Sudah lama sebenarnya mengetahui kalau KK yang kami punya sudah tidak berlaku, KK yg ada terbitan kecamatan, sementara yang diakui adalah terbitan Dukcapil.
Karena kesibukan, jadi terlupakan.
Setelah dokumen diperiksa Depag barulah teringat kalau KK yang kami punya harus segera diperbaharui.
Semua pelayanan Dukcapil Tangerang Selatan sekarang melalui sistem online, kami harus mendaftar secara online terlebih dulu untuk mendapatkan antrian penggantian KK.
Ada kuota pelayanan yang disediakan, jadi jika mendaftar sekarang belum tentu mendapat antrian saat itu ataupun sehari dua hari kedepan. Tergantung jumlah pendatang dan kuota hari itu.
Pendaftaran online terbilang mudah, tinggal kita mengisi nomer identitas, nomer KK, keperluan datang dan selanjutnya kita mengisi form data dan kelengkapan berkas yang diperlukan.
Pada hari yang sudah tercatat daftar antrian kami datang langsung ke kantor Dukcapil.
Tempatnya nyaman banget, full AC, meja petugas berjajar rapi serta tempat tunggu antriannyapun nyaman, bersih dan tersedia area bermain anak yang lumayan luas.
Hmm...menunggu berjam jam disini tak akan terasa capek.
Free wifi, di depan, kanan, kiri terpampang slogan slogan menyejukkan dan semua pegawainya murah senyum dan ramah.
Nyata, sentuhan wanita dari pemimpin cantik Ibu Airin, salut....
Nomer antrian kami 93, kurang lebih hampir sejam kami menunggu, setelah menghadap petugas dan menyerahkan berkas kami disuruh mengambil KK baru di jam 14.00
Cepet kan ???
Dan memang benar, jam 14.00 KK kluaran Dukcapil kami sudah beres.
Alhamdulillah...
Oiya, aku juga diharuskan membuat surat keterangan kepanjangan nama, nama yang tertera di KTP dan KK berbeda. Daripada nanti menjadi masalah sewaktu pembuatan paspor, maka aku siapkan surat keterangan ini.
Caranya mudah banget, tinggal minta antrian offline aja ke petugas, antrian konsultasi.
Tak membutuhkan waktu lama, surat keterangan sudah jadi, surat dibuat berdasarkan KK yang sudah kami revisi.
Jadi masuk keruang konsultasinya setelah KK jadi ya..
Jumat, 17 Januari 2020
Kamis, 16 Januari 2020
HALU - ANTARA AKU DAN KAMU
Bahwa aku menikmati semua perjalanan ini
Jangan ditanya apa yang membuatku nikmat
Kalaupun terpaksa kau tanyakan
Lihatlah...tak benar yakin itu jawabku
Cukuplah dengan do'a aku ungkapkan sejujurnya.
Saat aku terduduk diam
Dalam marah
Melihatmu melepas pandanganmu dariku
Padahal
kau belum lepaskan genggamanmu
Kau ingat ingat
Pintaku hanya satu
Jangan pernah kau lepaskan tanganmu
Cuma sesaat
Taukah kamu
Aku sudah merasa
Kau acuhkan
Aku terdiam
Dalam khusuk aku meminta
Aku tak pedulikan
Aku hanya ingin
Menggenggamu juga dalam damai
Percayalah..
Jangan ditanya apa yang membuatku nikmat
Kalaupun terpaksa kau tanyakan
Lihatlah...tak benar yakin itu jawabku
Cukuplah dengan do'a aku ungkapkan sejujurnya.
Saat aku terduduk diam
Dalam marah
Melihatmu melepas pandanganmu dariku
Padahal
kau belum lepaskan genggamanmu
Kau ingat ingat
Pintaku hanya satu
Jangan pernah kau lepaskan tanganmu
Cuma sesaat
Taukah kamu
Aku sudah merasa
Kau acuhkan
Aku terdiam
Dalam khusuk aku meminta
Aku tak pedulikan
Aku hanya ingin
Menggenggamu juga dalam damai
Percayalah..
MCU
Agenda hari ini adalah mendapatkan surat keterangan kesanggupan berangkat haji, isthatho'ah namanya.
