rombongan travel bus yang ke 2 juga sedang beristirahat disitu.

Setengah jam parkir dengan secangkir kopi dan sebungkus roti berisi coklat membuat mataku terbangun sempurna. Anakku masih sibuk melihat dikanan kiri jalan, mencari seekor unta yang belum jua ditemuinya.

Jalanan masih saja sepi, kami melintasi beberapa rumah-rumah berpenghuni, namun tetap sepi, tanpa aktifitas yang terlihat dari luar.
Terlintas pertanyaan, apakah mereka tak ada yang sekolah?, bekerja ? atau sekedar jalan-jalan pagi? apalagi mengobrol dengan tetangga?

O iya...mulai dari bandara, aku tak menemui seorang pekerja wanita, semuanya laki-laki.
Pom bensin juga lengang, hanya satu atau dua orang saja yang nampak menjaganya. Jaraknya jauh dari pemukiman dan sama sepinya.

Andaikan ditengah jalan apalagi malam, kehabisan bensin dan tak membawa alat komunikasi, pastilah lama menunggu sampai ada yang mau menolongnya.


Baru saja terpikir olehku, tiba-tiba bis menepi di pinggir sebuah bangunan yang mirip sebuah pabrik kosong.
Lokasinya sekitar daerah Abyar Al Mashir, sejam dari kota Madinah.
Rupanya bis mengalami kerusakan fatal dan tak bisa melanjutkan perjalanan. Padahal sebentar lagi waktunya sholat Jum"at.
Agendanya, sholat kami pertama di Masjid Nabawi adalah sholat Jum'at!

Supir bis menyarankan kami bersabar menunggu bis selanjutnya menolong, maklum bis cadangan itu masih berada dikota Madinah. Mau tak mau kamipun menyetujuinya.

"Pasti ada hikmahnya..." begitu yang dikatakan para Muthowif itu.
Banyak bersabar akan menambah nikmat sebuah perjalanan. ^-^

Kami mencari kegiatan menghilangkan penat setelah duduk berjam-jam dalam bis.

Anakku turun keluar bis. Tiba-tiba supir bis yang melihatnya,  menyalaminya dan mengucapkan kata

"Assalammu'alaikum...." kemudian mengusap rambutnya dan berseru

"Subhanallah...!"....berulangkali dan beberapa kata yang tak dimengertinya...
Dia hanya senyum-senyum mengiyakan..

Diluar bis, udara pagi terasa dingin menusuk tulang, padahal matahari sudah masuk waktu dhuha. Aku  kembali ke dalam bis dan mengambil jaket.
Pemandangan didepan mata hanya gurun dan gunung-gunung, sesekali kendaraan melintas.
Benar-benar sepi.

Kami menyempatkan mengambil beberapa foto disitu, pemandangan benar-benar indah.



 

Diam-diam aku jepret saat dia berdekatan dengan pak supir.


Hujan tiba-tiba turun, buliran airnya besar-besar namun tidak begitu deras, seperti gerimis kalo ditempat kita.
Hanya sekitar sepuluh menitan, setelah itu reda. Tanah sempat basah sebentar, namun perlahan kembali kering.
Aspal jalanan yang masih basah, tampak seperti diguyur hujan lebat.

Seperti perkiraan, sejam kemudian muncul bis pengganti.
Kami bekerja sama memindahkan koper ke bis yang baru.
Supir terpaksa ditinggal sendirian bersama kendaraannya.
Kami melanjutkan perjalanan dengan bis yang baru.


Pagi sudah beranjak menuju siang, panas mulai terasa, sinarnya masuk melalui jendela kaca.
Jalanan kulihat masih saja sepi, Muthowif menjelaskan situasi kota satu persatu.
Ternyata memang kehidupan kota disini berbalik 180 derajat dengan kebiasaan kita.
Jika pagi sampai sore mereka berdiam diri di rumah. Kehidupan justru dimulai di sore hari sampai menjelang tengah malam.

Suhu kota berkisar 35 derajat celcius saat ini, jadi tak begitu menyengat.

Kami disarankan berkomunikasi dengan keluarga ditanah air menggunakan nomer lokal Arab Saudi, karena jauh lebih murah.
Makanya, baru kemarin nomerku isi pulsa seratus ribu, baru beberapa kali sms dan mms sekarang sudah habis lagi.
Ternyata sekali sms tarifnya bisa sampai Rp. 6000 per sms. sedangkan memakai nomer lokal hanya sekitar Rp. 1200 per sms.
Untuk telepon juga jauh lebih murah memakai nomer lokal. Sedangkan tarif  BB yang biasanya sebulan Rp. 99.000, sekarang berlaku tarif roaming Rp. 75.000 perhari!.
Pantesan...Hp kami tak ada yang terisi pulsa!.


DI MADINAH  AL  MUNAWAROH

Alhamdulillah....sebentar lagi kami segera sampai ke hotel.
Al Anwar Moevenpick Hotel, itulah jatah menginap kami. Jatah paket Sakinah dari Tazkia Travel.
Tak sabar ingin segera kurebahkan badan, kuselonjorkan kaki dan mandi sepuasnya...

Masih ada kesempatan mengejar jadwal sholat Jum'at, hanya saja kemungkinan bis tak bisa parkir lama didepan hotel, maklum lokasi hotel kami berada dekat sekali dengan Masjidil Haram.
Lokasi itu pasti sudah tertutup untuk kendaraan.
Benar juga, bis hanya diberi kesempatan menurunkan para penumpang.
Kami bergegas menuju lobby hotel, Muthowif segera membagikan kunci kamar masing-masing.