Surat isthithaah dikeluarkan oleh puskesmas setempat, sebenarnya yang lebih berhak adalah puskesmas tempat asal daftar, namun setelah kami berkonsultasi via telephon dengan kepala sie haji Sidoarjo, Bapak Rokhmat Nasrudin, kami diperkenankan melengkapi berkas-berkas pendukung di Tangerang saja, tanpa harus datang untuk verifikasi data ke Sidoarjo.
Nomer ini aku dapatkan dari pencarian link ke depag sidoarjo melalui eks teman IMM.
Masha Allah, Semoga Allah merahmati kalian...aamiin...
Hal yang langsung jadi fokusku adalah berapa biaya yang dibutuhkan untuk check laboratorium? Hiks... wajarlah, daripada nantinya kejebak situasi yang mengharu biru, ha ha ha..
Daripada terus tanda tanya, kami memulai perjalanan ini dengan daftar antriaan puskesmas, tujuannya meminta rujukan dokter untuk chek lab.
Datang dari jam 08.00 pagi, berempat kami ke puskesmas, beruntung ada si Kakak, jadi si adik masih ada teman biar tidak terlalu bosan.
Allah mengirimnya untuk kami...
Baru pertama kalinya menginjakkan kaki ke puskesmas, ternyata antriannya lumayan panjang, namun suasananya masih enak, bersih dan rapi, antrian ke 1097 dan 1098 sepertinya baik baik saja kami lalui sampai jam 14.00 an...
Bertemu dengan mbak dokter umum, lumayan ramah dan kooperatif, tensiku normal, suamiku juga, alhamdulillah.
Setelah memberi surat rujukan ke laboratorium, kami diberi 2 pilihan, boleh test darah ke lab puskesmas atau ke lab swasta lain. Hanya saja fasilitas puskesmas kurang lengkap, jadi tetap ada beberapa test yang harus dilakukan mandiri di swasta atau RSU.
Untuk keperluan tadi ternyata tak sepeserpun dibebabankan biaya, termasuk test darah, gratis tis...
Padahal setelah ku check harga, MCU keperluan haji di prodia menghabiskan biaya sekitar 1,6 juta perorang, di biomedika sekitar 1,3 juta/orang.
Di RSU tangerang sekitar separohnya, 650 an ribu/orang, lumayan kannn???
Karena alasan tidak mau disuntik dua kali, aku memilih menjalani MCU di RSU tangerang, sedang suamiku sebagian di puskesmas yang gratis dan sisanya di ambil darah lagi di RSU tangerang.
Berangkat dari jam 07.30 dari rumah setelah mengantar adik sekolah.
Kondisi kami sedang puasa minimal 10 sampai 12 jam, ini kudapat setelah tanya ke laboratorium, apa yang harus dipersiapkan sebelum menjalani MCU, tidak sedang haid, tidak beraktifitas berat sebelumnya dan harus puasa minimal 10 jam sampai 12 jam.
Sampai di RSU suasana sudah penuh sesak, namun masih oke lah, bersih, rapi dan nyaman.
Kami bertanya ke petugas, dimana letak laboratorium, ternyata ada dilantai 5.
Sampai lantai 5 kami serahkan rujukan dari puskesmas kemarin, tidak mau terjebak lagi dalam ketidak pastian, kutanyakan lagi kebutuhan biayanya, ternyata di angka 400 an ribu untuk test darah lengkap.
Prosedurnya adalah, check harga dilantai 5 kemudian bayar di kasir dilantai 1, barulah diambil darahnya. hasil bisa diambil dua jam kemudian.
Oiya, untuk test darah PP aku harus test lagi dua jam setelah makan.
artinya pengambilan hasil sejam an setelah aku jalani test yang kedua.
Setelah selesai ambil darah, kami menuju laboratorium radiologi untuk foto thorak dan EKG, radiologi ada di lantai 1sedang EKG ada dilantai 4.
Ternyata kami harus mendapatkan ijin dulu dari prodi MCU, harus membawa rujukan dari dokter MCU. Prodi MCU ada di lantai 4.