Aku bertiga menempati kamar 10026, terdiri dari 3 bed, sedangkan Bapak/Ibu menempati kamar double bed di nomer 10045.

Sebenarnya hotel berbintang 5 itu terdiri dari 206 kamar, terletak di  Shariya Court Road, P.O. Box No. 1582, Madinah, Madinah, Arab Saudi 1582,  persis didepan Masjid Nabawi.

Dari kamar kami hanya perlu menyusuri lorong menuju lift.
-Untuk ke lobby kita tekan lt M,
-Restoran lt 1 dan
-Untuk ke masjid tekan lt 0.

Dari pintu lift kita hanya berjalan beberapa meter keluar gedung dan kita sudah berada di plataran masjid nan megah itu.

Subhanallaah.... masjid itu begitu luas dan megah...





Masjid Nabawi selalu penuh sesak saat sholat fardhu maupun sunnah.
Semua orang berusaha mendapatkan pahala 1000 kali  lipat dari biasanya.

Kota Madinah  dikenal sebagai kota kurma. Di kota inilah kurma-kurma terbaik dihasilkan. Selain itu Madinah adalah salah satu kota suci setelah Makkah. Karena sucinya kota itu, sampai-sampai Nabi menyebutkan "debu kota Madinah adalah obat".
Ada benarnya, sejak sebelum keberangkatan kami masih menderita batuk hebat, begitu juga dengan suamiku. Selama menjalankan ibadah, batuk kami lenyap seketika.

Selama di Madinah satu persatu agenda harian yang sudah terjadwal rapi kami laksanakan sebaik-baiknya, sebisa dan semaksimal mungkin kami sholat di Masjid Nabawi.
Mengejar keutamaan pahala sholat dan memang untuk itulah kami mengunjungi kota kesayangan Nabi itu.
Agenda  kami selanjutnya adalah ziarah ke makam Rosulullah, tour keliling kota Madinah ; ke masjid Quba, masjid Qiblatain, Jabal Uhud, ziarah ke Baqi dan melihat perkebunan dan pasar  kurma.

Saat ke Raudhah, ziarah makam Nabi, rombongan wanita berbeda pintu dengan pria, ada pemandu baru yang mengantar rombongan wanita.
Masya Allah....orang berebut tempat untuk bisa sholat di taman surga itu, antara rumah Nabi ( di tandai pilar bertanda hijau ) sampai mimbar Beliau.

Jama'ah yang bercampur baur berbagai negara berdesak-desakan mendapatkan shaf terdepan, alasannya lebih karena agar bisa sholat dengan khusuk disitu. Jika tidak, kita bisa diinjak-injak orang lewat. apalagi postur tubuh kami setengah postur orang-orang Arab.

Alhamdulillah aku bertiga dengan sahabatku behasil sholat dan menumpahkan tangis haru berhasil melaksanakan sholat ditempat mulia itu.
Atas nikmat Allah, kami bertiga terlindungi dari desakan ratusan orang yang berjejal di situ,
Alhamdulillah...kami berpelukan bertiga sesudahnya.

Baru teringat olehku, aku terpisah dengan Ibu mertuaku!

Astaghfirullah..... aku hanya bisa melihat sekeliling, baru juga teringat,
Beliau masih di kamar hotel, usai makan malam, aku langsung menuju tempat berkumpul rombongan wanita untuk bersama-sama ziarah, sedangkan Ibu langsung masuk kekamar diantar suamiku.
Begitu terkumpul rombongan langsung menuju masjid, saat itu Ibu masih di kamar! Aku ternyata meninggalkannya. Haduuuuh....

Temanku sempat menyalahkanku, "Kok ditinggal siiih...!"

Aku terlambat menyadarinya, apa boleh buat, aku hanya bisa mengadukan gundahku pada_Nya.
Tak disangka ternyata Ibu mertuaku sudah berada dibelakangku dengan wajah gusarnya, duuuh...maafkan menantumu....

Ternyata setelah dibujuk suamiku, beliau mau mengikuti agenda ziarah, beliau diantarkannya sampai ke tempat kami berkumpul, sayangnya rombongan keburu berangkat. untungnya masih ada panitya yang menunggu, akhirnya Beliau bisa menyusul rombongan pertama.
Setelah memberi penjelasan sedikit, beliau mengerti.
Setelah itu tak pernah lagi kulepaskan tanganku menggandengnya.

Teman-temanku yang memahami, banyak memberiku masukan setelah itu, mereka memberiku kekuatan untuk lebih bersabar dan lebih memakluminya.
Alhamdulillah, tanpa mereka aku mungkin terlilit banyak keluhan...

"Sabar...sabar...mungkin dengan ini aku akan diberi hadiah momongan lagi..." hibur mereka.

Melihat suamiku yang dengan telaten mendorong ayahnya di atas kursi roda, naik turun hotel  menuju masjid, juga sepanjang tour, membuatku tak sedikitpun memintanya memberi perhatian untukku.
Hanya sesekali dia menyempatkan mengambilkanku minuman atau sekedar koktail seusai makan, dia ingin melunasi perhatiannya terhadapku setelah seharian waktunya tercurah untuk kedua orang tuanya.
Konsekwensi yang sudah dari awal kami bicarakan.