Untuk bisa konsultasi dokter, kami harus mendaftar terlebih dulu untuk mendapatkan kartu pasien, setelah itu membayar biaya untuk kartu pasien dan konsultasi dokter.
Kemudian kami ke lantai 4 sekalian minta rujukan bisa foto thorak dan EKG.
Biaya semuanya hanya sekitar 200 ribuan
Prosedurnya adalah, konsultasi ke dokter MCU lantai 4, membawa rujukan ke ruang radiologi, dicheck harga dilantai 1, bayar dikasir lantai 1dan menunggu antrian foto yang ternyata lumayan banyak.
Kami memutuskan makan terlebih dahulu, dari puasa semalam belum ada kesempatan berbuka nasi, sekitar jam 11.00.
Soto daging di kantin belakang RSU lumayan enak dan murah lho..dagingnya banyak dan kuahnyapun sedap, sampai sampai kepikiran untuk bawa pulang ke rumah. hi hi
Berhitung dengan efektifitas waktu, perhitungan naik turun tangga dan melihat porsi antrian, akhirnya kami putuskan menjalani EKG dulu dilantai 4, setelah itu antri untuk test darah yang ke dua dilantai 5, barulah ambil foto rontgen dilantai 1, kemudian ambil test darah kembali dilantai 5.
Hasil kesemua test lab kami ambil keesokan harinya, kemudian kami serahkan ke petugas di puskesmas bagian haji, mbak Ghea.
Kesimpulan akan diberikan dokter umum setelah dipastikan test kesehatan kami memenuhi ketentuan sehat dan layak berhaji.
Bismillah...harus dijaga, karena ternyata kolesterol kami lumayan tinggi.
Dibekali obat penurun kolesterol selama satu bulan, kami diwajibkan menjalani test kedua sebulan kemudian.
Masha Allah... sebegitu riweh kalo dibayangkan, namun alhamdulillah, kami enjoy menjalani semua, anggap saja latihan sabar dan latihan pernafasan. he he...
Beberapa dokumen yang harus dipersiapkan untuk puskesmas adalah :
- 1 lbr FC Setoran awal BPIH
- 1 lbr FC KTP dan BPJS jika punya
- 3 lbr Pas foto 4x6
- 5 lbr Pas foto 3x4
- 1 lbr materai 6000 untuk jamaah laki2/
- 2 lbr materai 6000 untuk jamaah perempuan
- FC hasil MCU dan hasil konsultasi dokter.
Cemungud...
Surat isthithaah dikeluarkan oleh puskesmas setempat, sebenarnya yang lebih berhak adalah puskesmas tempat asal daftar, namun setelah kami berkonsultasi via telephon dengan kepala sie haji Sidoarjo, Bapak Rokhmat Nasrudin, kami diperkenankan melengkapi berkas-berkas pendukung di Tangerang saja, tanpa harus datang untuk verifikasi data ke Sidoarjo.
Nomer ini aku dapatkan dari pencarian link ke depag sidoarjo melalui eks teman IMM.
Masha Allah, Semoga Allah merahmati kalian...aamiin...
Hal yang langsung jadi fokusku adalah berapa biaya yang dibutuhkan untuk check laboratorium? Hiks... wajarlah, daripada nantinya kejebak situasi yang mengharu biru, ha ha ha..
Daripada terus tanda tanya, kami memulai perjalanan ini dengan daftar antriaan puskesmas, tujuannya meminta rujukan dokter untuk chek lab.
Datang dari jam 08.00 pagi, berempat kami ke puskesmas, beruntung ada si Kakak, jadi si adik masih ada teman biar tidak terlalu bosan.
Allah mengirimnya untuk kami...
Baru pertama kalinya menginjakkan kaki ke puskesmas, ternyata antriannya lumayan panjang, namun suasananya masih enak, bersih dan rapi, antrian ke 1097 dan 1098 sepertinya baik baik saja kami lalui sampai jam 14.00 an...
Bertemu dengan mbak dokter umum, lumayan ramah dan kooperatif, tensiku normal, suamiku juga, alhamdulillah.