Allah Maha Penyayang, kesabaranku dilebihkan sepanjang kami melakukan ibadah.
Allah juga Maha Bijak, Dia memberikan pengawalannya untuk anakku, memberikan kecerdasan sehingga anakku menjadi buah bibir nenek dan kakeknya, dia menunjukkan sebagai cucu yang bisa diandalkan.

Benar yang di ucapkan banyak orang Arab yang menyalaminya, Subhanallah...bukan hanya dilihat dari parasnya, aku menangkapnya sebagai 'sesuatu' kelebihan lain yang  ingin Allah tunjukkan pada kami.

Saat berkunjung ke Raudhah, rombongan laki-laki berada di pintu yang lain.
Menurut cerita suamiku, mereka leluasa memotret makam Nabi, dari luar tentunya.
Mereka juga leluasa mengintip ke dalam makam.

Ada pertanyaan dari anakku, katanya dia melihat ada liang lahat yang kosong disebelah makam Nabi Muhammad.
"Lubang apa itu Yah?? kata anakku.

Seperti diketahui , di makam itu ada 3 jenazah, Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar.
Setelah mendapat pertanyaan itu, suamiku mencoba melihatnya melalui celah yang terbuka. tak ditemuinya lubang seperti yang dilihat oleh anakku.

Beruntung, esok harinya ada pengajian di lorong hotel oleh ust pembimbing, saat itu dijelaskan bahwa memang konon ada sebuah lubang lagi yang kelak diperuntukkan untuk mengubur jenazah nabi Isa setelah mengalahkan Dajjal.
Pak Ust sendiri masih belum bisa melihatnya.
Subhanallah....wallahu a'lam...

Ada lagi kejadian subuh yang membuatku sedikit ketakutan, saat itu kami bertiga, aku, anakku dan suamiku melaksanakan tahajud, kami bangun sejam sebelum adzan subuh.
Aku terpisah sendiri bersama temanku, sedangkan ayah dan anak itu menuju shaf laki-laki.
Mereka beruntung mendapat tempat dibelakang Raudhah.

Menjelang subuh suamiku bermaksud menjemput Bapak, ditinggalkannya anaknya sendirian yang sedang terheran-heran memandangi isi masjid, katanya dia berani sendirian kok....
Begitu adzan dikumandangkan, berbndong-bondong ribuan orang mendatangi masjid, mereka berdesakan menempati shaf depan.
Tentu saja suamiku tak menemukan anakya ditempat semula, sudah tertutup oleh ribuan orang.

Aku mendapati cerita mereka setelah makan pagi, yang kutahu ayah dan anak memasuki kamar berbeda waktuya.
Kupikir mungkin suamiku mengantar ayahnya terlebih dahulu kekamarnya, ternyata mereka berpisah tempat.
Astaghfirullah.....

Anakku mendapat shaf didepan, sedangkan suamiku jauh dibelakang, di subuh itu.
Dia menceritakan menjelaskan detail letak Imam shalat, Imam ke 2 (yang bertugas sebagai penyambung suara) dan caranya sampai dia mendapatkan shaf itu.

Setelah sarapan pagi, kami bersiap tour keliling kota Madinah.
Tujuan pertama adalah Masjid Quba, masjid yang pertama didirikan nabi Muhammad, pertama kalinya juga mereka melaksanakan shlat berjama'ah di masjid itu.
Siapa yang sholat di masjid quba, pahalanya seperti pahala orang yang berumroh.

Kesempatan itu kami pergunakan untuk melakukan dhuha di masjid itu.

 
Dimasjid ini terdapat beberapa kran air zam zam , boleh dipakai minum sekaligus juga air wudhu, maklum toiletnya antri.
Disitu terdapat banyak sekali toko-toko kurma dan beragam souvenir, namun kami sudah diingatkan untuk menahan diri, nanti ada tempat dan waktunya khusus untuk belanja!
Beberapa orang tak ayal sempat juga membeli beberapa makanan, mereka membagikan pada sesama penghuni bis.

Setelah masjid Quba didepannya terdapat pancuran dan kolam tempat cincin Nabi Muhammad hilang, sampai sekarang belum ada yang menemukan.



Sebenarnya kami berniat berkunjung ke Masjid Qiblatain, namun karena memburu waktu dhuhur agenda itu terlewati. Kami langsung menuju Jabal Uhud.
Salah satu gunung yang kelak ada surga, gunung uhud tampak seperti sederetan pegunungan mati yang menyambung. Ditempat itu gugur 70 shuhada' uhud, mereka mendapat jaminan surga menemani Nabi.
Ada makam ke 70 sahabat Nabi itu, dipagari oleh teralis besi.


Kami hanya menyempatkan mengambil beberapa foto saja.

Ada yang agak ganjil saat kami di jabal uhud.

Serombongan ibu-ibu (sepertinya bukan warga Arab Saudi, tapi negara Arab yg lain) menunjuk-nunjuk anakku yang sedang berlari mengambil payung di dalam bis, padahal jaraknya lumayan jauh beberapa meter darinya.
Tiba-tiba salah seorang diantaranya menghampiri anakku dan mengucapkan kata-kata yang tidak kufahami, ada sebuah kata yang kukenal, menanyakan namanya, ku jawab "Ihsan..."

"Subhanallah...(dan seterusnya.....aku tak mengerti).

Kemudian diajaknya anakku diperkenalkan dengan seluruh rombongan ibu-ibu tadi.

"Kenapa aku terkenal Ma..??" katanya polos..

"Karena mereka tahu, Ihsan anak yang sholeh...!" jawabku yakin.