Setelah memberi surat rujukan ke laboratorium, kami diberi 2 pilihan, boleh test darah ke lab puskesmas atau ke lab swasta lain. Hanya saja fasilitas puskesmas kurang lengkap, jadi tetap ada beberapa test yang harus dilakukan mandiri di swasta atau RSU.
Untuk keperluan tadi ternyata tak sepeserpun dibebabankan biaya, termasuk test darah, gratis tis...
Padahal setelah ku check harga, MCU keperluan haji di prodia menghabiskan biaya sekitar 1,6 juta perorang, di biomedika sekitar 1,3 juta/orang.
Di RSU tangerang sekitar separohnya, 650 an ribu/orang, lumayan kannn???
Karena alasan tidak mau disuntik dua kali, aku memilih menjalani MCU di RSU tangerang, sedang suamiku sebagian di puskesmas yang gratis dan sisanya di ambil darah lagi di RSU tangerang.
Berangkat dari jam 07.30 dari rumah setelah mengantar adik sekolah.
Kondisi kami sedang puasa minimal 10 sampai 12 jam, ini kudapat setelah tanya ke laboratorium, apa yang harus dipersiapkan sebelum menjalani MCU, tidak sedang haid, tidak beraktifitas berat sebelumnya dan harus puasa minimal 10 jam sampai 12 jam.
Sampai di RSU suasana sudah penuh sesak, namun masih oke lah, bersih, rapi dan nyaman.
Kami bertanya ke petugas, dimana letak laboratorium, ternyata ada dilantai 5.
Sampai lantai 5 kami serahkan rujukan dari puskesmas kemarin, tidak mau terjebak lagi dalam ketidak pastian, kutanyakan lagi kebutuhan biayanya, ternyata di angka 400 an ribu untuk test darah lengkap.
Prosedurnya adalah, check harga dilantai 5 kemudian bayar di kasir dilantai 1, barulah diambil darahnya. hasil bisa diambil dua jam kemudian.
Oiya, untuk test darah PP aku harus test lagi dua jam setelah makan.
artinya pengambilan hasil sejam an setelah aku jalani test yang kedua.
Setelah selesai ambil darah, kami menuju laboratorium radiologi untuk foto thorak dan EKG, radiologi ada di lantai 1sedang EKG ada dilantai 4.
Ternyata kami harus mendapatkan ijin dulu dari prodi MCU, harus membawa rujukan dari dokter MCU. Prodi MCU ada di lantai 4.
Untuk bisa konsultasi dokter, kami harus mendaftar terlebih dulu untuk mendapatkan kartu pasien, setelah itu membayar biaya untuk kartu pasien dan konsultasi dokter.
Kemudian kami ke lantai 4 sekalian minta rujukan bisa foto thorak dan EKG.
Biaya semuanya hanya sekitar 200 ribuan
Prosedurnya adalah, konsultasi ke dokter MCU lantai 4, membawa rujukan ke ruang radiologi, dicheck harga dilantai 1, bayar dikasir lantai 1dan menunggu antrian foto yang ternyata lumayan banyak.
Kami memutuskan makan terlebih dahulu, dari puasa semalam belum ada kesempatan berbuka nasi, sekitar jam 11.00.
Soto daging di kantin belakang RSU lumayan enak dan murah lho..dagingnya banyak dan kuahnyapun sedap, sampai sampai kepikiran untuk bawa pulang ke rumah. hi hi
Berhitung dengan efektifitas waktu, perhitungan naik turun tangga dan melihat porsi antrian, akhirnya kami putuskan menjalani EKG dulu dilantai 4, setelah itu antri untuk test darah yang ke dua dilantai 5, barulah ambil foto rontgen dilantai 1, kemudian ambil test darah kembali dilantai 5.
Hasil kesemua test lab kami ambil keesokan harinya, kemudian kami serahkan ke petugas di puskesmas bagian haji, mbak Ghea.
Kesimpulan akan diberikan dokter umum setelah dipastikan test kesehatan kami memenuhi ketentuan sehat dan layak berhaji.
Bismillah...harus dijaga, karena ternyata kolesterol kami lumayan tinggi.
Dibekali obat penurun kolesterol selama satu bulan, kami diwajibkan menjalani test kedua sebulan kemudian.