Dari Jabal Uhud kami melaju ke Pasar Kurma, tempat yang paling ditunggu untuk segera didatangi, tak sabar rasanya melahap buah padang pasir itu.
Katanya kami bisa langsung memanen dan memakan buah sekenyang-kenyangnya.
Siiiip...........^-^













Jumat, 06 Mei 2011

SAMBUTAN ISTIMEWA

Wisata Hati ------------> part 2


Pesawat landing sekitar jam 00.30 WSA , sementara selisih waktu Indonesian dengan Arab Saudi  4 jam lebih lambat dari WIB.

Jalan keluar antrian ada beberapa jalur yang  berbeda, seperti waktu pemberangkatan.
Aku terpaksa menyarankan anakku berhenti dahulu, menunggu ayahnya menurunkan barang dilocker cabin.
Kulihat dia berdiri di depan pintu disamping pramugari, menenteng kopernya. Pede abis, seperti anak sudah remaja, tak kulihat sedikitpun rasa ketakutan atau khawatir diwajahnya.

Aku menggandeng Ibu  menuju tangga turunan pesawat.
Tiba-tiba seorang laki-laki berkebangsaan Arab, menerobos antrian penumpang, tergopoh gopoh menuju anakku yang berdiri mematung. Dia kaget bukan kepalang, lelaki Arab itu menyalaminya, mengacak-acak rambutnya sembari tersenyum ramah mengucapkan selamat datang pada anakku. Sesekali keluar kata-kata Subhanallah...mengusap kepala anakku lagi...
Pramugari disamping anakku terbengong, begitu pula beberapa penumpang termasuk aku.

Dari awal pembekalan sudah terpatri anggapan bahwa 'warga arab terkenal tidak ramah terhadap tamu', padahal tamu-tamu melimpah mereka adalah pemasukan devisa yang besar bagi negaranya.
Seketika wajah anakku semringah senang, dia menjawab sehapalnya, ku dengar dia berucap "Alhamdulillah, ana bi khoir...".

Kutinggalkan dia yang kembali termangu menunggu sang ayah, aku menuruni tangga satu persatu sambil menuntun ibu.
Kembali pertolongan datang menghampiriku, salah seorang jamaah penumpang pesawat membantu membawakan salah satu koperku,rupaya dia melihat aku kerepotan menenteng koper sembari menuntun ibu.
Dia meletakkan koperku di bawah tangga pesawat.

Aku menunggu anak dan suamiku dibawah, mereka baru turun rupanya.
Bergegas aku naik tangga kembali mengambil koper bawaan anakku, kasihan dia lebih repot lagi mengangkat kopernya yag seberat koperku sendiri.

Ternyata benar, sambutan pegawai bandara mengejutkan kami yang lumayan masih mengantuk dan capek. Mereka menghardik kami untuk segera menaiki bus yang menunggu.
"Umroh!..Umroh!" teriak mereka sambil menghalau, layaknya gembala menghalau kambing-kambingnya.

Kantuk kami buyar seketika, kami tergopoh-gopoh menenteng bawaan kami masing-masing menuju bis yang sudah sesak penumpang.
Beruntung aku dan ibu masih kebagian tempat duduk. Yang lainnya berdiri sambil berpegangan pada tali-tali, persis dalam kereta-kereta di Jakarta.



Lumayan bingung, mengingat kami belum tahu, kemana bis ini menuju, sedangkan rombongan travel kami tercerai berai tidak karuan berada di bis yang sebelah mana.

Di kartu ID kami tertulis BUS 1, namun bis yang kami tumpangi tanpa nomor!.
Tak ayal lagi kami mengikuti saja arah bis melaju. Ternyata semua bis itu membawa kami ke pintu pemeriksaan keimigrasian.

Duuuh...bener-bener setengah sadar rupanya....
Bukankah biasanya memang begitu?..dari tangga pesawat disambut bis bandara dulu menuju gerbang transit atau pengambilan bagasi...he he....panik!

Bandara Jeddah sangat luas
Kami berjalan lumayan jauh menuju gerbang pemeriksaan, tak ada eskalator datar layaknya di Soeta, Benar seperti gambaran sewaktu pembekalan, fisik harus kuat selama di negara Unta itu.
Banyak jama'ah yang renta, mereka sama-sama menyeret kopernya, lelah dan kusut sama juga tergambar di wajah tuanya, duuuh...aku masih jauh lebih muda dari mereka, semangatku harusnya lebih menyala!

Antrian panjang puluhan banyaknya dipagi buta itu, mereka memegang paspor ditangan masing-masing. Jadi ingat saat Iedul Qurban, antri dengan memegang kupon pengambilan jatah daging di tangan.^-^
Dipesankan oleh petugas travel, agar yang dimahramkan dan mahramnya berdiri berurutan, supaya petugas lebih mudah mengeceknya.

Bapak mertuaku memakai kursi roda, saat turun dari pesawat dan diserahkan petugas Garuda pada suamiku,
Sempat ada keributan kecil antara pencari upah dorong kereta. Mereka berebut mendorong kursi Bapak. Bahasanya Arab banget, aku tak memahami sedikitpun ucapan mereka, mungkin kesimpulannya,,ya... berebut mendorong! ha ha.....

Akhirnya seorang berperawakan kecil, negro, bukan penduduk Arab asli yang mendorongnya. Lumayan ramah orangnya dibanding yang lainnya, maka aku berkeras memilihnya.

Antrian kursi roda didahulukan diperiksa, orang negro itu membawa paspor baapak, suamiku mengikutinya dibelakang, mereka lolos duluan dari antrian panjang. Tinggal kami bertiga menunggu dan berdiri mematung...


Saat menunggu itu, anakku diajak foto bareng satu keluarga, entah dari travel mana, aku tidak mengingatnya, katanya wajahnya mirip cucunya di tanah air.

"Kok aku jadi terkenal disini Ma....?" katanya kege-eran...

Kucium keningnya,
Alhamdulillah sejauh ini dia tak nampak lelah.....

Hampir sejam lamanya proses mengantri pemeriksaan itu, para petugas malah asik mengobrol, minum teh atau kopi, padahal kami semua sudah kelelahan berdiri mengantri.

Setelah selesai, kami berjalan keluar gerbang pemeriksaan, masih tak tau arah....namun lumayan, kami bertemu dengan beberapa jama'ah Tazkia yang lain.


Setelah ratusan meter, kami dicegat petugas yang meneriakkan kata "Tazkia!...Tazkia!"...
Kami menurut saja menuju arah yang ditunjukkan orang-orang itu. Wajah-wajah kami terlihat dungu, tak faham apa yang mereka katakan.

Sempat menggerutu juga sih, menanyakan pembimbing yang seharusnya memandu kami, rupanya mereka masih disibukkan dengan bagasi yang jumlahnya banyak sekali.

Kami digiring di tempat menunggu, berisi bangku bangku.
Ada beberapa orang Arab yang menawari sesuatu, aku nggak tahu maksudnya. sepertinya menawari taksi...kayaknya sih...he he..

Ada juga yang menawari no perdana Arab, aku tahu karena mereka menunjukkan kartu perdananya..^-^
Aku sudah membelinya sebiji pada Bu Ismet sewaktu di Bandara Soeta.


Tiba-tiba ada seseorang berwajah arab menyapa kami dengan ramah, "Mau umroh Pak?"

"Iya...anda orang mana?" serasa menemukan dewa penolong pagi itu.

"Saya lama tinggal di Indonesia, saya pakai bahasa Indonesia", jawabnya dengan ramah.

Kesempatan itu kupakai untuk menanyakan beberapa kata yang sulit kucerna sepanjang perjalanan di lorong bandara tadi.
Aku membawa buku praktis percakapan bahasa Arab, namun karena dialeknya terlalu cepat dan kedengarannya juga tidak sama persis.

"Mau tanya, tadi orang-orang itu ngomong apa sih? artinya dalam bahasa Indonesia, maksudku?"

Jawabannya membuatku tertawa,

"Saya tidak bisa bahasa Arab!", sambil tersenyum dia menambahkan,
"Saya keturunan Arab tapi sama sekali tidak bisa bahasa Arab"

Negro yang tadinya hanya diam, ikut-ikutan menimbrung dengan mengatakan sesuatu, lebih mirip bahasa Inggris, aku menyapanya dengan bahasaku yang juga payah, "Can you speak in English?"

Dia menggeleng,bukannya dia menjawab 'tidak bisa', namun lebih mengisyaratkan dia tak mengerti apa yang baru saja aku katakan.

Waduuuh....^-^

Akhirnya kami hanya mengandalkan bahasa isyarat.

Tak berapa lama bagasi kami muncul didorong oleh banyak petugas.
Dipandu seorang pembimbing dan seorang warga Indonesia yang tinggal di Arab, belakangan aku tahu, mereka (karena nanti juga muncul beberapa orang menyambut kedatangan kami) adalah pegawai Tazkia yang melayani jama'ah selama di Arab.

Kami harus memeriksa satu  persatu barang bawaan, mumpung masih di bandara, siapa tahu masih ada yang belum keangkut.



Setelah selesai, kami berjalan jauh kembali menuju luar bandara, dimana bis kami menunggu. Terseok-seok semuanya berjalan kelelahan, tua, dewasa dan anak-anaknya, kami saling memberi semangat...

"Ayo Pak...Ayo Bu...!..." ^-^...

Mereka tampak senang, kami sudah sampai ditempat tujuan, negara yang kami impi-impikan.

Aku menyebutnya sebagai negara tujuan pertama jika aku berkesempatan keluar negri, akhirnya mimpiku terwujud hari ini, dipagi buta ini.

Tak ada alasan lagi untuk tidak bersemangat!


Kami akhirnya menemukan BUS 1, petunjuk yang tertera di kartu ID yang setia melingkar di leherku. Rombongan kami terbagi menjadi dua bus, aku sekeluarga menempati bus 1.

Perjalanan dari bandara menuju Madinah ternyata cukup jauh, memerlukan waktu 5 jam !
Kami dipersilahkan melanjutkan istirahat, namun sebelumnya kami sudah disodori sekotak nasi berjudul Rumah Makan Sate. Hiks..isinya ayam panggang! lumayan...ala Indonesia, bumbunya juga benar bumbu Indonesia, hanya saja posrinya ala Arab...melimpah!.
Padahal sejam sebelum turun pesawat kami sudah disuguhi makan dini hari...^-^

Aku memilih melanjutkan tidur, toh perjalanan masih panjang menuju kota Madinah.

Didalam bis muncul anak-anak muda, mereka yang kusebut pagawai Tazkia di Arab Saudi, mereka kebanyakan para mahasiswa yang menyelesaikan kuliahnya sambil bekerja, mereka memperkenalkan diri sebagai para Muthowif, Ust Riyan, Ust Azzim dan dua orang lagi di bus ke 2.