Masha Allah... sebegitu riweh kalo dibayangkan, namun alhamdulillah, kami enjoy menjalani semua, anggap saja latihan sabar dan latihan pernafasan. he he...
Beberapa dokumen yang harus dipersiapkan untuk puskesmas adalah :
- 1 lbr FC Setoran awal BPIH
- 1 lbr FC KTP dan BPJS jika punya
- 3 lbr Pas foto 4x6
- 5 lbr Pas foto 3x4
- 1 lbr materai 6000 untuk jamaah laki2/
- 2 lbr materai 6000 untuk jamaah perempuan
- FC hasil MCU dan hasil konsultasi dokter.
Cemungud...
Rabu, 15 Januari 2020
UNDANGAN
Masha Allah...
Alhamdulillah
Allahu Akbar..
Campur aduk rasanya, ditunggu-tunggu dan nyatanya bengong juga mendengarnya...
Bahagia
Bingung..
Tak percaya...tapi nyatanya memang percaya...
Bismillah, sehat itu yang lebih kuharapkan dari semuanya..
Labbaik Allahumma labbaikk....
Terduduk haru juga tangis ...
Allahu Akbar...hanya itu yg bisa kuucapkan mewakili suasana hatiku saat ini...
Satu- satu persiapan kumulai ditengah nol rupiah tabungan.
Yaaa, sudah hampir setahunan ini sebenarnya persiapan sudah kami mulai. Beberapa kali ku cek keberangkatan kami adalah tahun 2021, setahun lagi!
Plannya adalah, keluar dulu dari pekerjaan, karena bagaimanapun berdasarkan pengalaman, persiapan haji setidaknya harus dalam lingkungan kerja yang bisa mensupport kami, perusahaan tempat kerja suami sepertinya jauh dari suasana seperti ini, yang ada antinya kami malah dipersulit.
Selanjutnya kami akan merintis usaha sendiri, dengan modal menjual beberapa aset kami yang ada,.
Sebelum keluar dari kerja kami sudah memulainya, mempersiapkan semua, kami menyisakan sedikit gaji untuk merenov rumah di Sidoarjo, tujuannya agar bisa menghasilkan uang, sementara kami belum ada pemasukan.
Setengah jalan, ternyata sesuatu yang rencananya terjadi, sudah terjadi, suami dihadapkan situasi sulit, pilihannya adalah resign dipercepat.
Alhamdulillah...sebenarnya ini adalah yang kuharapkan, kami bisa memulai usaha secepatnya.
Ternyata tak mudah, nyatanya setelah beberapa bulan tak kunjung juga ada ide memulai usaha, kendalanya adalah dimodal, bagaimana tidak, rumah yang kami persiapkan jadi tumpuan modal belum siap dilelang...
Kami tetap bersabar, bertahan dengan satu proyek tempat tinggal pribadi yang sedang dikerjakan suamiku, alhamdulillah...setidaknya kami tidak kelaparan ..
Sampai saat awal januari kemarin, tiba-tiba nama kami berdua tercantum dalam daftar calon jama'ah haji 2020. Masha Allah...
Sudah kuduga, kami akan berangkat tahun ini, beberapa kejutan sudah kurasakan, seolah kami sedang dibersihkan oleh Allah...
Susah diterjemahkan dengan kata dan tulisan...
Allah Maha Sayang pada kami....
Agenda pertama kami adalah memastikan benar tidaknya nama kami masuk antrian tahun ini, kami bergegas ke depag tangerang selatan, kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah kami.
Kami bertemu dengan P Arif untuk konsultasi rencana kami mutasi dari Sidoarjo ke Tangsel, alasannya karena kami sudah bermukim di Tangsel.
Beberapa prosedur mutasi dijelaskan gamblang oleh beliau, bahwa proses mutasi bisa dilaksanakan setelah pelunasan kekurangan biaya haji.Pelunasan bisa dilakukan jika peserta haji lolos test isthatha'ah kesehatan, artinya kami diwajibkan medikal check up untuk menentukan kesanggupan kesehatan kami berangkat haji, secara mental dan fisik.