Samar-samar mereka menjelaskan beberapa hal yang tak jelas, maklum aku sedang setengah sadar melanjutkan mimpiku.

Yang kuingat bis sempat diberhentikan petugas, mereka memeriksa bagasi, lumayan lama prosesnya, setiap tas bawaan digeledah satu persatu.
Aku tertidur kembali setelah itu.......zzzzzzz, rupanya anakku juga terlelap disampingku.

Tidur dulu yach....

MENJELANG HARI 'H'

Wisata Hati ------------> part 1

Selasa, 20 April 2011

Baru semalam suamiku pulang dari Lampung tempat kerjanya.
Pulang dengan masih membawa beban pekerjaan, beban beberapa kasus yang menandakan ketidak relaan si bos akan cuti panjangnya.
Ancaman PHK, tanpa gaji bulan ini sampai mengembalikan semua aset yang menempel darinya, mulai laptop sampai sekedar simcard simpatinya.
Beruntung mobil masih bisa dibawa pulang, namun harus dititipkan di kantor jika kami berangkat.
Semua terlewati dengan imbalan kesabaran, harus bisa berangkat apapun resikonya, itu motto hari itu.

Alhamdulillah sampai juga suamiku dihadapanku, kulihat wajah lelahnya, "Yang sabar ya Yah...semoga Allah memberi hikmah atas keruwetan ini'.

Batukku, batuk suamiku seminggu ini belum juga hilang, suhu badan mendadak naik, berikut tensi darahku, 150/110. Aku terpaksa menghadap dokter umum, minimal ada obat yang bisa meredakan batuk dan menurunkan tekanan darahku.

Stress dan panik!,
Obat, satu-satunya alasan yang bisa menenteramkan hati, bagaimana tidak?, jika kupaksakan berfikir, itu adalah sesuatu yang tidak beres dalam tubuhku, aku akan bertambah panik.
Bismillah...semoga ada lagi hikmahnya.

Hanya anakku yang kondisinya fit saat itu, Bapak dan Ibu mertuaku juga lumayan sehat sepertinya. Mereka belum kerumahku, masih menginap di Depok tempat kakak ipar.
Kabarnya juga, besok pagi mereka malah merencanakan berjalan-jalan di TMII bersama cucu-cucunya.
Semoga mereka bisa menjaga kesehatan, itu harapanku.

Suamiku datang dengan membawa banyak baju-baju koko putih untuk kami dan bapak ibunya, alhasil, harus kucuci dulu hari ini. Hanya tinggal membilas ringan dengan air sabun, menghilangkan sisa pengawet kain yang menempel.
Bau chinanya (istilah bau baju baru) juga harus dihilangkan.

Sisa waktu hari ini, kusempatkan ke ITC membeli beberapa kekurangan perlengkapan yang mesti kubawa, payung, sandal, sajadah dan topi joshua, berjaga-jaga terhadap perubahan drastis iklim di sana.
Info kuperoleh dari teman-temanku, katanya disana panas terik atau malah dingin menusuk tulang.
Semua kutampung dan kupersiapkan matang.


Rabo, 20 April 201

Agendanya hari ini menunggu Mul (khadimat sewaanku) setrika dan mengepack baju-baju bawaan dalam koper.

Koper bawaan dari travel ada 5 bh, untukku, suami dan anakku., juga bapak/ibu mertuaku.
Urusan bapak/ibu mertua kuserahkan pada ke 4 anaknya yang akan datang esok hari.
Biarlah tenagaku kufokuskan untuk bawaanku sekeluarga dulu, hitung-hitung menghemat tenaga untuk esok keberangkatan juga, toh ipar-iparku besok datang ke rumah kok.

Tas bawaanku beranak dua, jadi total ada 5 koper yang kubawa esok, wuih...banyak nian...!
Entahlah...kenapa segitu banyak bawaanku?, padahal punya bapak/ibu mertuaku hanya beranak satu, tiga koper jadinya,plus tas dari travel untuk bawaan cabin.

Kuteliti lagi, kenapa segitu banyak bawaanku?, namun tetap semua yang sudah kutata memang diperlukan.
Akhirnya...sudahlah...kubiarkan berat bawaanku, toh langsung masuk bagasi dan langsung sampai didepan kamar hotel, tanpa susah-susah menenteng keluar bandara.
Pihak travel sudah melayani semaksimal mungkin memudahkan jama'ah.
Sampai sore, acaraku packing baru kelar.
Alhamdulillah....tinggal sedikit-sedikit barang yang menyusul jika tiba-tiba teringat masih kurang.

Sore itu giliran mobil harus sudah dibawa ke proyek, lumayan jauh di Jakarta Pusat.
Kasihan juga melihat suami berangkat sendirian kesana. Aku mesti merapikan rumah sebab esok hari rombongan kakak iparku dan mertuaku datang.
Semua bawaanku harus rapi dulu, jika tidak, bakalan heboh dan semrawut pastinya.

Jam 22.00 suami baru sampai kembali kerumah, macet itu penyebabnya, maklum banget dengan Jakarta.
Batuknya masih membandel, begitu pula dengan batukku.
Bukannya langsung istirahat tidur, dia malah merampungkan tugasnya.
Si bos mengharuskan meng-email sejumlah data esok paginya.
Astaghfirullah....
Semoga Allah memberi kesabaran berlebih pada kami...