Setelah pelunasan, kami harus menyelesaikan perpanjangan paspor, kemudian kami harus mendapat surat keterangan kesanggupan penerimaan jamaah dari depag Tangsel.
Surat surat itulah nantinya yang akan kami bawa untuk proses mutasi.
Bismillah.... Allah yang mengundang kami
Kami pasrah pada ketentuanNya..
Insha Allah terbaik...
Aamiin...
Alhamdulillah
Allahu Akbar..
Campur aduk rasanya, ditunggu-tunggu dan nyatanya bengong juga mendengarnya...
Bahagia
Bingung..
Tak percaya...tapi nyatanya memang percaya...
Bismillah, sehat itu yang lebih kuharapkan dari semuanya..
Labbaik Allahumma labbaikk....
Terduduk haru juga tangis ...
Allahu Akbar...hanya itu yg bisa kuucapkan mewakili suasana hatiku saat ini...
Satu- satu persiapan kumulai ditengah nol rupiah tabungan.
Yaaa, sudah hampir setahunan ini sebenarnya persiapan sudah kami mulai. Beberapa kali ku cek keberangkatan kami adalah tahun 2021, setahun lagi!
Plannya adalah, keluar dulu dari pekerjaan, karena bagaimanapun berdasarkan pengalaman, persiapan haji setidaknya harus dalam lingkungan kerja yang bisa mensupport kami, perusahaan tempat kerja suami sepertinya jauh dari suasana seperti ini, yang ada antinya kami malah dipersulit.
Selanjutnya kami akan merintis usaha sendiri, dengan modal menjual beberapa aset kami yang ada,.
Sebelum keluar dari kerja kami sudah memulainya, mempersiapkan semua, kami menyisakan sedikit gaji untuk merenov rumah di Sidoarjo, tujuannya agar bisa menghasilkan uang, sementara kami belum ada pemasukan.
Setengah jalan, ternyata sesuatu yang rencananya terjadi, sudah terjadi, suami dihadapkan situasi sulit, pilihannya adalah resign dipercepat.
Alhamdulillah...sebenarnya ini adalah yang kuharapkan, kami bisa memulai usaha secepatnya.
Ternyata tak mudah, nyatanya setelah beberapa bulan tak kunjung juga ada ide memulai usaha, kendalanya adalah dimodal, bagaimana tidak, rumah yang kami persiapkan jadi tumpuan modal belum siap dilelang...
Kami tetap bersabar, bertahan dengan satu proyek tempat tinggal pribadi yang sedang dikerjakan suamiku, alhamdulillah...setidaknya kami tidak kelaparan ..
Sampai saat awal januari kemarin, tiba-tiba nama kami berdua tercantum dalam daftar calon jama'ah haji 2020. Masha Allah...
Sudah kuduga, kami akan berangkat tahun ini, beberapa kejutan sudah kurasakan, seolah kami sedang dibersihkan oleh Allah...
Susah diterjemahkan dengan kata dan tulisan...
Allah Maha Sayang pada kami....
Agenda pertama kami adalah memastikan benar tidaknya nama kami masuk antrian tahun ini, kami bergegas ke depag tangerang selatan, kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah kami.
Kami bertemu dengan P Arif untuk konsultasi rencana kami mutasi dari Sidoarjo ke Tangsel, alasannya karena kami sudah bermukim di Tangsel.
Beberapa prosedur mutasi dijelaskan gamblang oleh beliau, bahwa proses mutasi bisa dilaksanakan setelah pelunasan kekurangan biaya haji.Pelunasan bisa dilakukan jika peserta haji lolos test isthatha'ah kesehatan, artinya kami diwajibkan medikal check up untuk menentukan kesanggupan kesehatan kami berangkat haji, secara mental dan fisik.
Setelah pelunasan, kami harus menyelesaikan perpanjangan paspor, kemudian kami harus mendapat surat keterangan kesanggupan penerimaan jamaah dari depag Tangsel.
Surat surat itulah nantinya yang akan kami bawa untuk proses mutasi.
Bismillah.... Allah yang mengundang kami
Kami pasrah pada ketentuanNya..
Insha Allah terbaik...
Aamiin...
Langganan:
Postingan (Atom)