Kamis, 21 April 2011
 
Benar juga, begitu rombongan kakakku datang, riuh sudah seisi rumah, mungkin kalo sempat kuukur lagi tensiku, dia naik kayaknya...^-^

Karakter mereka berbeda denganku, heboh dan banyak rencana...
Duuh, aku jadi pura-pura sibuk dengan bawaanku yang sudah beres, daripada tambah heboh dan capek sendiri!. Biarlah mereka membereskan bawaan bapak/ibu mertuaku.
Aku mendengar dan menyimak saja...banyak pesan-pesan yang mesti kucatat harusnya, namun aku hanya meng-iyakan saja. "Apa kata nantilah..." pikirku.

Usai makan siang yang kubeli di warung belakang rumah, kami berangkat beriringan, kami menyewa taksi.
Mobil taruna mereka tak muat untuk 8 buah koper, 4 anak-anak dan 8 orang dewasa.

Tepat jam 12.45 kami meluncur menuju Bandara Soekarno Hatta.
Airport Hotel tujuan kami, seluruh rombongan Tazkia Travel berkumpul disitu. Rute kami terminal II E.

Berulangkali Bu Ismet ( pegawai travel ) memperingatkanku akan banyak hal, beliau khawatir karena tak satupun rombongan kecil kami ikut manasik, dikhawatirkan kami kebingungan dengan banyaknya agenda yang dipersiapkan pihak travel.
Dengan sopan dan merendah, kuyakinkan pada beliau, bahwa Insya Allah kami siap, dan kami akan berusaha menoleh kekanan dan kekiri teman-teman yang sudah mengikuti manasik.

Sampai di Airport Hotel, ada kehebohan kecil, saudara-saudara iparku protes dengan bawaan kami yang segitu banyaknya, apalagi kondisinya, bapak mertuaku pakai kursi roda, suamiku praktis yang mengurusnya. Ibu, mesti digandeng dan dituntun juga, praktis itu adalah tugasku.
Terus barang-barang??, anakku ??

Mereka ada benarnya, akhirnya mereka membongkar muatan koper-koper ditempat itu juga, menyisakan 2 koper kosong.
Aku menyarankan koper-koper itu tetap dibawa walaupun kosong dan langsung masuk bagasi. Bawaan di cabin cukup 3 buah koper saja.

Planingku, suamiku tetap fokus ke Bapak dan kursi rodanya, aku menuntun Ibu dengan masing-masing menenteng koper beroda satu-satu, dan anakku membawa kopernya sendiri.
Tentu saja planing itu berlaku setelah para iparku pergi, *-*
Bismillah....semua sehat kok...dan ini masih di Indonesia, kondisi di negara Arab katanya  lebih kejam lagi...

Menjelang beragkat terjadi peristiwa lucu, sewaktu naik eskalator, Bapak yang dituntun Suami dan Kakak iparku sempat melorot celananya, hwaaaa......ternyata Bapak tidak memakai ikat pinggang!, alasannya karena sudah memakai korset. Akhirnya Kakak iparku merelakan ikat pinggangnya dipakai Bapak. ada-ada saja...

Sebuah peringatan kecil, beliau masih dituntun dua orang anaknya, padahal selama umroh praktis yang menuntun  hanya suamiku.

Ada selentingan kecil yang menggoreskan 'sesuatu' di hatiku, saat Kakak iparku mengucapkan kata-kata,
" Jangan marah jika nanti Suamimu hanya mengurusi Bapak!".

Seharusnya dia tak mengurangi ikhlasku secuilpun dengan kata-katanya, aku hanya ber istighfar dan berusaha tak merubah mimik lelahku.

Ada jamuan hotel yang melegakan, koktail, juice, buah dan masakan lezat, opor dan rendang..kulahap semampu perutku menerimanya, mumpung masih berbau Indonesia, itu pikirku.
Halaaah, lapar dan mumpung sih, alasannya....^-^


Ada ceramah singkat berikut pembekalan situasi Makkah dan Madinah oleh Ust Antonio Safe'i pemilik PT. Tauba Zakka Atkia ( Tazkia Tour and Travel ), tentang cuaca, keadaan alam dan penduduk Makkah dan Madinah.

Point pentingnya adalah, penduduk di sana menjengkelkan dan kadang seenaknya sendiri. Apalagi saat cek keimigrasian di Bandara.

Paspor dibagikan setelah itu.

Ada nenek yang sudah lemah tertidur saat ceramah pembekalan, dia bersama seorang cucu laki-lakinya yang menemaninya berangkat umroh. Subhanallah...semangatnya untuk ibadah tak lekang oleh usia.

Setelah asar, kami berpisah dengan pengantar, rombongan berangkat menuju ruang check in dan ruang tunggu.

Pesawat yang kami tumpangi adalah GA 982  jam 18.45 WIB, sampai Jeddah jam 00.15 WSA
Kami menyempatkan maghrib dulu di ruang tunggu, sementara musholla mungil bandara penuh sesak dengan jamaah umroh yang kebetulan jadwal keberangkatannya sama dengan kami. Kubaca ada Talbiya,Fathimah Zahra dll.

Kami berebut tempat duduk di situ, maklum penumpang yang antri banyak banget, terpaksa kami selonjoran di lantai, menunggu boarding.




Kubiarkan anakku bermain dengan tas kopernya, sesekali ke toilet, melongok jendela, melihat lalu lalang pesawat dan mondar mandir membelikan minuman untuk kami.
Alhamdulillah ...Allah memberi keceriaan padanya, sehat dan tanpa keluhan.
Bismillah...semoga semangatnya tetap tinggi sampai ibadah selesai.

Delay sekitar setengah jam-an, akhirnya kami bisa boarding, masuk pesawat.
Jalan masuk terbagi menjadi 3 jalur, Suamiku dan Bapak sudah terlanjur duluan memasuki jalur khusus penumpang memakai kursi roda. Tinggal aku, anakku dan Ibu.

Ternyata anakku berbeda jalur dengan aku dan ibu, terpaksa dia sendiri berbaris bersama penumpang lain menenteng kopernya melalui jalurnya.
"Nanti bilang ke mbaknya (pramugari) minta tolong naikin kopernya ya...", nggak tega juga melihatnya. Namun melihatnya pede, aku membiarkannya meninggalkanku yang masih tertegun kasihan....

"Kutitip dia Ya Allah..." pintaku dalam hati...Toh nanti didalam pesawat kami duduk bersebelahan kok...

Aku tiba duluan...kulihat dia meneliti nomer seatnya, wajahnya semringah melihatku sudah duduk di kursiku.

Tempat dudukku terpisah sendiri. Bapak, Ibu, Suami dan anakku duduk dalam deretan tengah berempat. sedang aku, dideretan samping dekat jendela yang terisi 3 seat.
Aku duduk dengan sepasang suami istri yang belakangan kutahu mereka serombongan Tazkia namun berbeda Bus.



Penerbangan dengan pesawat berbadan besar, nyaman juga ternyata. Walaupun perjalanan memakan waktu sampai 9 jam, semua terasa nyaman.
Kami hanya tinggal duduk sambil mengantuk, tiap dua jam ada reservasi mulai sekedar air minum, roti, tisue basah sampai makan malam dan makan pagi.

Duh...rasanya perut belum sampai lapar sudah harus terisi lagi. Sayang kalau nggak dimakan ...^-^
Aroma masakan masih  opor dan rendang, masih pula berasa khas Indonesia, maklum kalau akhirnya ludes semua masuk dalam perut. Halah....

Sempat kepala terasa pegal karena posisi tidur yang monoton, sesekali aku terbangun mengintip anakku dan suami yang duduknya jauh terpisah disebelah...ealaaaah...ternyata mereka juga ngintip aku!...^--^..

Belum selesai jam berputar ke empat kalinya semua sudah saling kangen...

Kadang-kadang anakku berjalan keliling sambil mendekati tempatku, duduk dipangkuanku dan menyandar manja, kemudiaan kembali lagi disisi ayahnya.
Sedangkan si Ayah hanya bisa memandang iri dari tempat duduknya.

Perjalanan yang mengasikkan.... sudah terasa dari awal keberangkatan kami.
Sungguh, sebuah  wisata hati yang berharap limpahan pahala, banyak yang igin kupintakan kelak untuk mereka, belahan jiwa dan hatiku.

Senyum dan semangat mereka menemaniku menghabiskan jam-jam penerbanagan sampai tak terasa sudah mendekati tujuan.
Alhamdulillah...tepat jam 00.30 an, pesawat mendarat dengan selamat di bandara King Abdul Aziz Jeddah.

"Ya Allah....berilah kenyamanan dan kebaikan di negara tujuan kami ini, orang-orangnya dan apa-apa yang ada didalamnya, hindarkan dan lindungi kami dari keburukan negara ini, orang-orangnya dan apa-apa yang ada di dalamnya......"

Kulepas sabuk pengaman, kukemas barang bawaan, aku berdiri mengantri keluar dari dalam pesawat....

Bismillah..
Labbaik Allahumma Labbaikk....

BUKU PERTAMA


Alhamdulillah.... hari ini mendapat pesan istimewa, bukuku antologi DEAR LOVE terbit dan siap edar. Walaupun bukan buku Solo, ini adalah buku pertama yang aku punya.
Harus mendapat tempat istimewa di hati.
But, .....ternyata ...."No Royalti..!!."
Hiks... jadi terharu biru.....hwaaaaa...begini ya rasanya kerja ??

Campur aduk akhirnya rasa hatiku, senang karena aku berhasil menorehkan karya menjadi sebuah buku, senang karena aku mendapatkan hadiah sepulang umrohku...
Syukur tentunya ku gemakan dalam setiap hela nafas, aku menerima kado indah-Nya.
Menjadi pelecut semangatku tentunya, aku harus bisa lebih baik lagi, itu tekadku.

Di sisi lain,tanpa mengurangi kebahagiaan itu, "No Royalti" juga mengusikku
Balada penulis pemula.... mungkin itu yang ada di benak rekan penulis senior,huuuuh...aku gemes ke kalian!!
Makanya aku sempat membaca salah satu temanku berujar, "aku kapok ikut2an lomba!"
He he...mungkin ini salah satu alasannya.
Aku mendapatkan discount 10% pembelian, ditambah bonus 10% lagi jika pre order sebelum tanggal 17 Mei..Ongkir?? teteeeep... duh...
Pengalaman adalah guru yang paling berharga, itu alasan yang membuatku tambah bersyukur. Bukankah aku kemarin bersujud lama di depan Ka'bah berharap agar otakku diberi kelebihan kecerdasan lagi??
Inilah tambahan dari Illahi....

Tapi sungguh..... kenikmatan berhasil menorehkan karya melebihi ada tidaknya royalti itu, biarlah... ini proses belajar...
Semoga kehadiran buku ini dan baladanya membuatku lebih siap terjun didunia baruku...

Bismillah....dengan ini dipersilahkan order buku ke penerbitnya ya.....^.^